Pada Januari 2026, produsen kendaraan listrik terbesar di China mengalami penurunan penjualan yang signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh berkurangnya dukungan dari pemerintah, termasuk pengenaan kembali pajak pembelian dan pengurangan subsidi tunai bagi pembeli kendaraan listrik. Kondisi ini membuat pasar kendaraan listrik di China menjadi sangat kompetitif dan menantang untuk para produsen utama.
BYD, yang dikenal sebagai pembuat kendaraan listrik terbesar di dunia, mencatat penurunan penjualan sebesar 50 persen dibandingkan bulan sebelumnya dengan hanya 210.051 unit kendaraan yang terjual di seluruh dunia. Penjualan yang rendah ini menjadi yang terendah sejak Februari 2024. Imbasnya, harga saham BYD di Hong Kong juga turun drastis sebesar 7,8 persen menjadi HKRp 150.47 juta ($90,10) .
Selain BYD, produsen lain seperti Xpeng dan Li Auto juga mengalami penurunan penjualan yang cukup besar. Xpeng melaporkan penurunan 46,7 persen dalam pengiriman kendaraan dengan total 20.011 unit terjual, sehingga harga sahamnya turun 9 persen menjadi HKRp 108.88 juta ($65,20) . Li Auto melanjutkan tren negatifnya dengan penurunan penjualan 37,5 persen, menurunkan harga sahamnya sebesar 3,6 persen ke HKRp 109.47 juta ($65,55) .
Para analis dan pemerhati industri seperti Ivan Li dari Loyal Wealth Management mengingatkan bahwa penurunan penjualan ini merupakan tanda bahwa industri kendaraan listrik akan menghadapi tahun yang penuh tantangan. Kebijakan pemerintah yang kembali memberlakukan pajak dan pengurangan subsidi menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan penjualan terutama untuk kendaraan dengan harga terjangkau.
Situasi ini menunjukkan bahwa produsen kendaraan listrik harus segera menyesuaikan strategi bisnis mereka agar dapat bertahan di tengah tekanan pasar dan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Tahun 2026 diprediksi menjadi tahun yang sulit bagi industri kendaraan listrik di China dengan pergerakan pasar saham dan penjualan yang masih berpotensi menurun.