Dampak AI Pada Dunia Kerja: Peluang dan Kekhawatiran Pekerja di Era Otomatisasi
Courtesy of CNBCIndonesia

Dampak AI Pada Dunia Kerja: Peluang dan Kekhawatiran Pekerja di Era Otomatisasi

Menginformasikan bagaimana AI mulai memengaruhi dunia kerja, persepsi para pekerja terhadap dampaknya, dan perubahan kebutuhan kompetensi di pasar tenaga kerja yang penting untuk diketahui oleh masyarakat luas dan pelaku industri.

21 Jan 2026, 07.50 WIB
203 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Kecerdasan buatan (AI) akan semakin mengubah cara kerja dan keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja.
  • Ada ketidakpastian dan skeptisisme di kalangan pekerja mengenai bagaimana AI akan memengaruhi pekerjaan mereka.
  • Perbedaan pandangan antara pemberi kerja dan pekerja terkait pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya kesenjangan dalam harapan dan realitas pasar tenaga kerja.
Jakarta, Indonesia - Kecerdasan buatan (AI) semakin memengaruhi aktivitas kerja sehari-hari, dengan banyak pekerja yang percaya AI akan berperan penting dalam tugas mereka. Survei global dari Randstad menunjukkan adanya lonjakan besar dalam kebutuhan keterampilan AI, khususnya 'AI agent', yang meningkat hingga 1.587%.
Penelitian Randstad juga memperlihatkan pergeseran besar dalam kompetensi yang dibutuhkan di pasar tenaga kerja. Otomatisasi mulai menggantikan pekerjaan yang bersifat transaksi dengan tingkat kompleksitas rendah, sehingga pekerja harus mulai menyesuaikan diri dengan perubahan ini.
Situasi pasar tenaga kerja global semakin tertekan akibat pemangkasan tenaga kerja yang masif, dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil dan kebijakan geopolitik, terutama di Amerika Serikat. Ini menimbulkan ketidakpastian bagi banyak pekerja.
Sementara perusahaan teknologi semakin gencar memakai AI untuk menggantikan pekerjaan tertentu, mayoritas korporasi masih menanti hasil nyata dari investasi besar dalam AI. Dari sisi pekerja, kelompok generasi muda seperti Gen Z merasa paling khawatir terhadap dampak AI, sementara generasi Baby Boomers lebih optimis dan percaya diri.
Perbedaan pandangan juga terlihat antara pekerja dan pemberi kerja dalam hal prospek ekonomi. Sebanyak 95% pemberi kerja optimistis perusahaan akan tumbuh, tapi hanya 51% pekerja yang memiliki pandangan positif serupa, menunjukkan adanya ketegangan dan kekhawatiran di kalangan tenaga kerja.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260121043812-37-703893/gen-z-gelisah-takut-hidup-terus-terusan-jadi-pengangguran

Analisis Ahli

Sander van Noordende
"Pekerja sangat antusias terhadap AI, namun skeptis karena perusahaan biasanya fokus pada pengurangan biaya dan peningkatan efisiensi, yang berpotensi mengancam kesejahteraan pekerja."

Analisis Kami

"AI memang membuka peluang besar untuk efisiensi dan inovasi, tapi sikap skeptis pekerja sangat wajar karena banyak perusahaan cenderung mengutamakan pemangkasan biaya daripada kesejahteraan karyawan. Ke depan, perusahaan perlu menyeimbangkan adopsi AI dengan program pelatihan yang mempersiapkan pekerja agar tidak tertinggal dan terlindas oleh otomatisasi."

Prediksi Kami

Dalam beberapa tahun ke depan, AI akan menggantikan pekerjaan dengan kompleksitas rendah secara masif, memaksa pekerja untuk meningkatkan kompetensinya agar tetap relevan di pasar tenaga kerja yang semakin terdigitalisasi.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang diperkirakan akan terjadi dengan aktivitas kerja manusia akibat AI?
A
AI diperkirakan akan semakin memengaruhi aktivitas kerja manusia sehari-hari.
Q
Apa persentase pekerja yang percaya bahwa AI akan memengaruhi tugas harian mereka?
A
Empat dari lima pekerja percaya bahwa AI akan memengaruhi tugas harian mereka.
Q
Apa lonjakan persentase lowongan pekerjaan untuk keterampilan 'AI agent' menurut Randstad?
A
Lonjakan lowongan pekerjaan untuk keterampilan 'AI agent' mencapai 1.587%.
Q
Siapa yang paling khawatir tentang dampak AI terhadap pekerjaan?
A
Gen Z adalah kelompok yang paling mengkhawatirkan dampak AI terhadap pekerjaan.
Q
Apa perbedaan pandangan antara pemberi kerja dan pekerja mengenai prospek pertumbuhan ekonomi?
A
Sebanyak 95% pemberi kerja memperkirakan pertumbuhan tahun ini, sedangkan hanya 51% pekerja yang memiliki pandangan serupa.