Tesla Jatuh, Nilai Brand Turun Drastis karena Minim Inovasi dan Kontroversi Elon Musk
Courtesy of CNBCIndonesia

Tesla Jatuh, Nilai Brand Turun Drastis karena Minim Inovasi dan Kontroversi Elon Musk

Memberikan informasi mengenai penurunan nilai brand Tesla yang signifikan pada 2025, faktor-faktor penyebabnya, dan membandingkannya dengan perkembangan brand pesaing di industri otomotif global.

28 Jan 2026, 15.10 WIB
96 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Nilai brand Tesla mengalami penurunan tajam akibat kurangnya inovasi dan harga yang tinggi.
  • Elon Musk yang kontroversial berkontribusi pada penurunan kepercayaan pasar terhadap Tesla.
  • BYD semakin menguat dan menjadi pesaing serius bagi Tesla di industri mobil listrik.
Jakarta, Indonesia - Tesla menghadapi penurunan besar dalam nilai merek pada tahun 2025, dengan penurunan sekitar 35% yang setara dengan Rp 257.18 triliun (US$15,4 miliar) atau Rp257 triliun. Penurunan ini membuat nilai brand mereka saat ini hanya sekitar Rp 461.09 triliun (US$27,61 miliar) atau Rp460 triliun dibandingkan Rp 1.11 quadriliun (US$66,2 miliar) di puncaknya tahun 2023.
Penurunan ini dipicu oleh beberapa faktor utama, termasuk minimnya inovasi untuk model-model baru Tesla dan harga produknya yang dianggap masih relatif tinggi dibandingkan dengan pesaingnya di pasar otomotif. Faktor-faktor ini membuat Tesla kehilangan daya tarik di mata konsumen.
Selain itu, kontroversi yang kerap melibatkan CEO Tesla, Elon Musk, juga turut memberi tekanan besar pada nilai brand. Keterlibatan Musk dalam masalah geopolitik dan fokusnya yang terpecah pada bisnis mobil otomatis dinilai mengganggu kepercayaan pasar dan merusak reputasi perusahaan.
Beberapa produsen mobil global seperti Mercedes-Benz, Volkswagen, Porsche, dan Toyota kini berhasil melampaui nilai brand Tesla. Toyota justru meraih nilai brand tertinggi di industri otomotif pada 2025 dengan nilai sekitar Rp 1.05 quadriliun (US$62,7 miliar) atau Rp1.046 triliun.
Sementara itu, pesaing utama Tesla di segmen mobil listrik, BYD asal China, mengalami peningkatan nilai brand sebesar 23% menjadi sekitar Rp 288.74 triliun (US$17,29 miliar) atau Rp288 triliun, menunjukkan pergeseran kekuatan di industri otomotif global.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260128124537-37-705977/tesla-sekarang-lebih-murah-daripada-toyota-harganya-hancur

Analisis Ahli

David Haigh
"Penurunan nilai brand Tesla disebabkan oleh kurangnya inovasi dan harga yang tidak kompetitif, serta dampak dari kontroversi Elon Musk."
Lorenzo Coruzzi
"Penurunan skor reputasi Tesla yang signifikan di pasar seperti Eropa, Kanada, dan AS terutama berdampak pada kepercayaan dan rekomendasi konsumen."

Analisis Kami

"Penurunan nilai brand Tesla sangat wajar mengingat kurangnya inovasi produk baru yang menarik dan harga yang kurang bersaing membuat konsumen mulai beralih ke merek lain. Selain itu, citra negatif yang dibawa oleh Elon Musk menimbulkan keraguan terhadap kepemimpinan perusahaan, yang secara langsung memengaruhi kepercayaan pasar dan daya tarik merek Tesla."

Prediksi Kami

Jika Tesla tidak segera melakukan inovasi dan memperbaiki citra publik, nilai merek mereka kemungkinan akan terus turun, sementara kompetitor akan semakin dominan di pasar otomotif global.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa penyebab utama penurunan nilai brand Tesla?
A
Penyebab utama penurunan nilai brand Tesla adalah minimnya inovasi untuk model-model baru dan harga jual yang relatif tinggi dibandingkan kompetitornya.
Q
Bagaimana nilai brand Tesla dibandingkan dengan pesaingnya?
A
Nilai brand Tesla saat ini diestimasikan mencapai US$27,61 miliar, sementara pesaing seperti Toyota memiliki nilai brand tertinggi di sektor otomotif dengan US$62,7 miliar.
Q
Siapa yang memimpin perusahaan Tesla?
A
Perusahaan Tesla dipimpin oleh CEO Elon Musk.
Q
Apa yang dilakukan Brand Finance?
A
Brand Finance adalah perusahaan yang menganalisis nilai brand perusahaan dan mengeluarkan laporan mengenai performa brand di pasar.
Q
Mengapa BYD menjadi pesaing yang kuat bagi Tesla?
A
BYD menjadi pesaing yang kuat karena nilai brandnya meningkat 23% dan menunjukkan pertumbuhan yang signifikan di sektor mobil listrik.