Mengapa Beberapa Orang Awalnya Ragu Vaksin COVID-19 dan Bagaimana Mereka Berubah Pikiran
Courtesy of NatureMagazine

Mengapa Beberapa Orang Awalnya Ragu Vaksin COVID-19 dan Bagaimana Mereka Berubah Pikiran

Memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang alasan keraguan vaksin COVID-19 dan mengidentifikasi kelompok yang memerlukan pendekatan khusus untuk meningkatkan tingkat vaksinasi di masa depan.

13 Jan 2026, 07.00 WIB
101 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Sebagian besar keraguan vaksin dapat diatasi dengan informasi yang tepat.
  • Dampak ekonomi dan pendidikan berhubungan dengan tingkat keraguan vaksin.
  • Vaksinasi yang berhasil dapat mengurangi ketidakpercayaan terhadap vaksin dalam jangka panjang.
Inggris, Britania Raya - Selama pandemi COVID-19, ada kelompok orang yang awalnya ragu untuk menerima vaksin. Studi besar di Inggris yang melibatkan lebih dari satu juta orang menunjukkan bahwa tingkat keraguan ini sempat naik turun, mencapai puncak 8% pada awal 2021 dan menurun drastis menjadi sekitar 1% pada awal 2022.
Informasi dari studi REACT dan data NHS menunjukkan bahwa meskipun awalnya ragu, sekitar 65% orang akhirnya mendapatkan vaksin. Para peneliti mengidentifikasi delapan kelompok alasan keraguan, dari kekhawatiran tentang efektivitas dan efek samping hingga ketidakpercayaan terhadap pembuat vaksin.
Studi ini juga menemukan bahwa keraguan dan kegagalan untuk divaksinasi lebih sering dijumpai pada mereka yang tinggal di area kurang makmur, memiliki pekerjaan tidak tetap atau pengangguran, dan dengan tingkat pendidikan rendah. Wanita juga lebih cenderung ragu tetapi biasanya tetap divaksinasi setelah beberapa waktu.
Para peneliti berharap temuan ini bisa digunakan untuk memperbaiki kampanye vaksinasi di masa depan, dengan memberikan informasi yang tepat dan dukungan khusus bagi mereka yang keraguan vaksinnya didasari alasan konkret yang bisa diatasi.
Namun, ada juga pandangan bahwa hasil studi ini mungkin kurang relevan di masa depan saat situasi pandemi berubah, menunjukkan perlunya pendekatan berbeda untuk meningkatkan penerimaan vaksin di waktu yang akan datang.
Referensi:
[1] https://nature.com/articles/d41586-026-00092-z

Analisis Ahli

Marc Chadeau-Hyam
"Alasan keraguan vaksin terbagi menjadi delapan klaster yang mencakup berbagai faktor, dan mengatasi keraguan yang didasarkan pada ketidakpercayaan lebih menantang daripada yang didasarkan pada kekhawatiran efektifitas atau kesehatan."
Noni MacDonald
"Walaupun studi ini sangat bagus dan berbasis data besar, hasilnya bersifat spesifik pada konteks pandemi dan mungkin kurang relevan pada situasi non-pandemi."

Analisis Kami

"Data besar dari studi ini menunjukkan bahwa komunikasi yang tepat sasaran sangat penting untuk mempercepat penerimaan vaksin di kelompok yang ragu-ragu. Namun, mengatasi keraguan yang berkaitan dengan kepercayaan memerlukan perubahan sosial yang lebih luas, bukan sekadar informasi medis."

Prediksi Kami

Pendekatan yang lebih terfokus dan personal dalam kampanye vaksinasi akan berkembang, khususnya menargetkan kelompok-kelompok yang memiliki alasan keraguan yang dapat diatasi dengan informasi yang jelas dan dukungan, sehingga tingkat vaksinasi di masa depan dapat meningkat lebih cepat dan efektif.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang menjadi fokus penelitian terkait vaksin COVID-19?
A
Penelitian ini berfokus pada keraguan vaksin COVID-19 dan adopsi vaksin di Inggris.
Q
Berapa persen orang yang awalnya ragu akan vaksin tetapi kemudian divaksin?
A
Sekitar 65% dari mereka yang awalnya ragu kemudian mendapatkan satu atau lebih vaksin.
Q
Apa saja alasan utama keraguan vaksin yang ditemukan dalam studi ini?
A
Alasan utama keraguan vaksin termasuk kekhawatiran tentang efikasi dan efek samping vaksin.
Q
Siapa yang memimpin studi tentang keraguan vaksin ini?
A
Studi ini dipimpin oleh Marc Chadeau-Hyam dari Imperial College London.
Q
Mengapa hasil studi ini mungkin tidak relevan di luar konteks pandemi?
A
Noni MacDonald menyatakan bahwa konteks studi ini sangat spesifik dan mungkin tidak berlaku umum di luar pandemi.