Subsidi Turun, Penjualan Mobil Listrik di China Terancam Tersendat Tahun Ini
Courtesy of SCMP

Subsidi Turun, Penjualan Mobil Listrik di China Terancam Tersendat Tahun Ini

Menjelaskan dampak kebijakan subsidi EV terbaru di China yang menurunkan minat pembeli pada kendaraan listrik dan menguntungkan kendaraan berbahan bakar minyak, sekaligus menguraikan tekanan yang dihadapi produsen EV lokal dalam menghadapi perubahan ini.

15 Jan 2026, 19.30 WIB
72 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Subsidi kendaraan listrik di Tiongkok mengalami penurunan yang signifikan.
  • Peralihan dari kendaraan listrik ke kendaraan berbahan bakar petrol diperkirakan akan meningkat.
  • Perusahaan otomotif seperti BYD dan Leapmotor menghadapi tantangan dalam meningkatkan penjualan.
Shanghai, Cina - Di awal tahun ini, penjualan kendaraan listrik di China mengalami tekanan akibat regulasi subsidi yang direvisi. Subsidi yang biasanya diberikan untuk pembelian EV kini berkurang sekitar Rp 19.20 ribu (US$1.150) , sehingga membuat pembeli lebih berhitung dalam mengambil keputusan. Hal ini memengaruhi potensi pertumbuhan pasar mobil listrik yang sebelumnya sangat menjanjikan.
Data dari China Passenger Car Association menunjukkan bahwa hanya 35,7 persen dari total penjualan mobil pada beberapa hari awal tahun ini adalah kendaraan listrik, proporsi ini masih jauh di bawah target 54 persen untuk tahun 2025. Angka ini menjadi indikasi perlambatan minat pembeli terhadap mobil listrik.
Kebijakan baru dari pemerintah memberikan subsidi sebesar 12 persen dari harga mobil listrik, dengan batas maksimal 20.000 yuan atau sekitar Rp 47.90 ribu (US$2.868) , khusus untuk pembelian mobil pengganti kendaraan lama. Subsidi ini lebih rendah dibandingkan sebelumnya, sehingga berdampak pada daya tarik pembelian EV.
Para produsen mobil listrik di China seperti BYD dan Leapmotor, yang terkenal dengan produk harga terjangkau, kini menghadapi tantangan besar. Penurunan subsidi dapat memperburuk masalah profitabilitas dan membuat mereka terdorong untuk mencari strategi baru agar tetap kompetitif di pasar yang mulai bergeser ke kendaraan berbasiskan bahan bakar minyak.
Penjualan kendaraan berbahan bakar minyak diperkirakan akan meningkat karena harga yang lebih kompetitif dan daya beli yang lebih kuat. Hal ini menjadi perhatian para penjual dan produsen yang berharap agar pasar mobil listrik kembali pulih dengan dukungan kebijakan yang lebih memadai.
Referensi:
[1] https://www.scmp.com/business/china-business/article/3340041/chinas-subsidy-change-adds-ev-makers-stress-more-buyers-consider-petrol-cars?module=china_future_tech&pgtype=section

Analisis Ahli

Zhao Zhen
"Tekanan pada merek EV untuk memacu penjualan sangat besar karena pengurangan subsidi membuat harga mobil listrik kurang kompetitif dibandingkan kendaraan konvensional."

Analisis Kami

"Pengurangan subsidi EV tampaknya menjadi langkah kebijakan yang kurang bijaksana untuk pasar yang masih dalam tahap pertumbuhan. Ini dapat memperlambat transisi China menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan dan memberikan keuntungan jangka pendek pada model bisnis kendaraan bermesin minyak yang justru lebih berkontribusi pada polusi dan emisi karbon."

Prediksi Kami

Penjualan kendaraan listrik di China akan tumbuh lebih lambat tahun ini, dan pangsa pasar kendaraan berbahan bakar minyak kemungkinan meningkat, menambah tekanan pada produsen EV lokal untuk berinovasi atau menyesuaikan strategi penjualan mereka.