
Courtesy of Forbes
Waspadai Kebiasaan Berbahaya yang Merusak Hubungan Jangka Panjang
Memberikan wawasan tentang pola-pola berbahaya yang sering dinormalisasi dalam hubungan jangka panjang dan mendorong pasangan untuk menerapkan prinsip renegosiasi dan fleksibilitas untuk meningkatkan kualitas dan kepuasan hubungan.
16 Jan 2026, 06.00 WIB
24 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Emosi yang diabaikan dapat merusak kepercayaan dan kedekatan dalam hubungan.
- Penghindaran konflik tidak selalu berarti hubungan yang sehat; komunikasi terbuka diperlukan.
- Intimasi berperan penting dalam kesejahteraan mental dan kepuasan hubungan jangka panjang.
Dalam hubungan jangka panjang, pasangan sering menormalkan berbagai ketegangan dan pengabaian emosional sebagai bagian dari kenyamanan dan rutinitas yang sudah terbentuk. Mereka percaya bahwa hilangnya perhatian emosional dan rasa ingin tahu tentang satu sama lain adalah hal yang wajar, padahal ini sebenarnya melemahkan ikatan emosional yang penting.
Rasa kesal dan frustrasi yang tidak diungkapkan sering dianggap sebagai tanda kedewasaan, padahal menekan emosi tersebut dapat meningkatkan stres dan menjauhkan pasangan secara emosional. Emosi yang tertahan juga cenderung membelokkan persepsi, membuat pasangan salah memahami tindakan satu sama lain.
Menghindari percakapan penting seperti masalah keintiman, keuangan, dan kebutuhan emosional sering diasumsikan sebagai jalan damai. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa menghindari pembicaraan sulit ini justru menurunkan kepercayaan dan membuat hubungan semakin rapuh karena ketidakjujuran yang terselubung.
Seiring waktu, banyak pasangan berubah menjadi sekadar mitra logistik atau rekan hidup tanpa keintiman emosional dan fisik yang berarti. Padahal keintiman yang terjaga sangat penting untuk mengatur stres, membangun ikatan, dan menjaga kesehatan mental yang baik dalam hubungan jangka panjang.
Normalisasi kebiasaan buruk dalam hubungan panjang tidak menunjukkan kesehatannya, melainkan sebuah adaptasi terhadap ketidakpuasan yang dirasakan. Untuk membangun hubungan yang sehat dan memuaskan, pasangan harus selalu terbuka untuk bernegosiasi ulang dan bersikap fleksibel dalam menghadapi tantangan bersama.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/15/dont-normalize-these-4-habits-your-relationship-by-a-psychologist/
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/15/dont-normalize-these-4-habits-your-relationship-by-a-psychologist/
Analisis Ahli
John Gottman
"Sering melewatkan permintaan kecil untuk koneksi emosional dalam kehidupan sehari-hari secara signifikan meningkatkan ketidakpuasan dalam hubungan dan memperbesar risiko keretakan."
Analisis Kami
"Sebagai ahli dalam psikologi hubungan, saya percaya bahwa banyak pasangan terlalu cepat menerima kebiasaan yang merugikan sebagai bagian dari 'normalnya' hubungan jangka panjang. Mengabaikan kebutuhan emosional sebenarnya mencegah hubungan berkembang dan menciptakan ruang untuk masalah yang lebih besar di masa depan."
Prediksi Kami
Jika pola pengabaian dan penghindaran terus berlanjut, banyak hubungan jangka panjang akan mengalami penurunan kepuasan serius dan berisiko berakhir dengan keterasingan emosional atau perceraian.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang dimaksud dengan perhatian emosional dalam hubungan jangka panjang?A
Perhatian emosional merujuk pada usaha pasangan untuk saling memahami dan terhubung secara emosional, yang penting untuk kepuasan hubungan.Q
Mengapa rasa kesal dianggap sebagai hal yang tidak terhindarkan dalam hubungan?A
Rasa kesal sering kali diabaikan dan tidak dibahas, yang dapat menyebabkan akumulasi ketidakpuasan di dalam hubungan.Q
Apa dampak dari penghindaran dalam komunikasi pasangan?A
Penghindaran dalam komunikasi dapat mengurangi kepercayaan dan kedekatan emosional antara pasangan.Q
Bagaimana intimasi berperan dalam kesehatan mental pasangan?A
Intimasi, baik emosional maupun fisik, berkontribusi pada pengaturan stres dan pengikatan emosional, yang penting untuk kesehatan mental.Q
Apa prinsip dasar yang harus dipegang untuk membangun kebiasaan positif dalam hubungan?A
Prinsip dasar untuk membangun kebiasaan positif meliputi renegosiasi, fleksibilitas, dan komunikasi yang jujur.




