Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Perubahan Platform Pesan: Menyeimbangkan Monetisasi, Kemudahan Penggunaan, dan Pengawasan Keamanan

Share

Platform pesan seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook tengah bereksperimen dengan model layanan berbayar guna meningkatkan pendapatan, bersamaan dengan tantangan peningkatan pengawasan dan peringatan keamanan dari pihak lain seperti Google dan regulator. Perubahan strategi ini menjadi fokus penting karena mampu mempengaruhi privasi dan kepercayaan pengguna di era digital.

29 Jan 2026, 08.30 WIB

Pavel Durov Kritik Keras Keamanan WhatsApp, Ungkap Celah Berbahaya 2026

Pavel Durov Kritik Keras Keamanan WhatsApp, Ungkap Celah Berbahaya 2026
Pavel Durov, pendiri Telegram, baru-baru ini mengkritik aplikasi WhatsApp dengan tajam. Ia menyatakan bahwa orang yang masih percaya WhatsApp benar-benar aman di tahun 2026 adalah sangat bodoh. Kritik ini disampaikannya melalui akun media sosial pribadinya, setelah melakukan analisis mendalam pada cara WhatsApp menerapkan enkripsinya. Dalam analisis tersebut, Durov menemukan banyak celah keamanan yang bisa dimanfaatkan peretas untuk mengakses isi percakapan pengguna. Kritik ini muncul bersamaan dengan gugatan terhadap Meta, perusahaan induk WhatsApp, yang dituduh membuat klaim menyesatkan terkait perlindungan privasi dan enkripsi ujung-ke-ujung pada platformnya. Gugatan tersebut menyebutkan bahwa WhatsApp sebenarnya dapat menyimpan dan mengakses hampir semua komunikasi pribadi, bertolak belakang dengan klaim Meta yang menyatakan hanya pengguna yang dapat mengetahui isi percakapan. Meta sendiri membantah tuduhan tersebut dan menilai gugatan itu tidak berdasar. Setelah pernyataan Durov, proyek keamanan Google yang dikenal sebagai Project Zero juga mengungkap bahwa WhatsApp di Android memiliki kerentanan yang memungkinkan serangan melalui file media berbahaya yang diunduh secara otomatis. Kerentanan ini sudah dilaporkan ke Meta sejak September tahun lalu, namun perbaikan belum dilakukan secara maksimal. Meta mulai melakukan perbaikan pada Desember terakhir, tetapi belum memberikan pembaruan signifikan yang menutup celah tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pengguna WhatsApp, sehingga penting bagi pengguna untuk waspada dan mempertimbangkan alternatif yang lebih aman.
29 Jan 2026, 02.18 WIB

Meta Akan Kenakan Biaya Penggunaan Chatbot AI di WhatsApp Italia

Meta Akan Kenakan Biaya Penggunaan Chatbot AI di WhatsApp Italia
Meta mengumumkan bahwa mulai 16 Februari, pengembang chatbot AI yang menggunakan layanan WhatsApp di Italia akan dikenai biaya untuk setiap pesan balasan yang dikirimkan. Langkah ini dilakukan menyusul tekanan dari regulator di Italia yang memaksa Meta mengizinkan chatbot AI beroperasi di platform WhatsApp meski sebelumnya sudah melarangnya. Meta menyatakan bahwa sistem WhatsApp Business API tidak dirancang untuk menangani beban yang dihasilkan oleh chatbot AI yang terus berkembang, sehingga pengenaan biaya ini diperlukan untuk mengelola penggunaan layanan tersebut. Biaya per pesan balasan AI yang dikenakan adalah sekitar Rp 11.54 juta ($0,0691) per pesan, yang dapat menimbulkan biaya besar bagi pengembang yang memiliki banyak pengguna aktif. Sebelum kebijakan ini, WhatsApp sudah mengenakan biaya untuk pesan template tertentu yang terkait dengan fungsi bisnis seperti pengingat pembayaran dan update pengiriman. Namun, chatbot AI kini menjadi fokus baru karena kemampuannya yang interaktif dan potensi besar dalam layanan pelanggan. Beberapa negara seperti Italia dan Brazil telah melakukan penyelidikan terkait larangan chatbot AI Meta di WhatsApp. Meski pengadilan Brazil membatalkan larangan untuk sementara, Meta masih meminta pengembang untuk tidak melayani chatbot AI di negara tersebut. Beberapa perusahaan besar seperti OpenAI dan Microsoft mengumumkan penghentian layanan chatbot mereka di WhatsApp sejak larangan berlaku. Ke depan, kebijakan ini bisa menjadi contoh bagi negara lain yang juga menuntut transparansi dan akses chatbot AI di platform WhatsApp. Ini menandai tantangan besar bagi Meta dan pengembang chatbot untuk menyeimbangkan antara regulasi, biaya operasional, dan inovasi teknologi.
28 Jan 2026, 13.55 WIB

