Indonesia Tambah Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat
Courtesy of CNBCIndonesia

Indonesia Tambah Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat

Memberikan informasi terbaru tentang potensi bahaya gempa di zona Megathrust Indonesia dan pentingnya pengembangan sistem pemantauan untuk mitigasi bencana gempa yang lebih efektif.

27 Jan 2026, 13.40 WIB
109 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Peta bahaya gempa terbaru menunjukkan peningkatan potensi risiko di Indonesia.
  • Pemantauan jangka panjang menggunakan teknologi seperti GNSS penting untuk mitigasi bencana.
  • Fenomena pergeseran lambat dapat menjadi indikator awal terjadinya gempa besar di zona Megathrust.
Jakarta, Indonesia - Pembaruan terbaru Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa zona Megathrust di Indonesia meningkat menjadi 14 titik, dengan potensi gempa yang lebih besar dibandingkan peta sebelumnya tahun 2017. Zona-zona ini tersebar dari Aceh hingga Filipina Selatan dan memiliki potensi gempa dengan magnitudo hingga 9,2.
Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menyoroti kesamaan geologi Indonesia dengan zona Nankai Trough di Jepang yang aktif secara seismik. Dia menjelaskan bahwa meskipun waktu gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi dengan teknologi GNSS dan pengukuran dasar laut menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana gempa.
Fenomena slow slip event, yaitu pergeseran lambat pada zona subduksi, dianggap sebagai salah satu indikator awal gempa besar yang terjadi berulang kali di Jepang. Heki menyebut Indonesia harus mengembangkan sistem pemantauan serupa guna membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih akurat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa istilah 'menunggu waktu' terkait gempa besar bukan prediksi waktu pastinya, melainkan menunjukkan akumulasi energi yang tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar di wilayah tertentu seperti Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Dengan potensi gempa yang besar di berbagai zona Megathrust dan teknologi pemantauan yang lebih canggih, Indonesia harus meningkatkan kesiapsiagaan dan sistem mitigasi bencana untuk mengurangi risiko dampak gempa besar di masa depan.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260127130431-37-705642/zona-megathrust-ri-berubah-pakar-jepang-tunjuk-wilayah-bahaya

Analisis Ahli

Profesor Kosuke Heki
"Pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi jangka panjang menggunakan GNSS dan teknologi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan dan memahami fenomena slow slip event sebagai indikator awal gempa besar."

Analisis Kami

"Penambahan titik zona Megathrust menunjukkan bahwa risiko gempa besar di Indonesia lebih tersebar luas daripada yang diperkirakan sebelumnya, menuntut perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Upaya integrasi teknologi pemantauan GNSS dan pengukuran dasar laut sangat krusial untuk meminimalisir dampak bencana di masa depan."

Prediksi Kami

Dengan perluasan zona Megathrust dan akumulasi tegangan yang tinggi, Indonesia berpotensi mengalami gempa besar dalam beberapa dekade ke depan, yang mengharuskan peningkatan sistem pemantauan dan kesiapsiagaan bencana secara nasional.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang dimaksud dengan Zona Megathrust di Indonesia?
A
Zona Megathrust di Indonesia adalah area geologis yang memiliki potensi tinggi untuk terjadi gempa besar, yang kini tercatat ada 14 titik.
Q
Mengapa Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 menjadi lebih penting?
A
Peta terbaru menunjukkan potensi bahaya yang lebih tinggi dibandingkan dengan peta yang dirilis pada 2017, serta menyoroti rapatnya kontur bahaya di beberapa wilayah.
Q
Siapa Profesor Kosuke Heki dan apa kontribusinya dalam penelitian gempa?
A
Profesor Kosuke Heki adalah peneliti dari Hokkaido University yang menyoroti kemiripan geologi Indonesia dengan zona Nankai Trough dan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi.
Q
Apa yang dimaksud dengan slow slip event dalam konteks gempa bumi?
A
Slow slip event adalah fenomena pergeseran lambat yang terjadi sebelum gempa besar dan dapat menjadi indikator awal terjadinya gempa.
Q
Mengapa BMKG menyebut ada kondisi seismic gap di beberapa zona?
A
BMKG menyatakan bahwa kondisi seismic gap terjadi di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, yang berarti energi besar akumulasi di area tersebut karena tidak terjadi gempa dalam waktu lama.