
Courtesy of Forbes
Mengelola Risiko Siber di Era AI: Kunci Keamanan dan Inovasi Masa Depan
Memberikan pemahaman bahwa kemajuan teknologi, khususnya AI, menuntut perubahan budaya dan strategi keamanan siber perusahaan agar tetap mampu menangani risiko yang muncul dari inovasi dan integrasi pihak ketiga, sehingga keamanan bisa menjadi pendorong inovasi, bukan beban compliance semata.
27 Jan 2026, 21.00 WIB
150 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Perusahaan perlu memprioritaskan keamanan siber sebagai bagian integral dari inovasi teknologi.
- Adopsi arsitektur Zero Trust dapat meningkatkan kontrol dan keamanan di jaringan perusahaan.
- Budaya perusahaan harus berubah untuk mengedepankan kesadaran dan tanggung jawab terhadap risiko siber di antara karyawan.
Kemajuan teknologi, terutama dalam bidang kecerdasan buatan (AI), membawa banyak manfaat berupa efisiensi dan inovasi. Namun, perkembangan ini juga memunculkan risiko keamanan siber baru yang menjadi tantangan bagi banyak perusahaan. Penggunaan banyak vendor pihak ketiga menambah celah keamanan yang luar biasa beragam dan sulit dikendalikan dengan pengamanan tradisional.
Survei menunjukkan bahwa sebagian besar Chief Information Security Officer (CISO) menilai risiko dari vendor pihak ketiga sebagai ancaman terbesar, namun hanya sebagian kecil saja yang punya rencana kontinjensi jika terjadi kebocoran data dari vendor tersebut. Terutama dalam penggunaan vendor AI, masih banyak perusahaan yang belum punya proses seleksi dan pemantauan risiko khusus.
Adopsi AI dalam bisnis telah berlangsung sangat cepat, melebihi kemampuan perusahaan dalam memperbarui tata kelola dan prosedur keamanan mereka. AI juga memperkenalkan dimensi risiko baru, selain dari risiko yang sudah tercipta oleh cloud, kerja jarak jauh, dan penggunaan aplikasi SaaS. Hal ini menjadikan perlindungan keamanan tradisional tidak memadai.
Di sisi lain, AI juga dapat menjadi alat yang sangat ampuh dalam memperkuat keamanan siber, seperti deteksi perilaku anomali, otomatisasi tugas rutin, dan analisa data besar secara real-time, membantu manusia untuk lebih cepat merespons ancaman. Pendekatan ini penting agar perusahaan bisa proaktif dan tidak terus-terusan ketinggalan dalam menghadapi ancaman yang makin canggih.
Perubahan budaya keamanan yang menempatkan keamanan sebagai bagian strategis dari inovasi sangat penting untuk menyukseskan transformasi digital perusahaan. Penerapan arsitektur Zero Trust dan pengawasan berkelanjutan terhadap vendor pihak ketiga termasuk vendor AI menjadi langkah krusial. Pada akhirnya, perusahaan yang bisa mengatur risiko cerdas akan menguasai masa depan inovasi teknologi.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/davidhenkin/2026/01/27/why-todays-modes-of-tech-innovation-require-new-approaches-to-cyber-risk/
[1] https://www.forbes.com/sites/davidhenkin/2026/01/27/why-todays-modes-of-tech-innovation-require-new-approaches-to-cyber-risk/
Analisis Ahli
Bruce Schneier
"Perpindahan dari pertahanan perimeter tradisional ke manajemen risiko cerdas adalah kunci masa depan keamanan siber yang efektif, apalagi dengan kompleksitas AI dan sistem modern saat ini."
Katie Moussouris
"Keamanan siber harus menjadi bagian integral dari setiap inovasi teknologi, termasuk integrasi vendor AI, untuk mengurangi risiko tersembunyi yang sering diabaikan perusahaan."
Analisis Kami
"Kecepatan adopsi AI yang sangat cepat tanpa didukung tata kelola keamanan yang matang adalah resep kegagalan yang berbahaya dalam manajemen siber. Saya percaya bahwa keamanan bukan lagi tanggung jawab tim IT saja, tapi harus menjadi budaya dan strategi utama seluruh perusahaan agar mampu berinovasi dengan aman dan berkelanjutan."
Prediksi Kami
Di masa depan, perusahaan yang gagal mengintegrasikan keamanan siber yang proaktif dan adaptif dalam penggunaan AI dan vendor pihak ketiga akan semakin rentan terhadap serangan siber, sementara perusahaan yang mampu mengadopsi pengelolaan risiko cerdas akan menjadi pemimpin inovasi dan pertumbuhan bisnis.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa tantangan utama yang dihadapi perusahaan dalam mengelola risiko siber terkait dengan vendor pihak ketiga?A
Tantangan utama adalah kurangnya rencana yang ada untuk menangani pelanggaran yang melibatkan vendor pihak ketiga.Q
Mengapa AI dianggap sebagai risiko siber yang unik?A
AI dianggap sebagai risiko siber yang unik karena adopsinya yang cepat dan potensi untuk disalahgunakan oleh penyerang.Q
Apa itu arsitektur Zero Trust dan bagaimana penerapannya dapat membantu keamanan siber?A
Arsitektur Zero Trust mengedepankan pemantauan dan validasi terus-menerus serta memberikan izin minimum yang diperlukan untuk akses, sehingga dapat menjaga kontrol jaringan.Q
Bagaimana perusahaan dapat beradaptasi dengan inovasi teknologi baru untuk mengelola risiko siber?A
Perusahaan dapat beradaptasi dengan menerapkan sistem keamanan yang menggunakan AI untuk analisis perilaku dan otomatisasi tugas rutin.Q
Mengapa penting untuk mengubah budaya perusahaan dalam pendekatan terhadap keamanan siber?A
Penting untuk mengubah budaya perusahaan agar karyawan lebih menyadari pentingnya keamanan siber dan tidak mengambil jalan pintas yang dapat membahayakan data.



