Fokus
Bisnis

Revolusi Legal Tech Berbasis AI: Transformasi Inteligensi Kontrak

Share

Cerita ini mengulas tren inovasi dalam legal tech, di mana perusahaan-perusahaan seperti SpotDraft, Ivo, dan Harvey memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengoptimalkan proses kontrak dan layanan hukum. Solusi teknologi ini berpotensi merombak praktik hukum tradisional demi efisiensi yang lebih tinggi dan transparansi dalam proses bisnis.

27 Jan 2026, 08.30 WIB

SpotDraft Raih Rp 133.60 miliar ($8 Juta) Untuk Kembangkan AI Review Kontrak Aman Tanpa Cloud

SpotDraft Raih Rp 133.60 miliar ($8 Juta)  Untuk Kembangkan AI Review Kontrak Aman Tanpa Cloud
SpotDraft baru saja mendapatkan tambahan investasi sebesar 8 juta dolar dari Qualcomm Ventures sebagai perluasan dari pendanaan Seri B mereka. Pendanaan ini digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi AI yang dapat bekerja langsung di perangkat pengguna tanpa harus mengirimkan dokumen kontrak sensitif ke cloud, sehingga menjamin keamanan dan privasi data dalam proses review kontrak. Karena sektor hukum dan bidang industri lain seperti pertahanan dan farmasi memiliki aturan ketat terkait data, penggunaan AI yang bisa berjalan secara offline di laptop menjadi sangat diminati. SpotDraft menunjukkan teknologi VerifAI yang dapat melakukan pemeriksaan, penilaian risiko, dan pengeditan kontrak secara end-to-end tanpa koneksi internet setelah login dan lisensi berhasil, menjaga kerahasiaan dokumen di perangkat lokal. SpotDraft sudah memiliki lebih dari 700 pelanggan di seluruh dunia dan platform mereka digunakan untuk mengelola lebih dari satu juta kontrak setiap tahun. Pertumbuhan pelanggan dan volume kontrak terus meningkat pesat, dengan proyeksi pendapatan yang melesat dua digit setiap tahunnya selama beberapa tahun ke depan. Selain pendanaan, Qualcomm dan SpotDraft berencana menjalin kerja sama untuk mengembangkan produk dan strategi pemasaran bersama, mengingat prosesor Snapdragon terbaru bisa menjalankan model AI dengan cepat dan efisien di perangkat. Teknologi ini memberikan alternatif bagi perusahaan di sektor yang membutuhkan proteksi data ekstra tanpa menurunkan kualitas dan kecepatan kerja AI. SpotDraft berpusat di Bengaluru dan New York, dengan tim lebih dari 300 orang yang fokus memperluas jangkauan mereka di Amerika, EMEA, dan India. Pendekatan mereka membuktikan bahwa masa depan AI perusahaan berada pada pengolahan data lokal, terutama untuk dokumen hukum yang sangat sensitif dan memerlukan kepatuhan tinggi terhadap regulasi privasi.
24 Jan 2026, 12.27 WIB

Harvey Akuisisi Hexus untuk Pacu Inovasi AI di Industri Hukum

Harvey Akuisisi Hexus untuk Pacu Inovasi AI di Industri Hukum
Harvey adalah startup AI yang fokus pada bidang hukum dan baru-baru ini mengakuisisi Hexus, sebuah startup yang membuat alat untuk demo produk, video, dan panduan. Akuisisi ini menjadi bagian dari strategi Harvey untuk memperluas layanan dan memperkuat posisinya di pasar teknologi hukum yang semakin kompetitif. Sakshi Pratap, pendiri dan CEO Hexus yang sebelumnya bekerja di perusahaan besar seperti Walmart dan Google, sekarang memimpin tim engineering di Harvey. Tim San Francisco Hexus sudah bergabung, sementara tim engineering di India akan menyusul setelah kantor baru Harvey resmi buka di Bangalore. Harvey berhasil mengumpulkan pendanaan hingga 760 juta dolar AS pada tahun 2025 dengan valuasi mencapai 8 miliar dolar AS. Investor besar seperti Andreessen Horowitz, Sequoia Capital, dan T. Rowe Price turut serta dalam pendanaan ini. Perusahaan ini juga memiliki lebih dari 1.000 klien dari 60 negara, termasuk mayoritas firma hukum terbesar di Amerika Serikat. Awal mula Harvey berawal dari percobaan dua pendirinya menggunakan model GPT-3 untuk menjawab pertanyaan hukum. Mereka mendapatkan respons positif dari para pengacara yang melihat potensi besar AI untuk mengubah industri hukum secara fundamental. Dengan dukungan pendanaan yang kuat dan akuisisi yang strategis, Harvey siap mempercepat pengembangan solusi AI untuk departemen hukum internal perusahaan. Langkah ini diperkirakan akan memperkuat persaingan dan inovasi di pasar teknologi hukum global.
20 Jan 2026, 20.00 WIB

Startup Ivo Raih Pendanaan 55 Juta Dolar dengan AI Cerdas untuk Tim Hukum Internal

Startup Ivo Raih Pendanaan 55 Juta Dolar dengan AI Cerdas untuk Tim Hukum Internal
Ivo adalah startup teknologi legal yang berbasis di San Francisco dan telah mengembangkan perangkat lunak AI yang membantu tim hukum internal dalam meninjau, mengelola, dan menganalisis kontrak secara besar-besaran. Produk ini memudahkan perusahaan besar untuk menghemat hingga 75% waktu yang biasanya diperlukan dalam peninjauan kontrak secara manual. Setelah mengalami pertumbuhan pendapatan yang sangat cepat dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, Ivo berhasil menggalang pendanaan Seri B sebesar 55 juta dolar AS. Pendanaan ini dipimpin oleh investor lama Blackbird dan diikuti oleh beberapa investor lainnya, dengan valuasi perusahaan yang kini lima kali lipat dibanding sembilan bulan lalu. Ivo memiliki fokus khusus untuk melayani tim hukum internal perusahaan, bukan firma hukum, karena kebutuhan dan dinamika mereka sangat berbeda. Teknologi yang dipakai memungkinkan penilaian kontrak secara cepat dan akurat, serta analisis menyeluruh terhadap perpustakaan kontrak perusahaan tanpa perlu penandaan manual. Untuk mencapai tingkat akurasi tinggi, Ivo menggunakan proses rumit yang menggabungkan lebih dari 400 panggilan model AI dalam satu peninjauan kontrak, sehingga hasilnya dapat dimengerti dan diaudit oleh para pengacara. Konsep ini mirip dengan bekerja dengan junior lawyer yang walaupun tidak sempurna, outputnya mudah diikuti dan dapat dipercaya. Ivo sudah digunakan oleh berbagai perusahaan besar seperti Uber, Shopify, dan IBM, dengan peningkatan pengguna serta adopsi signifikan di kalangan perusahaan Fortune 500. Mereka juga berencana menambah lebih dari tiga kali lipat jumlah karyawan dan membuka kantor baru di New York dan London tahun ini.