Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Krisis Memori: Harga RAM Meroket dan Kekurangan Chip Mengganggu Elektronik Konsumen

Share

Krisis memori global menyebabkan kenaikan harga RAM secara signifikan, memicu kekhawatiran di kalangan pedagang dan produsen smartphone. Kebijakan industri AS dan kekurangan chip turut memperparah situasi, yang berpotensi menghambat inovasi dan aksesibilitas di sektor elektronik.

20 Jan 2026, 19.20 WIB

Krisis Chip Global Dorong Harga RAM Di Indonesia Naik Hingga 4 Kali Lipat

Krisis Chip Global Dorong Harga RAM Di Indonesia Naik Hingga 4 Kali Lipat
Krisis chip global telah memberikan dampak nyata bagi pasar Indonesia, terutama pada kenaikan harga RAM DDR4 dan DDR5. Harga RAM di beberapa toko di ITC Kuningan Jakarta telah mengalami peningkatan signifikan sejak Oktober 2025, bahkan bisa naik hingga empat kali lipat dalam satu bulan. Penjual di Jakarta menyebutkan bahwa kenaikan harga bisa terjadi beberapa kali dalam seminggu dan bertambah hingga Rp 1.000.000 dalam sebulan. Walau harga naik tajam, pembeli terpaksa membeli karena kebutuhan kerja dengan laptop masih harus dipenuhi. Harga RAM DDR5 32 GB kini berada di kisaran Rp 7.000.000 sampai Rp 8.000.000, sementara RAM 16 GB mencapai lebih dari Rp 2.000.000, naik dari harga sebelumnya yang hanya sekitar Rp 1.000.000. Kenaikan ini juga terjadi di RAM DDR4 dengan harga naik antara Rp 400.000 sampai Rp 1.000.000. Analisa dari firma riset IDC menunjukkan bahwa peningkatan kebutuhan untuk pembangunan data center AI dan segmen hyperscale menyebabkan produsen memprioritaskan chip AI sehingga pasokan chip konvensional untuk perangkat konsumen menipis. Hal ini menyebabkan kelangkaan dan harga tetap tinggi hingga awal 2027. Dampak dari kenaikan harga ini juga dirasakan di pasar perangkat bekas, terutama pada smartphone dan PC. Harga pasar second untuk perangkat tersebut ikut terdongkrak karena kenaikan harga di pasar resmi, menambah beban bagi konsumen teknologi di Indonesia.
20 Jan 2026, 18.15 WIB

Dampak Krisis Memori Global, Xiaomi dan Transsion Turunkan Target Pengiriman 2026

Dampak Krisis Memori Global, Xiaomi dan Transsion Turunkan Target Pengiriman 2026
Perusahaan smartphone asal China, Xiaomi dan Transsion, baru-baru ini mengumumkan penurunan besar dalam target produksi smartphone mereka untuk tahun 2026. Penurunan ini disebabkan oleh krisis pasokan memori yang melanda industri teknologi global, khususnya karena tingginya permintaan untuk aplikasi kecerdasan buatan (AI). Xiaomi, yang sebelumnya menargetkan produksi sebesar 180 juta unit, berencana menurunkan targetnya hingga 70 juta unit. Sementara itu, Transsion juga menurunkan target pengirimannya sebanyak 30 hingga 45 juta unit dari target awal sekitar 115 juta unit. Semua perubahan ini diumumkan berdasarkan informasi dari sumber rantai pasokan industri. Krisis memori ini terjadi karena tiga perusahaan pemasok memori terbesar dunia yaitu Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology sedang mengalihkan kapasitas produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan sektor AI. Kejadian ini menyebabkan suplai memori untuk produk konsumen seperti smartphone menjadi terbatas dan harga komponen memori melonjak. Dampaknya sangat terasa oleh Xiaomi dan Transsion sebagai produsen smartphone terbesar di China. Kenaikan harga memori ini memaksa mereka untuk menyesuaikan target pengiriman dan bahkan bisa memengaruhi ketersediaan smartphone di pasar global sejak tahun 2026. Ke depan, dampak ini diperkirakan dapat mengubah dinamika pasar smartphone terutama dalam hal harga dan pasokan. Perusahaan smartphone diharapkan untuk mencari strategi baru agar bisa bertahan di tengah krisis suku cadang serta menghadapi persaingan yang semakin ketat.
20 Jan 2026, 17.00 WIB

