BMKG Peringatkan Hujan Lebat Hingga Sangat Lebat di Jabodetabek Hingga Akhir Januari
Courtesy of CNBCIndonesia

BMKG Peringatkan Hujan Lebat Hingga Sangat Lebat di Jabodetabek Hingga Akhir Januari

Memberikan informasi dan peringatan dini kepada masyarakat Jabodetabek mengenai potensi hujan lebat hingga sangat lebat dan cuaca ekstrem lainnya sehingga dapat mengambil langkah kewaspadaan.

26 Jan 2026, 11.11 WIB
9 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Jabodetabek berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat hingga beberapa hari ke depan.
  • BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di beberapa daerah.
  • Dua bibit siklon tropis terpantau di Indonesia yang dapat memengaruhi cuaca.
Jakarta, Indonesia - BMKG menginformasikan potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang masih mungkin terjadi di wilayah Jabodetabek selama beberapa hari ke depan, tepatnya dari tanggal 26 hingga 30 Januari 2026. Hal ini penting untuk diketahui agar masyarakat bisa lebih waspada dengan kondisi cuaca yang ekstrem.
Cuaca ekstrem ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah keberadaan bibit siklon tropis 91S yang sedang aktif di Samudra Hindia dan 92P di Teluk Carpentaria. Kedua bibit siklon ini memengaruhi pola angin dan membawa massa udara lembap yang menyebabkan hujan deras.
Selain itu, aktivitas monsun Asia yang semakin kuat serta fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) membuat massa udara lembap lebih cepat melintasi ekuator menuju wilayah selatan Indonesia, sehingga memperberat intensitas hujan di berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini untuk sejumlah wilayah di Jabodetabek, dengan rincian daerah yang berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat serta ancaman angin kencang. Masyarakat dan pemerintah setempat diharapkan bisa mengantisipasi risiko banjir dan gangguan akibat cuaca buruk ini.
Penting bagi warga Jabodetabek untuk selalu mengikuti informasi dan update cuaca dari BMKG secara rutin, serta mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Dengan kewaspadaan yang tepat, dampak negatif dari cuaca ekstrem ini dapat diminimalisir.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260126110815-37-705269/awas-hujan-sangat-lebat-hantam-jabodetabek-bmkg-keluarkan-peringatan

Analisis Ahli

Meteorolog Indonesia
"Kondisi atmosfer yang kompleks saat ini sangat menunjang terjadinya hujan lebat di daerah Jabodetabek, terutama dengan pergerakan bibit siklon dan aktivitas CENS yang membawa banyak massa udara basah."
Ahli Klimatologi
"Penguatan monsun Asia dan CENS merupakan siklus yang wajar tiap tahun, namun dengan adanya bibit siklon tropis, intensitas dan frekuensi hujan di Jabodetabek tahun ini kemungkinan akan lebih tinggi dari biasanya."

Analisis Kami

"Fenomena bibit siklon tropis dan peningkatan aktivitas monsun Asia memang menambah kerentanan Jabodetabek terhadap bencana hidrometeorologi dalam periode ini. Masyarakat perlu tetap mengikuti update BMKG dan mempersiapkan diri dengan cara yang tepat agar dampak buruk dari cuaca ekstrem dapat diminimalisir."

Prediksi Kami

Cuaca ekstrem dengan hujan lebat dan angin kencang diprediksi terus terjadi di Jabodetabek dalam beberapa hari ke depan dan berpotensi menyebabkan banjir serta gangguan aktivitas masyarakat jika tidak diantisipasi dengan baik.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang diperkirakan akan terjadi di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari ke depan?
A
Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi.
Q
Apa saja faktor yang memengaruhi cuaca di Indonesia saat ini?
A
Faktor yang memengaruhi cuaca termasuk Bibit Siklon Tropis 91S, 92P, dan peningkatan aktivitas monsun Asia.
Q
Apa saja jenis siklon tropis yang terpantau di wilayah Indonesia?
A
Bibit Siklon Tropis 91S dan 92P.
Q
Apa peringatan dini yang dikeluarkan BMKG untuk wilayah Jabodetabek?
A
BMKG mengeluarkan peringatan dini tentang potensi hujan lebat hingga sangat lebat dan angin kencang.
Q
Mengapa daerah selatan Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrem?
A
Karena adanya peningkatan aktivitas monsun Asia yang membawa massa udara lembap ke selatan Indonesia.