
Courtesy of CNBCIndonesia
Miliarder Teknologi Kini Jadi Penguasa Dunia, Apa Dampaknya?
Memberikan wawasan tentang bagaimana pengaruh miliarder teknologi yang semakin kuat terhadap keamanan global dan politik, serta mengingatkan risiko hilangnya kepercayaan publik dan fragmentasi sosial karena kontrol informasi yang semakin terpusat di tangan pribadi dan perusahaan terkait teknologi.
18 Des 2025, 20.40 WIB
295 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Kekuasaan di dunia semakin beralih dari pemimpin politik ke miliarder teknologi.
- Informasi dapat menjadi senjata yang memecah belah masyarakat dan mengikis kepercayaan publik.
- Kondisi antara perang dan damai kini semakin kabur, menuntut perhatian khusus dalam konteks keamanan nasional.
Jakarta, Indonesia - Bos badan mata-mata Inggris, MI6, memberikan peringatan serius tentang perubahan besar dalam kekuasaan dunia. Dia mengatakan bahwa dahulu kekuasaan lebih banyak dipegang oleh pemimpin negara seperti Presiden Amerika Serikat, tapi sekarang mulai beralih ke miliarder yang mengendalikan perusahaan teknologi seperti Elon Musk dan Mark Zuckerberg.
Menurut kepala MI6, kendali teknologi sekarang tidak lagi sepenuhnya ada di tangan negara, tapi sering berada di tangan perusahaan atau bahkan individu. Hal ini membawa dampak besar bagi keamanan nasional dan internasional, karena kekuasaan menjadi lebih sulit diprediksi dan dikendalikan.
Selain itu, kondisi dunia menjadi semakin rumit. Saat ini sulit membedakan kapan kita berada dalam masa damai dan kapan dalam masa perang karena konflik yang berlangsung lebih halus dan sering terjadi di ruang antara keduanya. Ini memperlihatkan sebuah era baru dalam hubungan internasional dan keamanan.
Situasi ini juga diperparah oleh keikutsertaan miliarder teknologi dalam politik, contohnya Elon Musk yang bahkan mendukung aktivis kanan untuk menggulingkan pemerintah Inggris. Perilaku ini membuat para politisi Inggris merasa frustrasi dan waspada terhadap pengaruh pribadi miliarder tersebut.
Lebih jauh, kepala MI6 juga menyoroti hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi. Informasi yang seharusnya menyatukan kini justru menjadi sumber kebohongan yang cepat tersebar, membuat masyarakat terpecah dan realitas menjadi kabur. Algoritma yang digunakan media sosial semakin memperkuat bias dan merusak ruang publik.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251218124222-37-695399/bos-mata-mata-inggris-ungkap-presiden-dan-perdana-menteri-cuma-boneka
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251218124222-37-695399/bos-mata-mata-inggris-ungkap-presiden-dan-perdana-menteri-cuma-boneka
Analisis Ahli
Yuval Noah Harari
"Pengaruh teknologi yang besar pada politik dan masyarakat adalah realitas baru yang akan terus berkembang, dan tanpa regulasi yang tepat, demokrasi bisa terancam oleh oligarki digital."
Shoshana Zuboff
"Kekuasaan perusahaan teknologi bukan hanya ekonomi melainkan kontrol atas data pribadi yang berpotensi membentuk perilaku dan opini publik secara luas."
Analisis Kami
"Fenomena terkonsentrasinya kekuatan dalam tangan beberapa miliarder teknologi menandai perubahan radikal dalam struktur kekuasaan global yang membutuhkan pengawasan ketat. Jika tidak diantisipasi, hal ini bisa memicu ketidakstabilan politik dan kerapuhan sosial karena semakin terfragmentasinya masyarakat akibat algoritma yang memperkuat polarisasi."
Prediksi Kami
Dominasi miliarder teknologi dalam kekuasaan dan politik akan terus meningkat, sehingga pemerintah tradisional harus menyesuaikan strategi pengamanan nasional dan memastikan regulasi yang ketat terhadap pengaruh eksternal dari korporasi teknologi dan individu berkuasa.





