
Courtesy of Forbes
Davos 2026: AI sebagai Kekuatan Infrastruktur yang Mengubah Dunia dan Geopolitik
Menggambarkan AI sebagai kekuatan infrastruktur utama masa kini dan masa depan yang mengubah ekonomi dan politik dunia, sekaligus menegaskan kebutuhan untuk kontrol, tata kelola, dan kepercayaan manusia dalam memanfaatkan AI agar transformasi ini dapat menguntungkan secara adil dan berkelanjutan.
30 Jan 2026, 21.06 WIB
68 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Kecerdasan buatan adalah kekuatan yang mengubah ekonomi dan geopolitik secara mendalam.
- Pentingnya membangun struktur pemerintahan dan kontrol yang tepat sebelum kecerdasan umum buatan sepenuhnya diimplementasikan.
- Perusahaan dan negara harus beradaptasi dengan cepat untuk memanfaatkan potensi AI dan membangun kepercayaan di masyarakat.
Davos, Swiss - Di Davos 2026, para pemimpin dunia membahas bagaimana kecerdasan buatan (AI) tidak lagi menjadi teknologi masa depan, melainkan kekuatan infrastruktur besar yang mengubah ekonomi dan politik global. AI kini setara pentingnya dengan listrik, internet, dan jalur kereta api pada masa lalu. Namun, kehadiran AI ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang ketimpangan ekonomi dan siapa yang akan mendapat manfaat terbesar dari teknologi ini.
Salah satu pernyataan penting datang dari Helen Toner, mantan anggota dewan OpenAI, yang memperingatkan bahwa Artificial General Intelligence (AGI) bisa muncul dalam 1 hingga 3 tahun mendatang dan membawa risiko eksistensial. Namun, masyarakat umum masih melihat AI hanya sebagai alat seperti ChatGPT atau pengisi waktu. Padahal, AI saat ini sudah mampu memahami bahasa, matematika, dan strategi kompleks dengan tingkat kecerdasan mendekati manusia.
Meski AI sangat cerdas, manusia tetap diperlukan untuk memberikan konteks, penilaian, dan tanggung jawab yang belum bisa dilakukan AI. AI hanya mengikuti pola yang ada dan memperbaiki kesalahan setelah terjadi, sedangkan manusia bisa mengantisipasi dan mengoreksi sebelum masalah muncul. Hal penting lainnya adalah AI belum menjadi rekan kerja yang dipercaya karena belum mengerti humor, koneksi emosional, dan intuisi moral.
Pertemuan di Davos juga menegaskan bahwa AI sekarang menjadi fokus utama CEO di berbagai perusahaan, dengan 72% CEO merasa mereka adalah pengambil keputusan utama terkait AI. Perusahaan yang akan berhasil adalah mereka yang merombak proses kerja secara menyeluruh dengan AI sebagai fondasinya. Infrastruktur fisik seperti energi, chip, dan pusat data kini menjadi batasan utama dalam pengembangan AI, bukan lagi kecerdasan AI itu sendiri.
Dari sisi geopolitik, kekuatan global kini berpusat pada teknologi, energi, dan talenta AI. Aliansi baru terbentuk berdasarkan kesamaan teknologi, bukan ideologi. Negara yang berhasil mengintegrasikan AI dengan baik akan menguasai aturan dan masa depan global. Sementara itu, ketergantungan pada negara lain akan menyebabkan kerawanan strategis. Era baru ini menuntut kedaulatan data dan industri sebagai bagian dari keamanan nasional.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/markminevich/2026/01/30/what-davos-2026-revealed-about-the-future-of-ai-and-global-power/
[1] https://www.forbes.com/sites/markminevich/2026/01/30/what-davos-2026-revealed-about-the-future-of-ai-and-global-power/
Analisis Ahli
Helen Toner
"Peringatan bahwa AI berpotensi mencapai tingkat kecerdasan manusia (AGI) dalam 1-3 tahun dan membawa risiko eksistensial perlu menjadi alarm serius bagi pembuat kebijakan untuk fokus pada tata kelola dan kontrol yang kuat."
Elon Musk
"Menekankan bahwa meski AI menjadi semakin cerdas, kekuatan sebenarnya terletak pada bagaimana manusia mengatur kekuasaan dan insentif, bukan hanya kecerdasan teknologinya."
Mark Carney
"Menyoroti pentingnya stabilitas sebagai aset strategis dalam era AI, dan perlunya praktis dalam kerjasama global tanpa ilusi moral yang berlebihan."
Analisis Kami
"Transformasi AI saat ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga bagaimana institusi dan pemerintahan mampu beradaptasi dan menetapkan aturan yang bisa menghindari ketimpangan dan ketidakstabilan global. Perusahaan yang sukses adalah mereka yang menginternalisasi AI dalam struktur kerja mereka dan bukan sekadar menambal proses lama dengan AI sebagai tambahan."
Prediksi Kami
Dalam 1-3 tahun ke depan, AI umum akan semakin terintegrasi dalam berbagai sektor dengan dampak besar terhadap geopolitik dan ekonomi, menuntut tata kelola global yang ketat dan strategi nasional agar tidak tergantung pada kekuatan asing.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang dibahas di Davos 2026 mengenai kecerdasan buatan?A
Di Davos 2026, para pemimpin dunia membahas bagaimana kecerdasan buatan akan mengubah dunia dan membentuk masa depan kolektif kita.Q
Mengapa kecerdasan buatan dianggap sebagai infrastruktur besar?A
Kecerdasan buatan dianggap sebagai infrastruktur besar karena melibatkan jaringan penyimpanan data, chip canggih, dan pusat data yang mengubah ekonomi dan kekuatan geopolitik.Q
Apa risiko yang dihadapi dengan munculnya kecerdasan umum buatan?A
Risiko yang dihadapi dengan munculnya kecerdasan umum buatan termasuk potensi kehilangan kendali dan ketidakadilan dalam distribusi manfaatnya.Q
Bagaimana AI mempengaruhi geopolitik dan hubungan internasional?A
AI mempengaruhi geopolitik dengan menciptakan aliansi baru berdasarkan teknologi dan mengubah cara negara-negara berinteraksi satu sama lain.Q
Apa yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan terhadap AI?A
Membangun kepercayaan terhadap AI memerlukan pemahaman tentang konteks, pertanggungjawaban, dan kemampuan untuk melihat efek yang tidak diinginkan.




