Perubahan Iklim dan Teknologi AI Kunci Atasi Banjir Ekstrem Jakarta
Courtesy of CNBCIndonesia

Perubahan Iklim dan Teknologi AI Kunci Atasi Banjir Ekstrem Jakarta

Menginformasikan penyebab dan mekanisme peningkatan cuaca ekstrem di Indonesia serta mendorong transformasi sistem peringatan dini menggunakan teknologi canggih untuk mitigasi bencana hidrometeorologi yang lebih efektif.

07 Feb 2026, 13.45 WIB
132 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Perubahan iklim menyebabkan peningkatan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di Indonesia.
  • Mitigasi bencana memerlukan sistem peringatan dini yang canggih dan berbasis sains.
  • Kondisi lingkungan yang lemah, seperti perubahan tutupan lahan, berkontribusi terhadap kerentanan Jakarta terhadap banjir.
Jakarta, Indonesia - Perubahan iklim global semakin nyata dengan meningkatnya kejadian cuaca ekstrem, seperti hujan deras yang menyebabkan banjir dan siklon tropis yang melanda beberapa wilayah Indonesia, terutama Jakarta dan pantai utara Jawa. Hal ini menyebabkan bencana hidrometeorologi yang berdampak besar pada masyarakat dan infrastruktur.
Profesor Eddy Hermawan dari BRIN menjelaskan bahwa hujan ekstrem dengan durasi pendek biasanya disebabkan oleh gelombang atmosfer ekuatorial seperti Kelvin wave. Sedangkan hujan deras yang berlangsung lama dalam hari bahkan minggu dipicu oleh fenomena La Niña dan Indian Ocean Dipole, yang membuat hujan terus-menerus terjadi.
Jakarta merupakan wilayah yang ideal terbentuknya pusaran atmosfer, karena kondisi geografis seperti dataran aluvial dan pantai landai serta pemanasan intensif yang terjadi lebih dari 12 jam setiap hari. Hal ini mengakibatkan pusaran angin kuat dan hujan deras lama di satu wilayah yang memicu banjir besar.
Dalam upaya mitigasi bencana, Eddy menekankan pentingnya mengembangkan sistem peringatan dini dengan memanfaatkan teknologi AI, big data, machine learning, dan deep learning. Hal ini diharapkan dapat menghasilkan prediksi cuaca yang lebih akurat, tepat waktu, dan sesuai lokasi yang akan terdampak.
Selain faktor atmosfer, peran lingkungan juga tidak kalah penting. Perubahan tutupan lahan dari hutan hijau menjadi daerah beton mengurangi ruang resapan air, sehingga banjir Jakarta bukan hanya soal curah hujan melainkan juga ketidaksiapan lanskap kota dalam menghadapi bebaban hidrometeorologi yang ekstrem.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260207131938-37-709071/brin-ungkap-beda-tipe-hujan-efek-la-nina-vs-gelombang-atmosfer

Analisis Ahli

Prof. Eddy Hermawan
"Pentingnya mengadopsi teknologi canggih seperti AI dan machine learning dalam prediksi cuaca ekstrem untuk mendapatkan hasil yang lebih presisi dan tepat waktu."
Ahmad Fauzi (Ahli Meteorologi Nasional)
"Pemahaman mendalam tentang fenomena atmosfer dan iklim regional sangat krusial dalam menghadapi risiko banjir di kota besar seperti Jakarta."

Analisis Kami

"Situasi hidrometeorologi di Jakarta menggambarkan akibat nyata dari perubahan iklim yang sudah tidak bisa dianggap remeh lagi. Pengintegrasian teknologi mutakhir seperti AI dalam sistem peringatan dini mutlak diperlukan untuk meminimalkan risiko bencana, sementara perbaikan tata ruang dan lingkungan kota harus segera dilakukan agar masalah banjir tak terus berulang."

Prediksi Kami

Fenomena cuaca ekstrem kemungkinan akan semakin sering dan parah terjadi di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan yang memiliki daya resap air rendah, jika mitigasi dengan teknologi canggih dan penataan lingkungan tidak segera diperbaiki.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang diungkapkan Prof. Eddy Hermawan tentang perubahan iklim?
A
Prof. Eddy Hermawan menyatakan bahwa perubahan iklim bukan lagi teori, melainkan aksi nyata yang ditandai dengan peningkatan cuaca ekstrem dan ancaman baru seperti siklon tropis.
Q
Apa penyebab hujan ekstrem yang terjadi di Indonesia?
A
Hujan ekstrem dipicu oleh gelombang atmosfer seperti Kelvin wave untuk durasi pendek, dan oleh fenomena La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD) untuk durasi panjang.
Q
Bagaimana siklon tropis terbentuk di wilayah Jakarta?
A
Siklon tropis terbentuk karena wilayah Jakarta mengalami pemanasan dan memiliki dataran aluvial, yang menciptakan pusat tekanan rendah.
Q
Apa yang perlu dilakukan untuk mitigasi bencana hidrometeorologi?
A
Mitigasi bencana hidrometeorologi memerlukan transformasi sistem peringatan dini dengan menggunakan teknologi seperti AI dan big data untuk prediksi yang lebih akurat.
Q
Mengapa perubahan tutupan lahan menjadi masalah bagi Jakarta?
A
Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi 'hutan beton' mengurangi ruang resapan air, sehingga memperburuk masalah banjir di Jakarta.