Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Tantangan Kompetitif dan Teknis pada Misi Bulan dan Antariksa

Share

Cerita ini mengulas berbagai hambatan di sektor eksplorasi antariksa, mulai dari kendala teknis pada misi Bulan, ancaman tabrakan asteroid, hingga persaingan ketat antara negara seperti AS dan Tiongkok dalam mengejar dominasi luar angkasa. Upaya mengintegrasikan inovasi seperti AI dan sistem pengendalian baru turut menjadi sorotan dalam usaha mengatasi ancaman-ancaman tersebut.

12 Feb 2026, 20.00 WIB

Cina Capai Tonggak Penting dalam Perlombaan Pendaratan Bulan Berawak

Cina Capai Tonggak Penting dalam Perlombaan Pendaratan Bulan Berawak
Cina berhasil melakukan uji terbang kunci selama delapan menit yang menguji teknologi utama dalam sistem pendaratan bulan berawak mereka. Uji terbang ini melibatkan pelarian udara kapsul awak Mengzhou dan peluncuran serta pendaratan tahap inti roket bulan, sebuah langkah yang menandai kemajuan besar dalam program luar angkasa negara tersebut. Para ahli seperti Rand Simberg menyebut keberhasilan uji coba ini sebagai tanda kesiapan China untuk mengirim astronot ke bulan, menunjukkan bahwa negara ini mendekati target pendaratan berawak sebelum tahun 2030. Hal ini menempatkan China sejajar dengan Amerika Serikat dalam perlombaan eksplorasi bulan. Sementara itu, NASA yang tengah mempersiapkan peluncuran misi Artemis II, berencana mengirim awak manusia mengelilingi bulan dalam waktu dekat. Namun, misi tersebut tidak akan melakukan pendaratan, menandakan bahwa Artemis II merupakan langkah awal yang penting dalam program eksplorasi bulan AS. Persaingan antar perusahaan antariksa Amerika seperti SpaceX dan Blue Origin semakin ketat dalam menawarkan teknologi pendarat bulan yang dapat digunakan untuk misi masa depan. Persaingan ini juga menambah dinamika kompleks dalam upaya pemerintah AS untuk mempertahankan keunggulan eksplorasi luar angkasa. Keberhasilan China pada uji terbang ini memicu spekulasi bahwa misi pendaratan berawak ke bulan oleh China akan menjadi kenyataan dalam waktu dekat, yang akan mengubah lanskap kompetisi luar angkasa global dan mungkin memicu akselerasi pengembangan teknologi serupa di seluruh dunia.
07 Feb 2026, 19.30 WIB

China Luncurkan Pesawat Luar Angkasa Reusable Jadi Tantangan X-37B AS

China Luncurkan Pesawat Luar Angkasa Reusable Jadi Tantangan X-37B AS
China pada tahun 2020 memulai program pesawat luar angkasa eksperimen yang dapat digunakan kembali, yang bertujuan mengembangkan teknologi canggih agar pesawat ini bisa terbang dan mendarat kembali setelah menyelesaikan misi di orbit. Program ini dianggap sebagai langkah penting bagi persaingan luar angkasa global. Pesawat yang belum resmi dinama dan spesifikasinya belum diumumkan disebut Shenlong atau ‘Naga Ilahi’ oleh para penggemar luar angkasa di China. Pesawat ini telah diluncurkan empat kali menggunakan roket Long March-2F di pusat peluncuran Jiuquan sejak 2020. Setiap peluncuran ini dilakukan untuk memverifikasi teknologi yang bisa digunakan kembali dan mengembangkan kemampuan pesawat dalam menjalankan misi dengan efektif. China menyatakan misi ini mendukung tujuan damai dalam pemanfaatan luar angkasa. Peluncuran pesawat ini juga dianggap sebagai langkah strategis oleh China untuk menyaingi kemampuan Amerika Serikat, khususnya dengan pesawat X-37B yang dimiliki oleh US Space Force dan telah memiliki pengalaman operasional yang cukup lama. Dari sudut pandang teknologi dan geopolitik, program ini menandai tonggak penting perkembangan teknologi luar angkasa di China dan memicu perhatian dunia akan kemungkinan perlombaan teknologi baru serta dampaknya pada keamanan ruang angkasa global.
04 Feb 2026, 20.20 WIB

NASA Tunda Peluncuran Artemis 2 Gara-gara Bocor Hidrogen saat Uji Coba

NASA Tunda Peluncuran Artemis 2 Gara-gara Bocor Hidrogen saat Uji Coba
NASA harus menunda peluncuran misi berawak Artemis 2 karena terjadi kebocoran hidrogen saat uji coba pengisian bahan bakar roket Space Launch System (SLS). Uji coba yang dimulai pada Sabtu malam ini sempat terganggu oleh masalah teknis, sehingga membuat proses simulasi peluncuran harus dihentikan lebih awal. Masalah kebocoran hidrogen muncul saat proses pengisian bahan bakar pada hari Senin dan ini bukan pertama kalinya terjadi. Tiga tahun lalu, misi Artemis 1 juga mengalami kendala yang sama, memaksa roket untuk kembali ke Vehicle Assembly Building beberapa kali sebelum bisa diluncurkan. Meski uji kali ini berjalan lebih baik dari sebelumnya karena tim berhasil mengisi penuh bahan bakar hingga fase hitung mundur akhir, kebocoran yang kembali terjadi memaksa mereka menghentikan uji coba pada saat hitung mundur mencapai kurang dari lima menit. Artemis 2 adalah misi penting karena akan membawa empat astronaut mengelilingi sisi jauh Bulan selama 10 hari dengan wahana Orion. Misi ini menjadi tahap krusial sebelum NASA melanjutkan misi Artemis 3 yang ditargetkan untuk mendaratkan manusia kembali ke permukaan Bulan. NASA memutuskan untuk melewatkan peluang peluncuran pada Februari dan menargetkan peluncuran Artemis 2 pada Maret. Meskipun uji coba gagal, data yang didapatkan tetap memberikan banyak informasi penting untuk perbaikan dan persiapan misi selanjutnya.

Baca Juga

  • Meningkatnya Kesigapan Terhadap Penyakit Infeksi di Era Pasca-Pandemi

  • Dorongan Teknologi Multifaset China di Tengah Persaingan Global

  • Tata Kelola Ilmiah Global dan Migrasi Talenta di Tengah Pergeseran Geopolitik

  • Tantangan Kompetitif dan Teknis pada Misi Bulan dan Antariksa

  • Membentuk Ulang Tata Kelola Ilmu Pengetahuan Global: Reformasi Regulasi dan Migrasi Bakat