
ArXiv, platform pra-cetak ilmiah yang sangat populer, mengumumkan perubahan kebijakan penting mulai tanggal 11 Februari. Setiap manuskrip yang dikirim ke arXiv harus menggunakan bahasa Inggris secara penuh atau menyertakan terjemahan lengkap dalam bahasa Inggris. Sebelumnya, hanya abstrak saja yang wajib dalam bahasa Inggris.
Kebijakan baru ini bertujuan untuk mempermudah para moderator dalam menilai karya yang masuk serta untuk mempertahankan jangkauan pembaca internasional yang luas. Moderator arXiv bertugas memeriksa kelayakan dan topik manuskrip, walaupun situs ini tidak melakukan peer review formal.
Meskipun hanya sekitar 1% kontribusi non-Inggris di arXiv, perubahan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan beberapa penulis, terutama matematikawan dan akademisi yang khawatir beban terjemahan dapat mengurangi keinginan mereka dalam menyebarkan karya yang belum atau tidak diterbitkan secara formal, seperti tesis atau bab buku.
Sebagai solusi, arXiv mengizinkan penggunaan terjemahan otomatis berbasis AI, seperti yang dibuat oleh chatbot dan model bahasa besar (LLM), dengan catatan terjemahan tersebut harus diperiksa ulang agar hasilnya tetap akurat dan sesuai dengan makna aslinya. Pengalaman saat ini menunjukkan bahwa meskipun terjemahan AI bagus, tetapi belum cukup sempurna untuk penggunaan akademik tanpa pengecekan.
Peneliti dari Stanford, James Zou dan Hannah Kleidermacher, menguji kemampuan GPT-4o dalam menerjemahkan dokumen ilmiah dan mengevaluasi hasilnya melalui kuis otomatis. Hasilnya menunjukkan potensi besar penggunaan AI ini dalam terjemahan teks ilmiah, yang dapat membantu memenuhi kebijakan baru arXiv di masa depan.