
Courtesy of Forbes
Transisi Energi Bersih: Mengapa Harga Minyak Stabil di Tengah Geopolitik
Memberikan pemahaman bahwa transisi energi menuju elektrifikasi bersih dan sistem yang tangguh menjadi faktor utama yang membentuk pasar energi global tahun 2026, menggantikan pengaruh tradisional geopolitik dan pasokan minyak semata. Hal ini relevan agar pembuat kebijakan dan pelaku bisnis dapat menyesuaikan strategi mereka sesuai dengan realitas ekonomi, keamanan, dan keberlanjutan energi masa depan.
19 Jan 2026, 16.43 WIB
13 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Transisi dari bahan bakar fosil menuju energi bersih semakin nyata dan dipengaruhi oleh faktor ekonomi.
- Mobilitas listrik, terutama kendaraan listrik, berpotensi mengubah dinamika permintaan minyak secara global.
- Keamanan energi kini lebih berfokus pada ketahanan listrik dan keberlanjutan pasokan energi bersih.
Brasília, Brasil - Dalam beberapa minggu terakhir, harga minyak global tetap stabil di sekitar 60 dolar AS per barel, walaupun ketegangan geopolitik seperti konflik di Iran sempat menimbulkan kenaikan harga sementara. Namun, respon pasar yang cepat mereda menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam lanskap energi dunia, yang kini bergerak menuju elektrifikasi bersih dan sistem energi yang lebih tahan banting.
Perubahan ini terjadi karena kombinasi pasokan yang semakin beragam serta penurunan pertumbuhan permintaan minyak akibat pergeseran penggunaan energi ke teknologi bersih. Contohnya adalah peran rendah Venezuela dalam pasar minyak akibat keterbatasan produksi dan kualitas minyak. Dunia kini bergerak menjauh dari minyak berat yang berkandungan sulfur tinggi dan beralih ke energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Penggunaan kendaraan listrik (EV) tumbuh pesat, khususnya di China yang berhasil menjual 11 juta kendaraan listrik pada 2024. Hal ini telah menghasilkan pengurangan signifikan dalam konsumsi bensin dalam skala jutaan barel per hari. Angka-angka ini diprediksi akan meningkat drastis hingga 2040, sejalan dengan laporan Badan Energi Internasional yang memperkirakan puncak permintaan minyak sekitar 2030 sebelum menurun.
Fokus kebijakan energi juga bergeser dari kebergantungan pada minyak dan geopolitiknya menjadi ketahanan listrik, fleksibilitas jaringan, dan keamanan rantai pasok mineral penting untuk teknologi bersih. Pergolakan energi sekarang lebih ditentukan oleh faktor modern seperti cuaca ekstrem, ancaman siber, dan tekanan infrastruktur daripada oleh kejadian geopolitik tunggal.
Momentum politik dan bisnis yang terlihat di berbagai forum internasional, termasuk COP30 di Brasil, merefleksikan kesepakatan global untuk mempercepat transisi energi bersih. Di tahun 2026, para pemimpin diharapkan menyesuaikan strategi mereka dengan realitas ekonomi dan keamanan energi yang baru, di mana teknologi bersih dan elektrifikasi akan menjadi kunci keberhasilan.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/mariamendiluce/2026/01/19/why-oil-prices-are-telling-us-clean-electrification-and-resilience-are-the-energy-stories-for-2026/
[1] https://www.forbes.com/sites/mariamendiluce/2026/01/19/why-oil-prices-are-telling-us-clean-electrification-and-resilience-are-the-energy-stories-for-2026/
Analisis Ahli
Fatih Birol (Direktur Eksekutif IEA)
"Transisi menuju energi bersih adalah pergeseran fundamental yang akan mengubah permintaan minyak dan memperkuat ketahanan energi global."
Daniel Yergin (Sejarawan energi dan penulis)
"Meskipun geopolitik tetap penting, kekuatan pendorong utama di pasar energi kini adalah teknologi bersih dan perubahan pola konsumsi."
Christiana Figueres (Mantam Kepala UNFCCC)
"Momentum politik dan bisnis untuk energi bersih menunjukkan bahwa masa depan energi adalah tentang keberlanjutan dan ketahanan."
Analisis Kami
"Transisi energi yang sedang berlangsung bukan sekadar tren, melainkan sebuah revolusi struktural yang akan menghancurkan dominasi lama bahan bakar fosil secara bertahap. Pelaku pasar dan pemerintah yang gagal menyesuaikan diri dengan paradigma energi baru ini akan menghadapi risiko besar dalam hal daya saing dan keamanan energi."
Prediksi Kami
Di masa depan, permintaan minyak akan mencapai puncaknya sekitar 2030 dan mulai menurun secara bertahap, sementara energi listrik bersih akan menjadi pembawa energi dominan yang mendorong perubahan signifikan dalam struktur pasar energi global.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang menjadi penyebab utama perubahan harga minyak global saat ini?A
Perubahan harga minyak global saat ini dipengaruhi oleh supply yang terdiversifikasi dan pertumbuhan permintaan yang melemah.Q
Bagaimana transisi energi mempengaruhi permintaan minyak?A
Transisi energi yang bergerak menuju elektrifikasi menyebabkan permintaan untuk minyak, khususnya jenis berat, menjadi lebih lemah.Q
Apa peran kendaraan listrik dalam mengurangi konsumsi bahan bakar fosil?A
Kendaraan listrik berkontribusi signifikan dalam pengurangan konsumsi bahan bakar fosil, dengan jutaan barel minyak yang tergantikan setiap harinya.Q
Mengapa IEA memprediksi puncak permintaan minyak pada tahun 2030?A
IEA memprediksi puncak permintaan minyak pada tahun 2030 karena tren dekarbonisasi dan peningkatan penggunaan energi bersih.Q
Apa saja tantangan yang dihadapi dalam transisi menuju energi bersih?A
Tantangan dalam transisi menuju energi bersih meliputi kemandirian sumber daya, keamanan pasokan, dan risiko sistem akibat perubahan iklim.



