Protein Fluoresen Magnetik: Cara Baru Mengatur Sel Hidup dengan Medan Magnet
Courtesy of NatureMagazine

Protein Fluoresen Magnetik: Cara Baru Mengatur Sel Hidup dengan Medan Magnet

Mengembangkan protein fluoresen yang sensitif terhadap medan magnet sehingga bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan cara memanfaatkan efek kuantum, yang dapat digunakan untuk biosensor jarak jauh dan terapi yang dapat diaktifkan atau dihentikan secara magnetik.

21 Jan 2026, 07.00 WIB
79 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Protein MagLOV memiliki potensi besar untuk aplikasi biosensor dan terapi yang dapat dikontrol secara magnetik.
  • Penelitian ini menunjukkan bagaimana sifat kuantum dapat dimanfaatkan dalam bioteknologi.
  • Penelitian yang dilakukan di Universitas Oxford dapat membuka jalan untuk pemetaan sel dalam jaringan hidup.
San Francisco, Amerika Serikat - Protein fluorescent hijau atau GFP digunakan secara luas untuk melihat aktivitas dalam sel hidup, namun sensitivitasnya terhadap medan magnet sangat kecil dengan peredupan hanya sekitar 1%. Penemuan ini memicu riset untuk membuat protein yang lebih responsif terhadap medan magnet agar bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Peneliti menggunakan mutasi dan rekayasa protein untuk membuat MagLOV, protein fluoresen magnetik yang bisa meredup lebih dari 50% ketika terkena medan magnet. Ini merupakan lompatan besar dibandingkan GFP biasa yang hanya mengalami perubahan kecil.
Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa perubahan fluoresensi ini terjadi karena perubahan sifat elektron dalam protein yang bisa dipengaruhi oleh medan magnet dan gelombang radio, sebuah efek dari mekanika kuantum yang disebut resonansi magnetik.
Dalam eksperimen dengan bakteri E. coli yang mengekspresikan MagLOV, para ilmuwan dapat mengendalikan kecerahan protein dengan medan magnet dari jarak jauh, bahkan mampu memetakan lokasi bakteri di dalam blok silikon berkat variasi medan magnet yang diterapkan.
Dengan MagLOV yang dapat dikodekan melalui gen, peneliti berharap dapat memanfaatkan teknologi ini untuk memantau proses molekuler secara non-invasif dalam tubuh hewan, bahkan manusia, menjanjikan perkembangan biosensor dan terapi yang dapat dikontrol menggunakan medan magnet.
Referensi:
[1] https://nature.com/articles/d41586-026-00204-9

Analisis Ahli

Andrew York
"Mengembangkan protein magnetik dapat merevolusi cara kita memantau dan mengendalikan fungsi biologis secara real time dan non-invasif."
Gabriel Abrahams
"Pemahaman mendalam tentang efek kuantum pada protein membuka pintu bagi teknologi biosensor yang canggih dan aplikasi medis inovatif."

Analisis Kami

"Penemuan MagLOV sangat revolusioner karena menggabungkan prinsip-prinsip fisika kuantum dengan biologi molekuler untuk menciptakan kontrol jarak jauh protein secara non-invasif, yang sebelumnya sulit dicapai dengan metode konvensional. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan kestabilan dan efektivitas aplikasi ini dalam lingkungan biologis yang kompleks dan dinamis seperti jaringan hewan atau manusia."

Prediksi Kami

Di masa depan, teknologi protein fluoresen yang dikendalikan secara magnetik akan membuka jalan bagi pengembangan biosensor yang dapat dioperasikan dari jarak jauh dalam jaringan hidup dan terapi presisi yang dapat diaktifkan dengan medan magnet tanpa perlu intervensi langsung.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa itu protein MagLOV?
A
MagLOV adalah protein yang dirancang untuk merespons medan magnet dengan mengubah tingkat fluoresensinya.
Q
Bagaimana MagLOV dapat dimanfaatkan dalam penelitian?
A
MagLOV dapat digunakan dalam biosensor dan terapi yang dapat dikontrol dari jarak jauh.
Q
Siapa yang memimpin penelitian tentang protein yang responsif terhadap magnet?
A
Gabriel Abrahams memimpin penelitian tentang protein yang responsif terhadap magnet di Universitas Oxford.
Q
Apa efek yang terjadi pada green fluorescent protein saat berada di dekat magnet?
A
Green fluorescent protein mengalami penurunan kecerahan sekitar 1% saat dekat dengan magnet.
Q
Di mana penelitian tentang protein ini dipublikasikan?
A
Penelitian tentang protein ini dipublikasikan di jurnal Nature.