Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Peringatan Megatsunami Apokaliptik: Gelombang 200 Meter Mengancam

Share

Para pakar dan ilmuwan mengeluarkan peringatan tentang potensi terjadi megatsunami dengan gelombang setinggi 200 meter yang dapat melanda Greenland. Penemuan ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan dan penelitian untuk mengantisipasi bencana besar yang dapat mengancam keselamatan global.

02 Feb 2026, 14.00 WIB

Bahaya Perubahan Arus Laut Atlantik: Ancaman Iklim Global Semakin Nyata

Bahaya Perubahan Arus Laut Atlantik: Ancaman Iklim Global Semakin Nyata
Para ilmuwan menemukan bahwa air di Samudra Atlantik mulai surut akibat perubahan drastis pada arus laut besar yang disebut Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC). AMOC adalah sistem arus yang penting karena membantu mengatur panas dan nutrisi di seluruh dunia. Perubahan jangka panjang yang tercatat sejak tahun 1950 menunjukkan bahwa kekuatan AMOC telah menurun sekitar 15%. Penurunan ini adalah yang terlemah dalam seribu tahun terakhir dan berasal dari pencairan cepat es di Greenland dan Kutub Utara yang menghasilkan lebih banyak air tawar ke laut. Penurunan AMOC dapat menyebabkan perubahan besar pada pola iklim, seperti perubahan musim hujan dan kemarau di hutan Amazon. Wilayah tertentu di Bumi bagian selatan akan menjadi lebih hangat, sementara Eropa diperkirakan mengalami suhu lebih dingin dan curah hujan berkurang. Beberapa pihak, seperti Kantor Meteorologi Inggris, mempertanyakan kemungkinan runtuhnya AMOC pada abad ini, menyebutnya masih sangat tidak mungkin terjadi. Namun para peneliti tetap memperingatkan agar tetap waspada terhadap konsekuensi perubahan iklim dan arus laut. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan iklim global sudah nyata dan memberikan tanda-tanda bahwa kondisi lingkungan di Bumi bisa berubah drastis dalam beberapa dekade mendatang. Penting bagi semua pihak untuk memahami dan mengambil tindakan agar dampaknya dapat diminimalkan.
01 Feb 2026, 08.15 WIB

Prediksi Kiamat 2026 dan Dampak Perubahan Iklim di Asia yang Mengerikan

Prediksi Kiamat 2026 dan Dampak Perubahan Iklim di Asia yang Mengerikan
Populasi manusia yang terus bertambah memunculkan keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pangan, yang dulu diprediksi oleh Thomas Malthus. Namun, ramalan ini dianggap salah karena kemajuan teknologi mampu meningkatkan produksi makanan dengan cepat. Meski demikian, ahli fisika Heinz von Foerster justru memperingatkan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun kiamat karena pertumbuhan manusia yang tidak terkendali pada akhirnya akan melampaui kemampuan bumi menampungnya. Menurut Foerster, teknologi tidak mampu mengimbangi pertumbuhan populasi yang sangat pesat sehingga tanpa intervensi pemerintah, situasi ini bakal semakin memburuk. Salah satu solusi adalah kebijakan pengendalian populasi misalnya pajak tinggi bagi keluarga yang memiliki lebih dari dua anak. Prediksi ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat dunia agar lebih sadar akan konsekuensi pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan regulasi. Selain masalah populasi, laporan Badan Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun terhangat kedua di Asia dengan gelombang panas yang meluas dan berkepanjangan. Fenomena ini sangat mempengaruhi berbagai wilayah pesisir dimana kenaikan muka air laut dan suhu permukaan laut yang tinggi menimbulkan risiko bencana yang semakin besar seperti banjir dan kekeringan yang merusak lahan pertanian dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Berbagai bencana alam termasuk banjir besar di Asia Tengah, gelombang panas hebat di India, dan badai tropis menghantam beberapa negara Asia pada tahun 2024. Jumlah korban dan kerusakan cukup besar sehingga memperlihatkan dampak serius dari perubahan iklim yang harus segera diatasi secara global, khususnya di wilayah yang rentan mengalami pemanasan lebih cepat dari rata-rata dunia. Kajian dari USAID memperingatkan kenaikan air laut bisa menenggelamkan 2.000 pulau kecil pada tahun 2050, yang akan merugikan sekitar 42 juta penduduk. Informasi ini harus menjadi pengingat dan motivasi bagi pemerintah serta masyarakat di seluruh dunia untuk melakukan langkah nyata dan terkoordinasi dalam mengurangi dampak perubahan iklim dan mengendalikan pertumbuhan populasi agar hidup bersama bumi tetap berkelanjutan.
29 Jan 2026, 18.20 WIB

