Fokus
Sains

Tata Kelola Ilmiah Global dan Migrasi Talenta di Tengah Pergeseran Geopolitik

Share

Cerita ini membahas bagaimana tata kelola penelitian global mengalami reformasi melalui tekanan politik dan regulasi, yang mengakibatkan migrasi talenta antara negara besar seperti AS, Tiongkok, dan Eropa. Upaya kolaborasi dan investasi bersama menjadi kunci untuk mempertahankan dominasi dalam bidang sains.

12 Feb 2026, 08.00 WIB

Bao Zhirong Pindah ke Shenzhen untuk Teliti Otak dan Autisme dengan Teknologi Canggih

Bao Zhirong Pindah ke Shenzhen untuk Teliti Otak dan Autisme dengan Teknologi Canggih
Bao Zhirong adalah seorang ahli biologi komputasi ternama yang telah berkarier selama 30 tahun di Amerika Serikat. Ia dikenal karena kemampuannya dalam mengembangkan teknologi pencitraan yang memungkinkan para ilmuwan melacak perilaku sel secara real time, baik dalam proses pembentukan organ maupun perkembangan penyakit. Setelah lama bekerja di Memorial Sloan Kettering Cancer Centre di New York, Bao kini bergabung secara penuh waktu dengan Southern University of Science and Technology (SUSTech) di Shenzhen. Di sana, ia akan fokus mempelajari sirkuit otak untuk mendapatkan wawasan baru tentang autisme. Selain penelitian otak, Bao juga terkenal karena pengembangan perangkat lunak AceTree yang membantu penelusuran sel dalam biologi perkembangan. Perangkat lunak ini penting untuk memahami bagaimana cacat lahir terjadi, bagaimana sel kanker mengontrol jalur pertumbuhan, dan bagaimana sel punca dapat diarahkan untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Karier Bao ditunjang oleh berbagai penghargaan bergengsi seperti Basil O’Connor Starter Scholar Award dan NIH Director’s Transformative Research Award, yang menunjukkan betapa besar kontribusinya di bidang biomedis dan potensi risetnya untuk mengubah ilmu pengetahuan. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, langkah Bao untuk meneliti sirkuit otak di Shenzhen diharapkan dapat mendorong kemajuan riset autisme dan membuka peluang pengembangan terapi baru yang efektif untuk gangguan perkembangan saraf.
10 Feb 2026, 07.00 WIB

Prancis Tarik Ilmuwan AS dengan Dana Besar dan Kebebasan Akademik

Prancis Tarik Ilmuwan AS dengan Dana Besar dan Kebebasan Akademik
Prancis meluncurkan inisiatif besar bernama Choose France for Science yang menyediakan dana lebih dari €30 juta untuk menarik ilmuwan asing, terutama dari Amerika Serikat, ke negara mereka. Tujuan utama program ini adalah menawarkan kebebasan akademik yang lebih besar bagi para peneliti yang merasa tertekan akibat perubahan kebijakan di AS. Sebanyak 46 ilmuwan telah menerima dana ini, dengan mayoritas berasal dari AS dan hampir semuanya pindah ke institusi riset di Prancis, khususnya di Paris dan Aix-Marseille University. Salah satu ilmuwan yang menerima dana adalah Zhongkai Tao, seorang matematikawan yang pindah ke Institut des Hautes Études Scientifiques di Paris. Inisiatif ini merupakan reaksi atas pemotongan dana penelitian, pembatasan kerjasama internasional, dan tindakan administratif yang menghambat peneliti di AS selama masa pemerintahan Presiden Donald Trump. Para peneliti di AS merasa moral dan semangat mereka menurun sehingga mencari peluang di luar negeri. Selain mendapatkan dana penelitian yang besar, para ilmuwan juga tertarik karena kualitas institusi riset di Prancis dan komunitas ilmiah yang kuat di bidangnya. Program ini memprioritaskan peneliti yang fokus pada isu penting seperti perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan masyarakat. Meski hanya puluhan ilmuwan yang berpindah, langkah ini menandai persaingan global dalam menarik talenta riset terbaik. Prancis dan Uni Eropa berambisi memperkuat posisi mereka dalam dunia sains dengan menyediakan lingkungan riset yang lebih stabil dan mendukung daripada yang ditawarkan AS saat ini.
05 Feb 2026, 07.00 WIB

Reformasi Pendanaan UKRI Ancaman Serius untuk Riset Fisika Inggris

Reformasi Pendanaan UKRI Ancaman Serius untuk Riset Fisika Inggris
Pemerintah Inggris melalui UK Research and Innovation (UKRI) sedang melakukan reformasi besar dalam cara pendanaan riset ilmiah di negara tersebut. Meskipun Inggris dikenal memiliki kualitas riset dan inovasi yang tinggi, perubahan ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi ilmuwan agar menghasilkan ide dan perusahaan yang bisa memperkuat ekonomi nasional. Namun, reformasi ini memicu kekhawatiran di kalangan peneliti terutama bidang fisika dan astronomi karena adanya pembekuan sementara pengajuan dana dari beberapa badan riset utama dan pengurangan investasi pada proyek-proyek besar. Banyak proyek internasional bernilai tinggi seperti Large Hadron Collider di CERN terancam menghadapi ketidakpastian pendanaan. Science and Technology Facilities Council (STFC), yang merupakan salah satu badan di bawah UKRI, diminta menghemat sekitar £60 juta dari anggarannya. Hal ini sebenarnya bukan pemotongan anggaran langsung, namun pengurangan biaya yang dijadwalkan sangat berisiko bagi riset fisika dan astronomi utama yang membutuhkan dukungan dana stabil dan berkelanjutan. Para peneliti, mulai dari postdoctoral hingga akademisi senior, menyampaikan keprihatinan mereka terkait dampak pengurangan dana ini terhadap pekerjaan mereka, termasuk hilangnya posisi pekerjaan dan berkurangnya tenaga pendukung riset seperti staf IT. Dampak ini juga dipandang bisa melemahkan kontribusi Inggris di proyek-proyek internasional semacam Vera C. Rubin Observatory, yang penting untuk kemajuan astronomi global. Meskipun ada janji pemerintah untuk meningkatkan dana di bidang teknologi canggih seperti kuantum dan kecerdasan buatan, realitanya skala pengurangan dana pada riset fisika sangat besar dan terasa berat. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa tanpa intervensi cepat, Inggris bisa kehilangan posisi strategisnya dalam komunitas riset ilmiah internasional.