Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Pasar EV China: Menavigasi Penurunan Penjualan dan Munculnya Pesaing Baru

Share

Cerita ini mengulas dinamika pasar kendaraan listrik di China, dengan fokus pada penurunan penjualan, strategi pembiayaan kompetitif antara pemain besar seperti Tesla dan Xiaomi, serta munculnya inovator baru seperti pembuat mobil terbang yang dikenal sebagai 'Tesla killer'. Dengan mengaitkan kebijakan pajak dan insentif pemerintah, cerita ini menyoroti tantangan dan terobosan penting untuk menggerakkan masa depan mobilitas berkelanjutan.

05 Feb 2026, 16.05 WIB

CATL Luncurkan Baterai Sodium-Ion Naxtra yang Lebih Tahan Dingin untuk Mobil Listrik

CATL Luncurkan Baterai Sodium-Ion Naxtra yang Lebih Tahan Dingin untuk Mobil Listrik
Perusahaan baterai asal Cina, Contemporary Amperex Technology (CATL), telah mengembangkan baterai sodium-ion pertama di dunia yang akan dipasang dalam mobil listrik penumpang. Ini merupakan terobosan baru di pasar kendaraan listrik yang didominasi oleh baterai lithium-ion yang harga dan ketahanannya dipertanyakan. Baterai baru bernama Naxtra ini akan diuji di Inner Mongolia, sebuah wilayah yang dikenal dengan suhu dinginnya. Tujuannya adalah untuk memastikan baterai tersebut bisa berfungsi optimal di kondisi ekstrem dan lebih stabil dibanding baterai sebelumnya. Changan Automobile Group, perusahaan otomotif yang akan memakai baterai Naxtra, akan memasang jenis baterai ini ke seluruh produknya, termasuk model Avatr, Deepal, Qiyuan, dan Uni. Langkah ini juga sejalan dengan strategi nasional Cina untuk menyediakan kendaraan listrik yang lebih aman dan terjangkau. CATL dan Changan menyebut baterai sodium-ion selain lebih tahan suhu dingin, juga menawarkan ketahanan harga yang lebih baik dan pertumbuhan teknologi yang lebih berkelanjutan. Uji coba juga akan dilakukan pada model Avatr 12 yang akan diuji di Antartika, menandai kendaraan listrik pertama yang memasuki benua es tersebut. Teknologi baterai sodium-ion ini berpotensi menjadi alternatif signifikan bagi pasar kendaraan listrik, terutama bagi konsumen yang membutuhkan performa baterai optimal dalam suhu dingin dan harga yang lebih stabil dalam jangka panjang.
05 Feb 2026, 14.05 WIB

CATL Luncurkan dan Ujikan Baterai Sodium-Ion Lebih Tahan Dingin untuk Mobil Listrik

CATL Luncurkan dan Ujikan Baterai Sodium-Ion Lebih Tahan Dingin untuk Mobil Listrik
CATL, perusahaan baterai terbesar dunia, kini memperkenalkan baterai sodium-ion bernama Naxtra yang akan diuji dalam mobil listrik di China. Baterai ini dirancang untuk lebih stabil harganya dan tahan terhadap suhu dingin dibandingkan baterai lithium-ion yang banyak digunakan sekarang. Baterai Naxtra akan dipasang pada mobil listrik dari perusahaan China Changan dan diuji di wilayah Inner Mongolia yang dingin. Hal ini penting untuk mengetahui apakah baterai ini dapat bekerja dengan baik di iklim ekstrim seperti musim dingin yang sangat dingin. Teknologi sodium-ion diklaim mampu memberikan ketahanan yang lebih baik dan rentang suhu penggunaan yang lebih luas. Ini membuat mobil listrik dengan baterai ini bisa digunakan dengan lebih aman dan tahan lama di berbagai kondisi cuaca. Changan berencana menggunakan baterai sodium-ion ini di seluruh mereknya, termasuk model Avatr, Deepal, Qiyuan, dan Uni. Bahkan mereka berambisi untuk menguji model Avatr 12 di Antartika, menjadi mobil listrik sedan pertama yang melaju di benua es tersebut. Langkah ini sejalan dengan strategi China untuk menghadirkan kendaraan listrik yang aman, murah, dan tahan lama agar semakin banyak orang dapat menggunakan teknologi ramah lingkungan ini demi masa depan yang lebih baik.
04 Feb 2026, 20.47 WIB

