Courtesy of AsianScientist
Otak Mengatur Hierarki Sosial Dengan Cara Berbeda Saat Menang dan Kalah pada Tikus
Penelitian ini bertujuan mengungkap mekanisme saraf yang mengatur perubahan hierarki sosial melalui efek pemenang-kalah pada tikus jantan, dan menghubungkan hasil tersebut dengan fungsi otak yang mungkin serupa pada manusia.
28 Jan 2026, 07.00 WIB
275 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Otak menggunakan sirkuit yang berbeda untuk belajar dari kemenangan dan kekalahan.
- Interneuron kolinergik di dorsomedial striatum mempengaruhi cara mouse merespons kekalahan.
- Temuan ini dapat memberikan wawasan tentang dinamika sosial pada manusia.
Okinawa, Jepang - Setiap komunitas sosial, termasuk tikus dan manusia, memiliki struktur hirarki yang berubah-ubah berdasarkan interaksi sosial. Ketika seekor tikus menang atau kalah dalam pertarungan sosial, ini mempengaruhi posisi sosialnya di grup.
Para ilmuwan dari Okinawa Institute of Science and Technology menggunakan tes tabung dominasi untuk mengamati bagaimana tikus berkompetisi dan bagaimana pengalaman menang-kalah memengaruhi tingkah laku mereka di rumah.
Penelitian menunjukkan bahwa neuron cholinergic di dalam bagian otak bernama dorsomedial striatum berperan penting dalam membantu tikus mempelajari dari kekalahan, tetapi tidak dari kemenangan. Ketika neuron ini dihapus, efek kalah hilang.
Hal menarik lainnya, ketika tikus dominan mengalami kekalahan, biasanya mereka turun peringkat. Tapi jika neuron ini dihilangkan, mereka tetap mempertahankan posisi dominan meskipun kalah, menunjukkan otak tidak memproses kekalahan sebagai sinyal perubahan.
Penemuan ini penting karena otak manusia dan tikus memiliki struktur yang mirip, sehingga hasil penelitian ini bisa membantu kita memahami bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan mengendalikan strategi hidup mereka.
Referensi:
[1] https://www.asianscientist.com/2026/01/health/why-your-brain-feels-losses-more-deeply-than-wins/
[1] https://www.asianscientist.com/2026/01/health/why-your-brain-feels-losses-more-deeply-than-wins/
Analisis Ahli
Jeffery Wickens
"Penelitian ini menyoroti bahwa dominasi tidak hanya bergantung pada atribut fisik tetapi juga keputusan berbasis pengalaman, yang diatur oleh sirkuit otak yang kompleks namun terkonservasi antar spesies."
Mao-Ting Hsu
"Identifikasi neuronnya sebagai 'saklar' yang memandu strategi sosial baru setelah kekalahan membuka jalan pemahaman baru tentang proses pengambilan keputusan adaptif dalam konteks sosial."
Analisis Kami
"Penemuan ini sangat menarik karena membedakan mekanisme pembelajaran dari kemenangan dan kekalahan, sebuah aspek yang seringkali diabaikan dalam studi perilaku sosial. Menghilangkan neuron spesifik yang hanya memengaruhi efek kalah menunjukkan bahwa otak memproses kekalahan sebagai sinyal penting untuk adaptasi sosial, yang bisa jadi merupakan fondasi evolusi untuk menjaga stabilitas sosial."
Prediksi Kami
Kemungkinan besar, penelitian lanjutan akan mengungkap lebih banyak tentang bagaimana gangguan pada neuron tertentu dapat memengaruhi perilaku sosial manusia, sehingga berpotensi dikembangkan terapi untuk gangguan sosial atau penyimpangan perilaku.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa itu efek pemenang-kalah?A
Efek pemenang-kalah adalah fenomena di mana kemenangan memperkuat dominasi, sementara kekalahan menyebabkan penurunan dalam peringkat sosial.Q
Apa peran interneuron kolinergik dalam perilaku sosial pada mouse?A
Interneuron kolinergik membantu mengatur pengambilan keputusan sosial dan mempengaruhi respons terhadap kekalahan.Q
Bagaimana penelitian dilakukan untuk menguji dinamika sosial pada mouse?A
Penelitian dilakukan dengan menggunakan tes tabung dominasi, di mana dua mouse bersaing untuk mendorong satu sama lain keluar dari tabung sempit.Q
Apa yang terjadi ketika interneuron kolinergik dihilangkan dari mouse?A
Ketika interneuron kolinergik dihilangkan, mouse yang kalah tidak mengalami penurunan peringkat sosial, menunjukkan bahwa otak mereka tidak lagi mendaftar kekalahan sebagai sinyal untuk mengubah strategi.Q
Apa relevansi temuan ini terhadap manusia?A
Temuan ini menunjukkan bahwa ada prinsip-prinsip umum di balik perilaku sosial yang fleksibel, yang mungkin relevan bagi manusia karena kesamaan struktur otak.