Harga RAM Melonjak Tajam di Indonesia Dampak Krisis Chip Global AI

Harga RAM Melonjak Tajam di Indonesia Dampak Krisis Chip Global AI
Harga RAM di Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan sejak akhir tahun 2025. Penjual di ITC Kuningan, Jakarta mengonfirmasi bahwa harga DDR4 dan DDR5 naik tajam, dengan DDR5 16GB bisa mencapai hingga Rp 3,8 juta dan bahkan Rp 7-8 juta untuk kapasitas 32GB. Kondisi ini membuat pembeli dan penjual menjadi berhati-hati dalam melakukan transaksi. Stok RAM saat ini masih tersedia di pasar, namun jumlahnya jauh lebih sedikit dari biasanya. Penjual mengaku takut membeli stok baru karena harga yang sangat tinggi dan daya beli konsumen yang menurun. Beberapa pembeli terpaksa memilih menukar laptop lama dengan laptop baru daripada membeli RAM dengan harga yang setara atau hampir sama dengan harga sebuah laptop baru. Kenaikan harga RAM ini disebabkan oleh krisis chip global. Permintaan chip untuk teknologi AI dan data center terus meningkat secara pesat sehingga produsen chip mengalihkan fokus produksi dari chip biasa ke chip AI. Hal ini menyebabkan kelangkaan chip konvensional yang digunakan untuk perangkat seperti HP, laptop, dan peralatan rumah tangga. Firma riset IDC memperkirakan masalah ini akan terus berlangsung hingga awal tahun 2027. Meskipun pada semester kedua 2026 ada tanda-tanda sedikit pelonggaran, harga RAM diperkirakan tetap tinggi karena produsen masih memprioritaskan segmen AI dan hyperscale daripada pasar konsumen biasa. Kenaikan harga di pasar resmi juga memicu naiknya harga perangkat bekas. Ini berarti pengguna yang ingin memiliki perangkat dengan harga lebih terjangkau mulai berpindah ke pasar second dan ini mendorong naiknya harga perangkat bekas secara umum. Dampak dari krisis chip ini pun dirasakan cukup luas, terutama di sektor PC dan komponen komputer.
20 Jan 2026, 14.47 WIB

Pemerintah AS Beri Pilihan: Bayar Tarif Tinggi atau Bangun Pabrik Chip di Amerika

Pemerintah AS Beri Pilihan: Bayar Tarif Tinggi atau Bangun Pabrik Chip di Amerika
Pemerintah Amerika Serikat memperingatkan produsen chip memori besar di dunia agar memilih antara membayar bea masuk 100% untuk produknya atau membangun fasilitas produksi di dalam negeri. Hal ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick saat peresmian pabrik besar Micron Technology di New York senilai 100 miliar dollar Amerika. Peringatan ini muncul karena adanya kekurangan pasokan chip memori global yang menyebabkan harga naik dan ketidakstabilan pasar. Pemerintah AS melalui kebijakan ini ingin mendorong industri chip agar memproduksi di Amerika Serikat demi mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat rantai pasokan domestik. Kebijakan tarif juga didasarkan pada perjanjian perdagangan dengan Taiwan yang bisa diperluas ke perusahaan semikonduktor asal Korea Selatan. Hal ini merupakan bagian dari strategi industri yang dilakukan pemerintah AS selama pemerintahan Donald Trump untuk menjaga keamanan teknologi dan ekonomi. Dampak kebijakan ini bisa memperparah kelangkaan chip secara global jika banyak perusahaan memilih membayar tarif mahal daripada membangun pabrik baru. Namun, jika dipilih pembangunan pabrik lokal, ini akan menjadi investasi besar yang memperkuat posisi AS di bidang teknologi semikonduktor. Secara keseluruhan, kebijakan ini menandai sebuah sikap tegas Amerika Serikat dalam mengatur industri teknologi maju dengan tujuan menjaga stabilitas ekonomi dan teknologi nasional di tengah gejolak pasokan global.
19 Jan 2026, 18.00 WIB

Ancaman Tarif AS Paksa Produsen Chip Memori Bangun Pabrik di Negara Mereka

Ancaman Tarif AS Paksa Produsen Chip Memori Bangun Pabrik di Negara Mereka
Pasar chip memori dunia menghadapi tantangan besar dengan ancaman tarif baru dari pemerintah Amerika Serikat yang bisa mencapai 100% bagi produsen luar negeri. Ancaman ini disampaikan oleh Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick saat peluncuran pabrik baru Micron Technology senilai 100 miliar dolar di New York. Kebijakan ini memaksa produsen chip asing seperti Samsung Electronics dan SK Hynix dari Korea Selatan, serta perusahaan Taiwan, untuk memilih antara membayar tarif tinggi atau membuat pabrik di Amerika Serikat. Hal ini berkaitan dengan perjanjian dagang baru antara AS dan Taiwan yang memperluas kebijakan tarif tersebut. Pasar chip memori saat ini mengalami yang disebut 'super cycle', di mana produsen fokus memproduksi DRAM dan High Bandwidth Memory (HBM) canggih untuk kebutuhan kecerdasan buatan. Akibatnya, pasokan chip memori untuk produk konsumen menipis dan harga naik drastis. Kebijakan ini dapat menyebabkan gangguan lebih lanjut pada pasokan global chip memori, sekaligus menambah tekanan pada produsen untuk memodernisasi fasilitas mereka di Amerika Serikat agar tetap kompetitif tanpa terkena tarif tambahan. Situasi ini menandai pentingnya chip memori dalam teknologi masa depan dan bagaimana kebijakan perdagangan dapat mengubah peta produksi dan pasar elektronika global, dengan dampak langsung kepada konsumen dan industri teknologi.

Baca Juga

  • Konsolidasi Strategis Perusahaan Elon Musk dan Pengaruh Globalnya

  • Balapan Penerbangan China: Meningkatkan Pesawat Dalam Negeri dan Meninjau Peran Pilot

  • Kreator Mengkritisi Paradigma Baru TikTok

  • Pergantian Kepemimpinan di Arena E-Commerce Indonesia

  • Revolusi Legal Tech Berbasis AI: Transformasi Inteligensi Kontrak