Megatsunami 200 Meter di Greenland: Peringatan Keras Dampak Perubahan Iklim

Megatsunami 200 Meter di Greenland: Peringatan Keras Dampak Perubahan Iklim
Pada tahun 2023, sebuah mega tsunami dengan ketinggian sekitar 200 meter terjadi di Greenland dan baru terdeteksi oleh para ilmuwan setahun setelah bencana tersebut berlangsung. Kejadian ini memicu rasa heran karena ukurannya yang sangat besar dan dampaknya yang masif terhadap lingkungan sekitar. Para peneliti menemukan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena longsoran besar yang melibatkan sekitar 25 juta meter kubik batu dan es yang terjatuh dari tebing setinggi 600 sampai 900 meter di wilayah Fjord Greenland. Longsor ini memicu gelombang tsunami yang sangat besar dan merusak. Melalui citra satelit, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi setidaknya empat longsor tambahan yang terjadi di lokasi yang sama, menunjukkan betapa rentannya daerah ini terhadap bencana alam jenis seperti ini. Kerjasama internasional dan pendekatan interdisipliner sangat membantu dalam mengungkap misteri kejadian ini. Para ahli juga mengaitkan kejadian ini dengan perubahan iklim yang menyebabkan suhu ekstrem antara musim panas dan musim dingin, serta pencairan lapisan es yang membuat lereng sulit menopang bebatuan dan es, sehingga memicu longsor besar pada musim semi. Kejadian ini menjadi peringatan penting bagi umat manusia untuk lebih serius menjaga lingkungan dan mengatasi pemanasan global agar bencana alam yang lebih besar dan berdampak luas tidak terjadi di masa depan.
29 Jan 2026, 18.20 WIB

Megatsunami 200 Meter di Greenland: Dampak Perubahan Iklim yang Mengancam Bumi

Megatsunami 200 Meter di Greenland: Dampak Perubahan Iklim yang Mengancam Bumi
Pada tahun 2023, terjadi megatsunami setinggi 200 meter yang melanda wilayah Fjord Greenland. Kejadian ini baru terdeteksi dan diketahui oleh para ilmuwan setahun setelah bencana terjadi melalui upaya penelitian dan analisis citra satelit. Longsor besar yang menyebabkan megatsunami ini melibatkan sekitar 25 juta meter kubik batu dan es yang jatuh dari lereng sepanjang 600 sampai 900 meter. Para peneliti menemukan empat longsor baru selain yang sudah diketahui sebelumnya di wilayah tersebut. Kejadian ini sangat terkait dengan perubahan iklim yang terjadi di kawasan Greenland. Perbedaan suhu ekstrem antara musim panas dan dingin menyebabkan lapisan es mencair dan tidak lagi menopang tanah sehingga memicu longsor yang akhirnya menyebabkan tsunami besar. Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan pola presipitasi dan hilangnya penopang es berkontribusi terhadap tingginya risiko longsor dan bencana alam lainnya di daerah yang terdampak perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim bisa beragam dan sangat berbahaya. Kejadian megatsunami di Greenland mengingatkan kita akan urgensi menjaga lingkungan dan mempercepat tindakan mitigasi terhadap perubahan iklim demi mencegah terjadinya bencana besar yang dapat mengancam kehidupan manusia dan kelestarian bumi.

Baca Juga

  • Rebalancing Ilmu Pengetahuan Global: Migrasi Talenta AS–Cina dan Investasi Kolaboratif

  • Tantangan Meningkat di Indonesia: Cuaca Ekstrem dan Bahaya Geologis

  • Peringatan Megatsunami Apokaliptik: Gelombang 200 Meter Mengancam

  • Reformasi Penerbitan Ilmiah di Era Media Sosial

  • Pengungkapan Kosmik: Menyingkap Rahasia Pembentukan Bintang dan Supernova