Pengalaman Peneliti Bertemu Burung Paling Beracun di Dunia di Papua
Courtesy of CNBCIndonesia

Pengalaman Peneliti Bertemu Burung Paling Beracun di Dunia di Papua

Membahas pengalaman unik peneliti yang berinteraksi dengan burung paling beracun di dunia sekaligus menjelaskan racun batrachotoxin yang ada pada burung tersebut dan efeknya pada manusia.

19 Jan 2026, 06.40 WIB
65 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Burung Pitohui adalah salah satu burung paling beracun di dunia yang mengandung Batrachotoxin.
  • Racun dalam burung Pitohui berasal dari makanan yang dikonsumsi, bukan dari kontak langsung.
  • Pengalaman Kasun Bodawatta menunjukkan bagaimana interaksi dengan spesies beracun dapat menyebabkan reaksi fisik yang mengejutkan.
Papua, Indonesia - Kasun Bodawatta, seorang peneliti dari Universitas Copenhagen, pernah mengalami pengalaman unik ketika berhadapan dengan burung paling beracun di dunia bernama Pitohui di Papua. Saat mengambil sampel burung tersebut, ia tiba-tiba mengeluarkan air mata dan hidungnya berair, sehingga orang-orang sekitar mengira ia sedang sedih atau menangis.
Burung Pitohui dan burung lonceng rufous-naped yang hidup di Papua mengandung racun bernama batrachotoxin, sebuah neurotoksin yang sangat berbahaya. Racun ini menyebabkan mata berair saat seseorang bersentuhan atau terlalu dekat dengan burung tersebut.
Uniknya, racun batrachotoxin ini tidak diproduksi oleh burung secara langsung, melainkan berasal dari makanan yang mereka konsumsi. Makanan ini tidak membahayakan burung, tapi racun tersebut kemudian terkumpul di dalam bulu dan tubuh burung, menjadikannya beracun.
Jika manusia memakan burung ini, racun tersebut bisa menyebabkan kematian dan rasa terbakar pada tubuh. Karena bahayanya, penduduk lokal menangani burung ini dengan hati-hati sebagai bentuk perlindungan dari hewan predator.
Penelitian ini menunjukkan bagaimana spesies tertentu mengembangkan sistem pertahanan biologis melalui racun. Penemuan ini juga membuka peluang studi lebih lanjut terhadap toksin alami dan aplikasinya dalam bidang medis dan biologi.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260119060123-37-703183/burung-beracun-berkeliaran-di-wilayah-ri-tubuh-terasa-terbakar

Analisis Ahli

Dr. Jane Goodall
"Penelitian racun alami ini memberikan wawasan penting tentang hubungan antara hewan dan lingkungan yang dapat meningkatkan konservasi spesies unik seperti burung Pitohui."
Prof. Paul M. Richards
"Batrachotoxin adalah contoh neurotoksin yang sangat kuat dan studi tentang sumber serta mekanismenya bisa membuka peluang dalam bidang farmakologi dan neurobiologi."

Analisis Kami

"Interaksi langsung dengan hewan beracun seperti burung Pitohui menuntut perlindungan khusus agar tidak membahayakan peneliti, namun pengalaman Bodawatta menunjukkan pentingnya keberanian dan metode ilmiah yang tepat untuk memahami ekosistem unik Papua. Racun batrachotoxin yang berasal dari rantai makanan ini menjadi contoh menarik bagaimana spesies bisa beradaptasi dengan racun sebagai mekanisme bertahan hidup."

Prediksi Kami

Penggunaan pengetahuan tentang racun batrachotoxin dari burung ini dapat menginspirasi penelitian lebih lanjut dalam bidang toksikologi dan pengembangan obat atau alat perlindungan biologis di masa depan.