Risiko Gempa Besar di Indonesia Meningkat, Zona Megathrust Bertambah
Courtesy of CNBCIndonesia

Risiko Gempa Besar di Indonesia Meningkat, Zona Megathrust Bertambah

Menginformasikan pembaruan terbaru tentang risiko gempa besar di Indonesia serta pentingnya pengembangan sistem pemantauan tektonik untuk mitigasi bencana yang lebih efektif.

01 Jan 2026, 18.30 WIB
13 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Indonesia memiliki potensi bahaya gempa yang lebih tinggi dengan penambahan zona megathrust.
  • Pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan teknologi GNSS untuk mitigasi bencana.
  • Fenomena 'slow slip event' dapat menjadi indikator awal terjadinya gempa besar di masa depan.
Jakarta, Indonesia - Indonesia baru saja memperbarui Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2024 yang menunjukkan peningkatan risiko gempa besar. Peta ini menambahkan jumlah zona megathrust menjadi 14, yang berarti potensi gempa akibat pergerakan lempeng tektonik bertambah dan bahaya gempa menjadi lebih tinggi.
Profesor Kosuke Heki dari Jepang mengamati bahwa karakter geologi Indonesia mirip dengan zona megathrust aktif di Jepang. Menurutnya, meski sulit memprediksi kapan gempa besar terjadi, pemantauan deformasi kerak bumi secara jangka panjang dengan teknologi modern seperti GNSS sangatlah penting.
Fenomena pergeseran lambat atau slow slip event yang sering muncul sebelum gempa besar juga diamati sebagai indikator potensi gempa berikutnya. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan yang canggih, memanfaatkan teknologi yang telah teruji di Jepang.
Zona megathrust Aceh-Andaman diperkirakan bisa memicu gempa hingga magnitudo 9,2 dan zona Jawa hingga 9,1. Selain itu, BMKG juga menyoroti dua zona seismic gap yang belum melepaskan energi besar dalam ratusan tahun, yaitu Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, yang berisiko menyimpan energi gempa besar.
Namun BMKG menegaskan bahwa istilah "menunggu waktu" bukan berarti gempa akan terjadi segera, melainkan energi gempa yang terus terakumulasi. Penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan pengembangan sistem pemantauan guna mengurangi risiko bencana gempa.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260101163805-37-698940/zona-megathrust-kepung-ri-berubah-ahli-jepang-tunjuk-wilayah-bahaya

Analisis Ahli

Kosuke Heki
"Pentingnya pemantauan jangka panjang memakai GNSS dan pengukuran geodesi dasar laut untuk memahami akumulasi tegangan di zona subduksi sangat vital guna prediksi kejadian gempa besar."

Analisis Kami

"Indonesia kini berada di persimpangan penting dimana pemahaman dan teknologi pemantauan harus ditingkatkan demi keselamatan masyarakat luas. Tanpa penguatan sistem pemantauan dan kesiapsiagaan yang matang, potensi bencana gempa besar bisa menjadi ancaman serius yang sulit dikendalikan."

Prediksi Kami

Dengan peningkatan teknologi pemantauan dan jaringan GNSS, Indonesia akan semakin mampu memprediksi akumulasi tegangan tektonik dan memitigasi dampak gempa besar di masa depan, meski waktu pasti gempa sulit diprediksi.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang disoroti dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024?
A
Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 menunjukkan bertambahnya jumlah zona megathrust menjadi 14 titik dengan potensi bahaya yang lebih tinggi.
Q
Siapa Kosuke Heki dan apa kontribusinya dalam penelitian gempa di Indonesia?
A
Kosuke Heki adalah profesor dari Hokkaido University yang meneliti karakter geologi Indonesia dan membandingkannya dengan zona Nankai Trough dalam konteks potensi gempa.
Q
Apa itu 'slow slip event' dan mengapa penting untuk pemantauan gempa?
A
'Slow slip event' adalah fenomena pergeseran lambat yang terjadi sebelum gempa besar dan dianggap sebagai indikator awal potensi terjadinya gempa.
Q
Apa peran BMKG dalam pemantauan gempa di Indonesia?
A
BMKG berperan dalam memantau dan memberikan informasi terkait zona megathrust dan potensi gempa yang ada di Indonesia.
Q
Mengapa zona megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi perhatian?
A
Zona megathrust di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi perhatian karena berada dalam kondisi seismic gap, yang berarti sudah lama tidak terjadi gempa besar dan menyimpan akumulasi energi.