WhatsApp Perkenalkan Fitur Keamanan Ketat untuk Lindungi Pengguna Berisiko Tinggi

WhatsApp Perkenalkan Fitur Keamanan Ketat untuk Lindungi Pengguna Berisiko Tinggi
WhatsApp baru saja memperkenalkan fitur bernama Strict Account Settings yang dirancang khusus untuk memberikan keamanan ekstra bagi pengguna yang memiliki risiko tinggi terkena serangan siber. Fitur ini memberikan perlindungan yang lebih kuat dibandingkan enkripsi end-to-end pada percakapan biasa. Pengguna dapat mengaktifkan fitur ini melalui satu kali klik di menu pengaturan WhatsApp. Setelah diaktifkan, fitur ini akan memblokir media dan lampiran yang dikirim oleh pengirim yang tidak dikenal, menonaktifkan pratinjau tautan, serta membisukan panggilan dari nomor asing untuk mencegah berbagai bentuk serangan digital. Langkah WhatsApp ini diambil karena ada kelompok pengguna tertentu seperti jurnalis, pembela HAM, dan tokoh publik yang menghadapi ancaman serangan siber lebih kompleks dan canggih, sehingga membutuhkan perlindungan yang lebih ekstrem dari standar umum. Sebelumnya, Apple dan Alphabet juga sudah menghadirkan fitur serupa, yaitu Lockdown Mode dan Advanced Protection Mode, yang juga membatasi beberapa fungsi demi keamanan ekstra. Ini menjadikan WhatsApp sebagai perusahaan teknologi besar ketiga yang mengikuti tren tersebut. Para pakar keamanan dan peneliti, termasuk John Scott-Railton dari Citizen Lab, menyambut baik inovasi ini dan berharap fitur ini memicu perusahaan teknologi lain untuk meningkatkan standar keamanan demi melindungi para aktivis, pembangkang, dan pengguna berisiko tinggi lainnya.
28 Jan 2026, 01.01 WIB

WhatsApp Luncurkan Pengaturan Ketat untuk Lindungi Pengguna Rentan dari Serangan Siber

WhatsApp Luncurkan Pengaturan Ketat untuk Lindungi Pengguna Rentan dari Serangan Siber
WhatsApp baru-baru ini mengumumkan fitur baru bernama 'Strict Account Settings' yang dibuat khusus untuk melindungi pengguna yang berisiko tinggi terhadap serangan siber, seperti jurnalis dan tokoh publik. Fitur ini akan otomatis memblokir pengiriman media dan lampiran dari pengguna yang tidak dikenal serta membungkam panggilan yang masuk dari orang asing. Selain itu, pengaturan ini juga membatasi beberapa fungsi lainnya, seperti mematikan pratinjau tautan, membatasi siapa yang bisa memasukkan pengguna ke grup, dan mencegah non-kontak melihat foto profil, informasi 'about', dan status online pengguna. WhatsApp menegaskan bahwa fitur ini sebaiknya hanya dinyalakan bagi mereka yang merasa menjadi target serangan siber tingkat tinggi. WhatsApp telah lama menggunakan enkripsi end-to-end yang kuat dan memperkuat keamanan setelah banyak pengguna menjadi korban dari spyware Pegasus buatan NSO Group. Serangan tersebut memungkinkan peretas mengakses perangkat korban melalui panggilan telepon, yang kemudian membuat Meta sebagai induk perusahaan WhatsApp menggugat NSO Group dan mendapatkan ganti rugi sebesar 167,25 juta dolar AS. Selain itu, WhatsApp juga berhasil menutup kampanye spyware yang menyerang jurnalis serta anggota masyarakat sipil tahun lalu. Di sisi lain, Meta sedang menghadapi gugatan hukum yang menuduh perusahaan dapat mengakses konten chat pribadi pengguna, tetapi Meta menolak tuduhan ini dan menegaskan bahwa WhatsApp menggunakan protokol Signal untuk enkripsi. Fitur Strict Account Settings akan segera diluncurkan dalam beberapa minggu ke depan dan dapat diaktifkan melalui pengaturan WhatsApp dengan langkah mudah, tapi hanya bisa diaktifkan dari perangkat utama dan tidak dari WhatsApp Web. Fitur ini diharapkan dapat memberikan perlindungan tambahan bagi pengguna yang rentan tanpa mengorbankan pengalaman pemakaian pengguna biasa.
27 Jan 2026, 19.10 WIB

