Kekerasan Online terhadap Perempuan Pemberdaya Meningkat, AI Memperparah Situasi
Courtesy of Forbes

Kekerasan Online terhadap Perempuan Pemberdaya Meningkat, AI Memperparah Situasi

Melaporkan skala kekerasan online terhadap perempuan pembela HAM, aktivis, dan jurnalis serta mendorong pengembangan alat dan regulasi untuk melindungi mereka dari kekerasan berbasiskan teknologi, khususnya AI, yang semakin meningkat.

15 Des 2025, 21.02 WIB
161 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Kekerasan online terhadap wanita pembela hak asasi manusia semakin meningkat dan berdampak pada kehidupan nyata.
  • AI meningkatkan skala dan kecepatan kekerasan berbasis gender di dunia maya.
  • Perlu ada regulasi yang lebih baik untuk menanggapi dan mencegah kekerasan online terhadap wanita.
Global , Perserikatan Bangsa-Bangsa - Sebuah laporan terbaru dari UN Women dan European Commission menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh perempuan yang berperan sebagai pembela hak asasi manusia, aktivis, dan jurnalis mengalami kekerasan secara daring dalam pekerjaan mereka. Survei global ini mencakup wanita dari 119 negara dan menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan di ranah digital.
Selain kekerasan online seperti ancaman dan pelecehan, lebih dari 40% perempuan juga menghadapi kekerasan nyata di dunia fisik yang berhubungan dengan serangan di dunia maya. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan 2020, mulai dari pelecehan verbal hingga kekerasan fisik, penguntitan, dan serangan yang berbahaya.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan semakin memperparah situasi dengan 25% perempuan melaporkan kekerasan daring yang dibantu AI, seperti gambar deepfake dan konten yang dimanipulasi. Angka ini bahkan mencapai 30% untuk penulis dan komunikator publik yang fokus pada isu hak asasi manusia.
Laporan tersebut menyoroti peran perusahaan teknologi yang belum cukup bertanggung jawab dalam menyediakan alat yang efektif untuk memantau dan melindungi korban kekerasan online berbasis AI. Dibutuhkan regulasi yang lebih ketat agar teknologi tidak menjadi alat intimidasi yang mengancam kebebasan dan demokrasi.
Ke depan, para peneliti akan menerbitkan data lebih lanjut tentang tantangan dan peluang hukum dalam menangani kekerasan online ini, serta mengusulkan rekomendasi kebijakan untuk menahan dampak negatif teknologi terhadap perempuan di ruang publik serta memastikan akuntabilitas bagi perusahaan teknologi besar.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/emmawoollacott/2025/12/15/online-attacks-against-women-human-rights-workers-double-in-five-years/

Analisis Ahli

Sarah Hendricks
"Digital violence adalah kekerasan nyata dengan konsekuensi serius di dunia nyata, harus segera ditangani baik secara teknologi maupun hukum."
Lea Hellmueller
"AI mempercepat dan memperluas konten kasar yang merugikan perempuan di ruang publik sehingga diperlukan alat pendeteksi dan regulasi yang lebih canggih."
Julie Posetti
"Melindungi perempuan dari kekerasan online memerlukan kerja sama antara penegak hukum, pembuat kebijakan, dan industri teknologi."

Analisis Kami

"Kekerasan berbasis gender di dunia maya menunjukkan kegagalan sistemik dalam melindungi hak perempuan, terutama di era digital yang serba cepat ini. Tanpa intervensi serius dari regulator dan perusahaan teknologi, akan semakin banyak perempuan yang takut bersuara dan berpartisipasi di ruang publik, yang merugikan demokrasi secara keseluruhan."

Prediksi Kami

Dalam waktu dekat, teknologi AI akan semakin sering digunakan untuk intimidasi online terhadap perempuan di ranah publik, memaksa negara dan perusahaan teknologi untuk mengadopsi regulasi yang lebih ketat demi melindungi kelompok rentan tersebut.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa temuan utama dari laporan UN Women tentang kekerasan terhadap wanita?
A
Laporan UN Women menemukan bahwa tujuh dari sepuluh wanita pembela hak asasi manusia mengalami kekerasan online.
Q
Berapa persen wanita pembela hak asasi manusia yang mengalami kekerasan online?
A
Sekitar 70% wanita pembela hak asasi manusia mengalami kekerasan online.
Q
Apa dampak kekerasan online terhadap wanita di dunia nyata?
A
Dampak kekerasan online dapat termasuk pelecehan verbal, penyerangan fisik, dan bentuk kekerasan lainnya.
Q
Bagaimana AI berkontribusi pada kekerasan berbasis gender online?
A
AI berkontribusi dengan memfasilitasi pembuatan konten yang menyakiti dan merugikan wanita, seperti deepfake.
Q
Apa yang dapat dilakukan oleh perusahaan teknologi untuk mencegah kekerasan online?
A
Perusahaan teknologi perlu meningkatkan alat untuk mengidentifikasi dan mencegah kekerasan yang dibantu oleh AI.