
Courtesy of CNBCIndonesia
112 Anak Terpapar Radikalisme Lewat Media Sosial dan Game Online di 2025
Menyampaikan fakta tentang bagaimana anak-anak di Indonesia terpapar radikalisme melalui media sosial dan game online selama 2025 serta menjelaskan proses radikalisasi yang terjadi melalui algoritma media sosial sehingga masyarakat dan aparat bisa lebih waspada.
30 Des 2025, 19.55 WIB
22 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Paparan radikalisme melalui media sosial dan game online menjadi ancaman bagi anak-anak.
- Densus 88 aktif dalam menangkap jaringan terorisme di Indonesia.
- Baiat mandiri menunjukkan proses awal anak-anak menuju radikalisasi.
Jakarta, Indonesia - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia melaporkan adanya peningkatan jumlah anak-anak yang terpapar radikalisme melalui media sosial dan game online selama tahun 2025. Paparan ini alarm bagi keamanan negara dan masa depan anak-anak bangsa.
Baca juga: Indonesia, Malaysia, dan Australia Batasi Akses Media Sosial Anak untuk Lindungi Generasi Muda
Sebanyak 112 anak dari 26 provinsi di Indonesia ditemukan sudah mulai teradikalisasi. Sebagian dari mereka bahkan sudah melakukan baiat mandiri sebagai tanda keseriusan mereka terlibat dalam ideologi radikal.
Kepala BNPT, Eddy Hartono, menjelaskan bahwa algoritma media sosial memiliki peran besar dalam memperkuat paparan terhadap konten radikal. Interaksi anak seperti like, share, dan lamanya menonton konten berisi ideologi radikal memicu proses radikalisasi ini.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251230193902-37-698446/bapak-ibu-waspada-112-anak-terpapar-radikalisme-di-medsos-game-online
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251230193902-37-698446/bapak-ibu-waspada-112-anak-terpapar-radikalisme-di-medsos-game-online
Analisis Ahli
Nadiem Makarim
"Penguatan literasi digital dan integrasi program pendidikan anti-radikalisme sejak dini sangat penting untuk melindungi generasi muda dari pengaruh negatif media sosial."
Gunawan Santoso (Ahli Keamanan Siber)
"Algoritma media sosial yang dirancang untuk engagement tinggi harus direvisi agar tidak mempromosikan konten radikal; inovasi teknologi dapat membantu mengidentifikasi dan memblokir konten berbahaya."
Analisis Kami
"Fenomena radikalisasi anak melalui media sosial menunjukkan bahwa platform digital kini menjadi medan baru penyebaran ideologi yang berbahaya. Pemerintah bersama orang tua harus lebih aktif mengawasi serta mengedukasi anak dalam penggunaan digital agar terhindar dari manipulasi konten radikal yang tersembunyi dalam algoritma."
Prediksi Kami
Paparan radikalisme melalui media sosial dan konten online akan terus meningkat jika tidak diimbangi dengan upaya edukasi digital dan kontrol algoritma sehingga lebih banyak anak bisa terpengaruh dan potensi tindakan ekstrem meningkat.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang diungkapkan oleh BNPT mengenai anak-anak yang terpapar radikalisme?A
BNPT mengungkapkan bahwa terdapat 112 anak yang terpapar radikalisme melalui media sosial dan game online.Q
Siapa yang melakukan penangkapan jaringan terorisme di Indonesia?A
Penangkapan jaringan terorisme dilakukan oleh Densus 88.Q
Apa contoh nyata dampak dari radikalisasi melalui media sosial?A
Contoh nyata dampak dari radikalisasi adalah kasus ledakan bom di SMAN 72 Jakarta.Q
Dari berapa provinsi anak-anak yang teradikalisasi tersebut berasal?A
Anak-anak yang teradikalisasi tersebut berasal dari 26 provinsi.Q
Apa yang dimaksud dengan baiat mandiri dalam konteks radikalisasi?A
Baiat mandiri adalah tindakan anak-anak yang menyatakan kesetiaan kepada kelompok radikal sebelum bergabung secara resmi.