Penjualan Mobil Listrik di Cina Melorot Tajam Karena Insentif Pajak Dicabut

Penjualan Mobil Listrik di Cina Melorot Tajam Karena Insentif Pajak Dicabut
Penjualan kendaraan listrik di Cina mengalami penurunan yang signifikan pada bulan Januari, turun sekitar 42,3 persen dibandingkan bulan Desember sebelumnya. Hal ini terjadi setelah pemerintah mulai mengurangi insentif pajak yang selama ini mendorong pertumbuhan cepat di sektor ini. Dampak terbesar dirasakan oleh para produsen besar seperti Tesla, BYD, dan Xpeng yang mencatat penurunan penjualan tajam. Data dari China Passenger Car Association menunjukkan bahwa total penjualan kendaraan listrik mencapai sekitar 900.000 unit pada Januari, jauh lebih sedikit dibandingkan 1,56 juta unit di bulan Desember. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan sektor EV yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri otomotif di Cina. Para ahli dan pelaku pasar menilai bahwa perlambatan ini merupakan akibat dari pengurangan dukungan pemerintah, termasuk insentif pajak yang telah menguntungkan konsumen dan produsen. Selain itu, kenaikan biaya produksi juga menambah tekanan finansial pada perusahaan-perusahaan otomotif tersebut, membuat keuntungan menjadi lebih sulit dicapai. Tesla yang memproduksi Model 3 dan Model Y di pabrik Shanghai mengalami penurunan penjualan hampir 29 persen dalam satu bulan, sementara perusahaan lain seperti BYD dan Xpeng juga menghadapi tren serupa. Hal ini menunjukkan bahwa perlambatan bukan hanya masalah satu merek, melainkan tantangan yang dihadapi seluruh industri kendaraan listrik di Cina. Situasi ini menandakan bahwa sektor EV di Cina mungkin memasuki fase baru yang penuh ketidakpastian. Produsen perlu menemukan strategi baru untuk tetap kompetitif, misalnya dengan inovasi teknologi atau efisiensi produksi, sementara pemerintah harus mempertimbangkan kembali kebijakan untuk mendukung pertumbuhan industri ini agar tidak kehilangan momentum di pasar global.
04 Feb 2026, 14.00 WIB

China dan Kanada Sepakati Tarif, Dongkrak Era Baru Mobil Listrik dan Terbang

China dan Kanada Sepakati Tarif, Dongkrak Era Baru Mobil Listrik dan Terbang
China sedang melaju pesat dalam pengembangan kendaraan listrik dan kendaraan terbang. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka berhasil menyaingi nama besar seperti Tesla dengan mobil listrik premium asli buatan mereka sendiri. Ini menandai kemajuan besar dan kebanggaan nasional bagi sektor otomotif di China. Selain mobil listrik, China juga mulai mendukung teknologi kendaraan terbang listrik yang disebut eVTOL. Pemerintahnya berambisi untuk meluncurkan layanan komersial untuk kendaraan ini pada tahun 2026, yang dapat menjadi terobosan baru di industri transportasi dan membuka pasar baru bagi inovasi rendah-tinggi di udara. Beijing dan Ottawa, ibu kota Kanada, baru saja menandatangani perjanjian penting yang menurunkan tarif impor kendaraan listrik asal China. Hal ini dinilai sebagai kemenangan besar bagi China dan memperkuat posisi mereka di pasar kendaraan listrik global yang semakin kompetitif. Para analis mengamati bahwa perjanjian ini menandakan kemunduran posisi AS dalam pasar kendaraan listrik internasional. China semakin mengukuhkan dirinya sebagai kekuatan utama dengan inovasi dan kerja sama perdagangan yang erat, terutama dengan negara-negara lain seperti Kanada. Dari semua ini, jelas bahwa masa depan industri kendaraan listrik dan terbang bakal sangat dipengaruhi oleh strategi China. Kemajuan teknologi dan peningkatan akses pasar global berpotensi mengubah cara kita berpikir tentang transportasi dan perdagangan otomotif dunia.
04 Feb 2026, 11.00 WIB

