Mengapa Pengembang Masih Tidak Percaya AI untuk Membuat Kode Produksi
Courtesy of Forbes

Mengapa Pengembang Masih Tidak Percaya AI untuk Membuat Kode Produksi

Memberikan pemahaman mengapa pengembang tidak mempercayai AI sepenuhnya dalam coding dan bagaimana cara terbaik memanfaatkan AI sebagai alat pendukung dengan pengawasan manusia demi menghasilkan kode yang aman, terkelola, dan berkualitas tinggi.

20 Jan 2026, 21.08 WIB
264 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Pengembang harus memberikan konteks yang jelas dan struktur yang baik saat menggunakan AI untuk menghindari hutang teknis.
  • AI dapat mempercepat fase kreatif dalam pengembangan tetapi tidak boleh dipercaya untuk keputusan implementasi akhir tanpa pengawasan manusia.
  • Keamanan kode yang dihasilkan oleh AI merupakan masalah besar dan memerlukan tinjauan yang cermat dari pengembang berpengalaman.
San Diego, Amerika Serikat - Banyak pengembang perangkat lunak masih merasa ragu dan tidak percaya untuk mempercayakan AI menulis kode secara penuh. Studi dari UC San Diego dan Cornell menunjukkan bahwa AI dapat membuat kode fungsional, tapi sering melewatkan keamanan, penanganan kesalahan, dan arsitektur yang solid. Kondisi ini membuat AI lebih cocok dipakai dengan pengawasan dan arahan manusia yang tepat.
Istilah 'vibe coding' menggambarkan cara kerja beberapa pengembang yang hanya menggunakan bahasa natural tanpa memberikan konteks dan dokumentasi terstruktur pada AI. Meskipun hasil awalnya cepat dan terasa menyenangkan, lama-kelamaan kode yang dihasilkan mengandung banyak utang teknis yang menumpuk dan mengakibatkan proyek menjadi sulit dikelola atau diperbaiki.
Laporan dari Ox Security dan Veracode mengungkap bahwa AI sering menghasilkan kode yang memiliki resiko keamanan tinggi. Hampir setengah dari kode AI mengandung celah keamanan yang bisa dieksploitasi. Hal ini menjadi peringatan penting karena keamanan adalah aspek krusial yang harus dipenuhi oleh kode produksi.
Penggunaan AI paling efektif adalah saat AI diperlakukan seperti pengembang junior yang mendapat arahan dan pengawasan ketat dari senior. Dengan memberikan konteks yang jelas, dokumentasi yang lengkap, dan melakukan review berkala, AI dapat membantu meningkatkan kecepatan pengembangan tanpa mengorbankan kualitas dan keamanan.
Masa depan pengembangan perangkat lunak akan memadukan kemampuan AI dalam brainstorming dan prototyping cepat dengan kecermatan manusia dalam memastikan kode siap produksi dan aman. Perusahaan yang mengadopsi kolaborasi keduanya akan meraih produktivitas tinggi, sementara yang mencoba otomatisasi penuh tanpa pengawasan akan menghadapi risiko tinggi kegagalan proyek dan akumulasi utang teknis.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/joetoscano1/2026/01/20/developers-use-ai-coding-tools-to-get-started-not-finish-the-job/

Analisis Ahli

Andrej Karpathy
"Istilah 'vibe coding' menunjukkan bahaya penggunaan AI tanpa batasan dan konteks terstruktur, karena output AI akan cepat namun berisiko merusak bagian lain dari kode secara tak terduga."
Dan Cripe
"Startup yang sukses dengan AI bukanlah mereka yang mengandalkan otomatisasi penuh, melainkan yang memadukan kemampuan AI dengan pengawasan manusia secara ketat untuk memastikan kualitas- keamanan, dan keberlanjutan sistem."

Analisis Kami

"AI memang mempercepat tahap ideasi dan prototyping, namun tanpa struktur dan pengawasan manusia, risikonya sangat tinggi akan utang teknis yang sulit diperbaiki dan celah keamanan. Dengan pendekatan yang salah, AI justru bisa memperlambat proses pengembangan jangka panjang karena perlu banyak revisi dan perbaikan serius."

Prediksi Kami

Di masa depan, pengembang akan semakin menolak mengandalkan AI secara penuh tanpa prosedur kontrol ketat dan dokumentasi terstruktur, sehingga AI akan berperan sebagai asisten junior yang dipandu manusia, bukan pengganti penuh tenaga insani.

Pertanyaan Terkait

Q
Mengapa pengembang perangkat lunak tidak mempercayai AI?
A
Pengembang perangkat lunak tidak mempercayai AI karena kekhawatiran akan kualitas dan keamanan kode yang dihasilkan. Penelitian menunjukkan bahwa AI sering kali tidak memahami konteks yang kompleks dan menghasilkan hutang teknis.
Q
Apa itu 'vibe coding' dan mengapa itu menjadi masalah?
A
'Vibe coding' adalah praktik di mana pengembang menggunakan permintaan bahasa alami dengan sedikit struktur, yang dapat mengakibatkan masalah dalam kualitas kode. Masalah muncul ketika output AI tidak diperiksa secara menyeluruh, menyebabkan kerusakan pada bagian lain dari aplikasi.
Q
Apa yang ditemukan dalam laporan Ox Security terkait kode yang dihasilkan oleh AI?
A
Laporan Ox Security menemukan bahwa kode yang dihasilkan oleh AI sering kali fungsional tetapi kurang dalam penilaian arsitektur yang baik. Ini berarti meskipun kode dapat berjalan, ia tidak selalu aman atau dapat diskalakan.
Q
Bagaimana cara terbaik untuk menggunakan AI dalam pengembangan perangkat lunak?
A
Cara terbaik untuk menggunakan AI dalam pengembangan perangkat lunak adalah dengan memberikan konteks yang jelas dan struktur yang baik dalam permintaan. Pengembang harus selalu meninjau output dengan cermat dan memastikan bahwa keputusan arsitektur yang tepat diambil.
Q
Apa yang harus diperhatikan terkait keamanan dalam kode yang dihasilkan oleh AI?
A
Keamanan dalam kode yang dihasilkan oleh AI adalah masalah besar, dengan laporan menunjukkan bahwa 45% kode tersebut memiliki kerentanan. Pengembang senior dapat dengan cepat menangkap masalah keamanan yang mungkin terlewatkan oleh AI.