
Courtesy of Forbes
Mengapa Memori yang Kuat Kadang Membuat Kita Salah dan Stres
Artikel ini bertujuan menjelaskan mengapa memiliki memori yang kuat tidak selalu menguntungkan dan bagaimana ingatan yang kuat bisa menyebabkan distorsi, kecemasan, dan pengambilan keputusan yang buruk, untuk membantu pembaca memahami serta mengelola memori mereka dengan lebih baik.
27 Jan 2026, 05.30 WIB
254 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Memori manusia bukanlah rekaman sempurna, tetapi proses rekonstruktif yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.
- Memori yang kuat dapat menyebabkan distorsi dan dampak emosional yang negatif, seperti kecemasan dan ruminasi.
- Kekuatan memori tidak selalu berhubungan dengan pengambilan keputusan yang baik; memori yang terlalu detail bisa mengurangi fleksibilitas dalam membuat pilihan.
Banyak orang percaya bahwa memiliki ingatan yang kuat itu baik dan berarti kita lebih pintar atau lebih baik menjalani hidup. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa memori manusia bukan rekaman sempurna, melainkan proses yang direkonstruksi setiap kali kita mengingat sesuatu. Jadi, ingatan kita bisa berubah dan terdistorsi oleh emosi serta bias tanpa kita sadari.
Salah satu masalah utama dengan memori yang kuat adalah kita cenderung terlalu percaya pada ingatan kita, bahkan ketika ingatan itu salah. Hal ini bisa menyebabkan kita merasa yakin akan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi atau keliru dalam memahami masa lalu kita sendiri. Kepercayaan ini bisa berdampak buruk pada hubungan, pengambilan keputusan, bahkan identitas personal.
Selain itu, memori yang mengandung banyak detail emosional, terutama tentang pengalaman negatif, dapat membuat kita terus-menerus mengingat dan mengulang kejadian yang menyakitkan. Ini bisa meningkatkan stres, kecemasan, dan gangguan suasana hati seperti depresi. Bahkan terapi modern fokus membantu orang untuk tidak hanya mengingat, tapi juga mengelola dan melepaskan kenangan yang menyakitkan secara sehat.
Memori juga mempengaruhi bagaimana kita membuat keputusan di masa depan. Jika ingatan terlalu kaku dan terperangkap pada detail lama, kita mungkin menghindari risiko yang sebenarnya bermanfaat atau memutuskan berdasarkan bayangan masa lalu yang tidak lagi relevan. Studi membuktikan bahwa kuatnya memori tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas keputusan yang diambil, terutama pada orang tua.
Penting untuk memahami bahwa sistem memori manusia didesain untuk membantu kita bertahan hidup dan berfungsi adaptif, bukan untuk menyimpan semua detail secara akurat. Kadang-kadang melupakan hal-hal yang kurang penting dan mengingat secara umum justru lebih berguna bagi kita. Oleh karena itu, strategi mengelola memori dan menerima keterbatasannya bisa meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/26/3-reasons-why-a-good-memory-can-be-bad-for-you-by-a-psychologist/
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/26/3-reasons-why-a-good-memory-can-be-bad-for-you-by-a-psychologist/
Analisis Ahli
Elizabeth Loftus
"Peneliti memori palsu yang menekankan bahwa ingatan manusia sangat rentan terhadap manipulasi dan distorsi, terutama dalam konteks pengadilan dan trauma."
Daniel Schacter
"Ahli psikologi kognitif yang menunjukkan bahwa sistem memori difokuskan pada fungsi adaptif, bukan akurasi literal, sehingga ingatan yang tidak sempurna merupakan bagian dari desain otak untuk bertahan hidup."
Analisis Kami
"Memori yang kuat memang tampak seperti aset, tapi sebenarnya seringkali menjadi jebakan emosional dan kognitif yang mengganggu keseimbangan mental seseorang. Penting untuk mengajarkan masyarakat bahwa 'ingat lebih baik' bukan berarti 'ingat lebih benar' demi kesehatan mental dan pengambilan keputusan yang lebih rasional."
Prediksi Kami
Di masa depan, kesadaran akan keterbatasan memori manusia akan mendorong pengembangan teknik psikologis dan terapi yang fokus pada rekonstruksi dan pengelolaan memori daripada sekadar mengandalkan penguatan ingatan secara berlebihan.





