Warga Springfield Diduga Retas Sistem Mahkamah Agung AS Berulang Kali
Courtesy of TechCrunch

Warga Springfield Diduga Retas Sistem Mahkamah Agung AS Berulang Kali

Memberikan informasi tentang dugaan peretasan sistem pengarsipan dokumen Mahkamah Agung AS oleh seorang warga, serta mengulas konteks serangan siber terkini yang menargetkan sistem peradilan AS dan upaya peningkatan keamanan yang dilakukan.

14 Jan 2026, 02.04 WIB
113 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Nicholas Moore dituduh melakukan peretasan terhadap sistem pengarsipan Mahkamah Agung AS.
  • Kasus ini menyoroti masalah keamanan siber yang dihadapi oleh sistem peradilan di AS.
  • Pihak berwenang terus meningkatkan langkah-langkah keamanan untuk melindungi data sensitif dari serangan siber.
Springfield, Amerika Serikat - Nicholas Moore, pria berusia 24 tahun dari Springfield, Tennessee, akan mengaku bersalah atas tuduhan meretas sistem pengarsipan dokumen elektronik Mahkamah Agung Amerika Serikat. Ia dituduh melakukan akses ilegal sebanyak 25 kali dalam beberapa bulan pada 2023.
Proses peretasan ini terjadi antara Agustus hingga Oktober 2023, namun belum ada rincian lebih lanjut mengenai data apa saja yang diakses atau bagaimana caranya dia melakukan tindakan tersebut. Pengacara Moore dan pejabat penuntut belum memberikan komentar lebih lanjut.
Kasus ini ditemukan oleh seorang peneliti bernama Seamus Hughes yang secara rutin memantau dokumen pengadilan. Insiden ini menambah daftar serangan siber lain yang menargetkan sistem pengadilan Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, sistem pengadilan federal mengalami serangan dari peretas yang diduga berasal dari Rusia, yang membuat Administrasi Kantor Pengadilan AS meningkatkan keamanan siber mereka. Upaya ini dilakukan untuk melindungi data dan mencegah serangan-serangan serupa di masa depan.
Kasus ini menjadi perhatian penting karena Mahkamah Agung merupakan otoritas tertinggi dalam sistem hukum AS, sehingga kebocoran datanya dapat berdampak luas. Penguatan keamanan pada sistem penting ini menjadi sebuah keharusan untuk menjaga kepercayaan publik.
Referensi:
[1] https://techcrunch.com/2026/01/13/man-to-plead-guilty-to-hacking-us-supreme-court-filing-system/

Analisis Ahli

Seamus Hughes
"Sebagai pengamat dokumen pengadilan, Seamus menekankan pentingnya pengawasan yang berkelanjutan terhadap sistem peradilan agar insiden serupa dapat dideteksi lebih cepat dan ditindaklanjuti secara efektif."

Analisis Kami

"Peretasan terhadap sistem pengarsipan Mahkamah Agung menunjukkan bahwa lembaga peradilan, yang seharusnya menjadi benteng hukum, masih sangat rentan terhadap serangan siber. Ini juga menandakan perlunya transparansi dan komunikasi yang lebih baik dari pihak berwenang mengenai bagaimana data sensitif dilindungi dan direspons ketika terjadi pelanggaran."

Prediksi Kami

Kasus ini kemungkinan akan meningkatkan perhatian terhadap keamanan sistem peradilan AS dan mendorong penguatan prosedur pengamanan digital untuk mencegah kebocoran data lebih lanjut di masa depan.

Pertanyaan Terkait

Q
Siapa yang dituduh melakukan peretasan terhadap Mahkamah Agung AS?
A
Nicholas Moore dituduh melakukan peretasan terhadap Mahkamah Agung AS.
Q
Apa yang dilakukan Nicholas Moore selama periode Agustus hingga Oktober 2023?
A
Nicholas Moore secara sengaja mengakses komputer tanpa otorisasi pada 25 hari berbeda dan memperoleh informasi dari komputer yang dilindungi.
Q
Siapa pengacara Nicholas Moore?
A
Pengacara Nicholas Moore adalah Eugene Ohm.
Q
Apa yang dilakukan oleh Departemen Kehakiman AS terkait kasus ini?
A
Departemen Kehakiman AS membawa tuntutan terhadap Nicholas Moore atas peretasan yang dilakukan.
Q
Apa yang telah dilakukan oleh Mahkamah Agung untuk meningkatkan keamanan siber setelah serangan sebelumnya?
A
Mahkamah Agung telah memperkuat pertahanan siber mereka setelah serangan siber pada sistem catatan pengadilan elektronik.