Perubahan Iklim Keras Jadi Penyebab Kepunahan Manusia Flores di Indonesia
Courtesy of CNBCIndonesia

Perubahan Iklim Keras Jadi Penyebab Kepunahan Manusia Flores di Indonesia

Mengungkap penyebab kepunahan Homo floresiensis, khususnya kaitannya dengan perubahan iklim ekstrem yang menyebabkan kekeringan dan kelangkaan sumber daya, agar dapat memahami pengaruh perubahan iklim terhadap kelangsungan hidup spesies di masa lalu.

05 Jan 2026, 20.30 WIB
268 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Perubahan iklim memiliki dampak signifikan terhadap kelangsungan hidup spesies.
  • Homo floresiensis punah akibat kombinasi penipisan sumber daya dan kompetisi yang meningkat.
  • Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana faktor lingkungan dapat mempengaruhi ekosistem purba.
Flores, Indonesia - Manusia Flores, yang dikenal sebagai Homo floresiensis atau ‘hobbit’ karena postur tubuhnya yang kecil, hidup di pulau Flores, Indonesia, selama lebih dari 140.000 tahun. Mereka meninggalkan jejak fosil di gua Liang Bua yang menjadi tempat tinggal utama mereka.
Peneliti dari University of Wollongong, Australia, menemukan bukti bahwa perubahan iklim besar menyebabkan kekeringan parah di Flores sekitar 76.000 hingga 55.000 tahun lalu. Hal ini bertepatan dengan hilangnya manusia Flores dari wilayah tersebut.
Analisis yang dilakukan berupa sinyal kimia dari stalagmit di gua Liang Bua dan isotop dari fosil gigi Stegodon, salah satu makanan utama Homo floresiensis. Kedua sumber ini menunjukkan kondisi air yang menipis dan kekeringan yang ekstrem.
Kekurangan air dan makanan memicu persaingan sengit antar makhluk hidup di kawasan itu sehingga Homo floresiensis terpaksa meninggalkan habitatnya. Penurunan populasi Stegodon yang bergantung pada air juga mengindikasikan tekanan lingkungan yang tinggi.
Selain faktor iklim, ada kemungkinan manusia modern (Homo sapiens) yang datang kemudian turut berkontribusi mempercepat kepunahan Homo floresiensis melalui interaksi yang belum sepenuhnya dipahami.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260105132831-37-699716/tanda-kiamat-ditemukan-di-flores-manusia-lenyap-tanpa-bekas

Analisis Ahli

Mike Gagan
"Perubahan iklim menyebabkan ekosistem di sekitar Liang Bua kering, sungai mengering, dan mengakibatkan bencana bagi Homo floresiensis."
Gert van den Berg
"Hilangnya air tawar, populasi Stegodon, dan Homo floresiensis secara bersamaan menunjukkan tekanan ekologis berlipat yang menyebabkan kepunahan."

Analisis Kami

"Penelitian ini menegaskan betapa rentannya kehidupan manusia purba terhadap perubahan lingkungan yang drastis. Ini menjadi peringatan penting bahwa manusia modern juga harus waspada terhadap dampak perubahan iklim yang bisa mengancam keberlangsungan hidup kita dan spesies lain."

Prediksi Kami

Jika perubahan iklim ekstrem terus terjadi di masa depan, banyak spesies lain termasuk manusia dapat menghadapi tekanan ekologi serupa yang berpotensi menyebabkan kepunahan lokal atau global.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa penyebab kepunahan Homo floresiensis?
A
Kepunahan Homo floresiensis disebabkan oleh perubahan iklim yang drastis dan pergeseran lingkungan menjadi kering.
Q
Di mana fosil Homo floresiensis ditemukan?
A
Fosil Homo floresiensis ditemukan di gua Liang Bua di Flores, Indonesia.
Q
Apa yang dikaitkan dengan hilangnya Homo floresiensis?
A
Hilangnya Homo floresiensis dikaitkan dengan penipisan persediaan air dan kompetisi makanan yang semakin ketat.
Q
Apa peran Stegodon florensis insularis dalam ekosistem Homo floresiensis?
A
Stegodon florensis insularis adalah sumber makanan utama bagi Homo floresiensis dan populasi mereka juga menurun bersamaan dengan hilangnya Homo floresiensis.
Q
Bagaimana perubahan iklim mempengaruhi kehidupan di Liang Bua?
A
Perubahan iklim menyebabkan kondisi lingkungan yang lebih kering, mengurangi curah hujan dan mengeringnya sumber air.