Penyebab Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Jakarta Akibat Perubahan Iklim
Courtesy of CNBCIndonesia

Penyebab Hujan Ekstrem dan Siklon Tropis di Jakarta Akibat Perubahan Iklim

Mengungkap penyebab meningkatnya hujan ekstrem dan siklon tropis di Indonesia akibat perubahan iklim global serta pentingnya pengembangan sistem peringatan dini berbasis teknologi canggih untuk mitigasi bencana hidrometeorologi.

06 Feb 2026, 10.15 WIB
280 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Perubahan iklim global menyebabkan peningkatan hujan ekstrem di Indonesia.
  • Siklon tropis menjadi ancaman baru yang muncul akibat pemanasan global.
  • Transformasi sistem peringatan dini diperlukan untuk menghadapi bencana hidrometeorologi.
Jakarta, Indonesia - Indonesia mengalami peningkatan hujan ekstrem dan kemunculan siklon tropis yang tidak biasa, terutama di Jakarta dan pantai utara Jawa. Situasi ini disebabkan oleh dampak nyata perubahan iklim global yang membuat kondisi cuaca menjadi sangat tidak menentu dan ekstrem.
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa fenomena pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas curah hujan yang tinggi. Hal ini diikuti dengan kemunculan siklon tropis seperti Seroja, Cempaka, dan Dahlia yang mulai berdampak di wilayah Indonesia.
Hujan ekstrem berdurasi pendek banyak dipengaruhi oleh gelombang atmosfer ekuatorial seperti Kelvin wave, sedangkan hujan yang berlangsung lama dipengaruhi oleh fenomena La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). Kondisi geografis Jakarta yang spesifik juga membuat wilayah ini rentan terbentuknya pusaran angin yang menyebabkan hujan deras bertahan lama.
Prediksi cuaca ekstrem ke depannya harus dibuat lebih akurat dengan memanfaatkan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI), big data, machine learning, dan deep learning agar peringatan bencana dapat lebih tepat waktu dan terlokalisasi. Hal ini penting untuk memitigasi dampak bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi.
Selain faktor atmosfer, kerusakan lingkungan terutama di daerah perkotaan seperti perubahan tutupan lahan yang mengurangi ruang resapan air memperparah risiko banjir. Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk mengurangi dampak bencana hidrometeorologi di masa depan.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260206101054-37-708732/tanda-kiamat-makin-dekat-sudah-tampak-jelas-di-wilayah-ri

Analisis Ahli

Eddy Hermawan
"Pemanasan global bukan lagi teori, tetapi aksi nyata yang menyebabkan perubahan cuaca ekstrem dan munculnya siklon tropis di Indonesia."

Analisis Kami

"Fenomena tersebut menunjukkan betapa krusialnya integrasi antara ilmu iklim dengan teknologi informasi modern dalam menghadapi bencana alam yang semakin kompleks. Namun, minimnya perhatian terhadap pengelolaan perkotaan yang ramah lingkungan menjadi beban tambahan yang harus segera diperbaiki agar upaya mitigasi bisa maksimal."

Prediksi Kami

Jika tidak ada upaya mitigasi dan adaptasi yang efektif, kejadian hujan ekstrem dan siklon tropis akan semakin sering terjadi dan menyebabkan kerugian besar terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa penyebab meningkatnya hujan ekstrem di Indonesia?
A
Penyebab meningkatnya hujan ekstrem di Indonesia adalah pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim dan peningkatan curah hujan.
Q
Apa yang dimaksud dengan siklon tropis?
A
Siklon tropis adalah sistem cuaca yang terbentuk di daerah tropis dengan tekanan rendah dan dapat menyebabkan cuaca ekstrem.
Q
Bagaimana dampak pemanasan global terhadap cuaca di Jakarta?
A
Dampak pemanasan global terhadap cuaca di Jakarta termasuk peningkatan intensitas hujan dan kemunculan siklon tropis.
Q
Apa yang perlu dilakukan untuk mitigasi bencana hidrometeorologi?
A
Untuk mitigasi bencana hidrometeorologi, penting untuk menggunakan sistem peringatan dini berbasis teknologi modern seperti AI dan big data.
Q
Mengapa Jakarta menjadi lokasi ideal untuk terbentuknya pusaran atmosfer?
A
Jakarta menjadi lokasi ideal untuk terbentuknya pusaran atmosfer karena kondisi geografisnya dan pertemuan angin baratan dan timuran.