
Samsung dan Apple masih menjadi pemain utama pasar smartphone dunia dengan masing-masing menguasai sekitar 19% pangsa pasar di tahun 2025. Meski demikian, hasil riset dari dua firma berbeda, Omdia dan Counterpoint, menunjukkan perbedaan kecil dalam angka dan posisi pasar, dengan Counterpoint menempatkan Apple sebagai pemuncak pangsa pasar.
Meskipun merek-merek besar asal China seperti Xiaomi, Oppo, dan Huawei sudah terkenal, Honor muncul sebagai merek yang mencatat pertumbuhan pasar paling tinggi yaitu 11% sepanjang 2025. Hal ini menunjukkan perubahan peta persaingan baru di industri smartphone dengan merek-merek China yang mulai merangsek ke level global.
Namun, industri smartphone sedang menghadapi tantangan berat dari krisis rantai pasok komponen seperti DRAM dan semikonduktor yang menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga komponen. Kondisi ini mulai berdampak pada harga jual perangkat, terutama di segmen smartphone murah yang memiliki margin keuntungan paling tipis.
Beberapa vendor besar di Indonesia, seperti vivo dan ASUS, sudah mengumumkan adanya penyesuaian harga produk yang bersifat selektif sesuai segmen pasar dan struktur biaya. Penyesuaian harga ini diperkirakan akan dirasakan secara luas oleh konsumen selama 2026 dan mungkin bertahan hingga awal 2027.
Para analis memprediksi tekanan dari kelangkaan komponen dan dinamika harga akan terus menghantui industri smartphone, memaksa vendor untuk melakukan inovasi sekaligus strategi pengelolaan biaya yang lebih efisien agar dapat bertahan dan memenuhi kebutuhan pasar yang masih dinamis.