
Courtesy of Forbes
Mengatasi Krisis Kesehatan AS: AI dan Revolusi Penanganan Penyakit Kronis
Mendorong transformasi sistem kesehatan di AS dengan menggunakan teknologi AI untuk mengelola penyakit kronis secara lebih efektif dan mengatasi kekurangan tenaga medis agar biaya kesehatan bisa dikendalikan dan kualitas pelayanan tetap terjaga.
21 Jan 2026, 16.45 WIB
259 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Perawatan kesehatan di AS menghadapi tantangan besar terkait biaya dan kekurangan tenaga medis.
- Pentingnya intervensi dini dalam pengendalian penyakit kronis untuk menghindari krisis kesehatan yang lebih besar.
- AI generatif memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi dalam sistem perawatan kesehatan dan mengatasi kekurangan sumber daya.
Amerika Serikat - Selama 25 tahun terakhir, biaya kesehatan di Amerika Serikat meningkat tajam dari Rp 33.40 quadriliun ($2 triliun) menjadi Rp 88.51 quadriliun ($5,3 triliun) , menyulitkan banyak warga, terutama karena biaya perawatan yang naik lebih cepat daripada upah. Pemerintah dan perusahaan mencoba mengimbangi melalui pengurangan manfaat asuransi dan pembatasan pembayaran, namun ini malah membebani keluarga dan pasien.
Selain tantangan finansial, Amerika Serikat menghadapi epidemi penyakit kronis yang kompleks seperti diabetes, dengan sekitar 194 juta orang dewasa yang mengalami minimal satu penyakit kronis, dan banyak yang memiliki lebih dari satu. Penyakit-penyakit ini berkontribusi besar pada biaya kesehatan yang melonjak setiap tahun.
Mengelola penyakit kronis memerlukan investasi awal yang besar agar komplikasi dan biaya jangka panjang bisa dicegah. Contohnya, perawatan untuk pasien diabetes yang mencapai tahap gagal ginjal membutuhkan biaya sangat tinggi, jauh melebihi manfaat dari pencegahan kasus baru saja. Oleh karena itu, sistem kesehatan perlu fokus pada pengendalian yang efektif.
Kekurangan dokter di AS diperkirakan mencapai 86.000 pada 2036, yang semakin memperberat tantangan dalam menyediakan pelayanan kesehatan berkualitas. Namun, solusi tidak hanya dengan menambah jumlah dokter, melainkan merombak cara pelayanan dengan dukungan teknologi seperti AI untuk menangani manajemen penyakit kronis yang rutin dan membebaskan waktu dokter untuk tugas yang lebih rumit.
Penggunaan generative AI sudah mulai diterapkan di beberapa tempat, seperti pengelolaan resep di Utah dan pelatihan AI oleh perusahaan seperti Mercor. Dengan integrasi AI dan transformasi pendidikan medis yang cepat, AS memiliki peluang untuk mengatasi krisis ini, namun waktu sangat terbatas dan penundaan bisa membuat masalah semakin memburuk secara finansial dan sosial.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/robertpearl/2026/01/21/3-healthcare-threats-that-will-soon-become-too-big-to-solve/
[1] https://www.forbes.com/sites/robertpearl/2026/01/21/3-healthcare-threats-that-will-soon-become-too-big-to-solve/
Analisis Ahli
Atul Gawande
"Pendekatan baru seperti penggunaan AI dalam manajemen penyakit kronis dapat membantu mengurangi beban kerja dokter dan memperbaiki hasil pasien, tapi harus ada reformasi sistemik agar perubahan ini berhasil."
Berwick D.M.
"Krisis biaya kesehatan tidak bisa diatasi hanya dengan inovasi teknis, perlu perubahan budaya dan kebijakan yang mendasari penyelenggaraan layanan kesehatan."
Analisis Kami
"Sistem kesehatan AS saat ini terlalu kaku dan lamban merespons perubahan kebutuhan pasien sehingga biaya terus membengkak tanpa solusi jangka panjang. Integrasi AI dalam manajemen penyakit kronis adalah langkah vital, namun tanpa perubahan pendidikan medis dan kebijakan yang mendukung, teknologi ini tidak akan maksimal."
Prediksi Kami
Jika pemerintah dan sektor kesehatan tidak segera bertindak dengan investasi besar dan transformasi digital, biaya kesehatan di AS akan melewati $7 triliun pada akhir dekade ini, memperburuk kekurangan tenaga medis dan menurunkan kualitas layanan secara signifikan.