Pinjaman Bunga Rendah Gantikan Diskon Saat Penjualan Mobil Listrik China Menurun

Pinjaman Bunga Rendah Gantikan Diskon Saat Penjualan Mobil Listrik China Menurun
Pasar kendaraan listrik di China saat ini mengalami tekanan besar akibat penurunan insentif pemerintah dan kenaikan harga bahan baku. Produsen kendaraan listrik besar seperti Tesla dan beberapa perusahaan lokal berlomba mencari cara baru untuk menarik pembeli selain memberikan diskon harga langsung. Diskon yang sudah pernah diberikan sebelumnya tidak efektif karena menggerus margin keuntungan mereka. Tesla memimpin dengan menawarkan pinjaman mobil jangka waktu tujuh tahun dengan bunga hanya 1,36 persen per tahun, yang merupakan pinjaman jangka panjang pertama dalam sejarah industri mobil di China. Dengan pinjaman ini, pembeli dapat memiliki mobil dengan pembayaran bulanan kurang dari 2,000 yuan setelah membayar uang muka sekitar 80,000 yuan. Strategi pinjaman bunga rendah ini kemudian diikuti oleh produsen EV lain seperti Nio, Xpeng, dan Xiaomi yang juga menawarkan skema pembiayaan serupa. Ini menunjukkan tren baru dalam persaingan pasar yang lebih fokus pada alternatif pembiayaan daripada perang harga yang bisa merugikan semua pihak. Meskipun strategi ini lebih menguntungkan daripada perang diskon, masalah fundamental seperti melemahnya permintaan pasar dan kenaikan biaya bahan baku tetap menjadi kendala besar. Investor dan produsen harus mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan dukungan kebijakan pemerintah untuk menjaga pertumbuhan pasar EV. Secara keseluruhan, pasar kendaraan listrik di China berada di titik kritis. Penawaran pinjaman jangka panjang dan bunga rendah mungkin akan memperlambat penurunan penjualan, namun keberlanjutan pasar EV masih tergantung pada kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah yang mendukung sektor ini.
02 Feb 2026, 14.00 WIB

Penjualan Kendaraan Listrik China Turun Tajam, Saham BYD dan Nio Jatuh

Pada Januari 2026, produsen kendaraan listrik terbesar di China mengalami penurunan penjualan yang signifikan. Hal ini terutama disebabkan oleh berkurangnya dukungan dari pemerintah, termasuk pengenaan kembali pajak pembelian dan pengurangan subsidi tunai bagi pembeli kendaraan listrik. Kondisi ini membuat pasar kendaraan listrik di China menjadi sangat kompetitif dan menantang untuk para produsen utama. BYD, yang dikenal sebagai pembuat kendaraan listrik terbesar di dunia, mencatat penurunan penjualan sebesar 50 persen dibandingkan bulan sebelumnya dengan hanya 210.051 unit kendaraan yang terjual di seluruh dunia. Penjualan yang rendah ini menjadi yang terendah sejak Februari 2024. Imbasnya, harga saham BYD di Hong Kong juga turun drastis sebesar 7,8 persen menjadi HKRp 150.47 juta ($90,10) . Selain BYD, produsen lain seperti Xpeng dan Li Auto juga mengalami penurunan penjualan yang cukup besar. Xpeng melaporkan penurunan 46,7 persen dalam pengiriman kendaraan dengan total 20.011 unit terjual, sehingga harga sahamnya turun 9 persen menjadi HKRp 108.88 juta ($65,20) . Li Auto melanjutkan tren negatifnya dengan penurunan penjualan 37,5 persen, menurunkan harga sahamnya sebesar 3,6 persen ke HKRp 109.47 juta ($65,55) . Para analis dan pemerhati industri seperti Ivan Li dari Loyal Wealth Management mengingatkan bahwa penurunan penjualan ini merupakan tanda bahwa industri kendaraan listrik akan menghadapi tahun yang penuh tantangan. Kebijakan pemerintah yang kembali memberlakukan pajak dan pengurangan subsidi menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan penjualan terutama untuk kendaraan dengan harga terjangkau. Situasi ini menunjukkan bahwa produsen kendaraan listrik harus segera menyesuaikan strategi bisnis mereka agar dapat bertahan di tengah tekanan pasar dan kebijakan pemerintah yang berubah-ubah. Tahun 2026 diprediksi menjadi tahun yang sulit bagi industri kendaraan listrik di China dengan pergerakan pasar saham dan penjualan yang masih berpotensi menurun.

Baca Juga

  • Pemerintah Tingkatkan Pengawasan terhadap Privasi Pengguna oleh Raksasa Teknologi

  • Restrukturisasi Strategis Industri Semikonduktor di Tengah Persaingan Global

  • Meningkatnya Penipuan Finansial Digital di Indonesia

  • Amazon Perluas Jangkauan Konsumen dengan Peluncuran Alexa+

  • Alat Coding Agens yang Merevolusi Produktivitas Pengembang