Apakah WhatsApp Tidak Aman? Hukum dan Ancaman Baru Menjadi Sorotan

Apakah WhatsApp Tidak Aman? Hukum dan Ancaman Baru Menjadi Sorotan
WhatsApp sedang menghadapi gugatan hukum yang menuduh platform tersebut menyesatkan penggunanya tentang keamanan pesan dengan enkripsi yang katanya tidak sepenuhnya aman. Tuduhan ini mengatakan bahwa perusahaan induknya, Meta, dapat mengakses pesan pengguna, walaupun WhatsApp selama ini mengklaim sebaliknya. Dalam pernyataan publik, CEO Telegram Pavel Durov dan Elon Musk di media sosial mengkritik kekuatan keamanan WhatsApp, meskipun aplikasi mereka sendiri tidak selalu menggunakan enkripsi end-to-end yang sama kuatnya. WhatsApp pun menolak tuduhan ini dan menegaskan bahwa kunci enkripsi hanya tersimpan di perangkat pengguna, bukan di server Meta. Google memperingatkan bahaya baru berupa serangan melalui foto yang dikirimkan lewat WhatsApp. Foto berbahaya ini bisa menyerang ponsel bahkan tanpa pengguna membuka file tersebut. Solusinya adalah dengan menonaktifkan fitur penyimpanan otomatis media di WhatsApp untuk menghindari serangan semacam ini. Walaupun ada gugatan dan ancaman keamanan baru, WhatsApp tetap direkomendasikan untuk penggunaan sehari-hari karena jangkauan penggunanya yang luas dan perlindungan enkripsi berbasis protokol Signal yang sudah terbukti handal. Namun pengguna yang membutuhkan privasi lebih disarankan menggunakan Signal yang melindungi metadata lebih ketat. Singkatnya, tidak perlu berhenti memakai WhatsApp karena isu-isu ini. Namun, tetaplah berhati-hati dengan konten dan perbarui pengaturan keamanan perangkat agar risiko serangan bisa diminimalkan. Gunakan pula aplikasi lain sesuai kebutuhan keamanan komunikasi Anda.
27 Jan 2026, 17.44 WIB

Meta Siapkan Langganan Premium dengan Fitur AI Eksklusif di Media Sosial

Meta berencana meluncurkan langganan premium untuk Instagram, Facebook, dan WhatsApp yang memberikan akses ke fitur kecerdasan buatan (AI) canggih dan manfaat tambahan bagi pengguna. Ini dilakukan untuk menjawab tantangan dalam memonetisasi investasi besar Meta di bidang AI. Layanan inti ketiga aplikasi tetap bisa digunakan gratis, dan langganan premium ini berbeda dari layanan Meta Verified yang dirilis tahun 2023. Meta akan menguji fitur dan paket langganan yang berbeda untuk masing-masing aplikasi. Salah satu fitur yang diujicoba adalah Vibes, pengalaman video pendek berbasis AI di aplikasi Meta AI, yang kini mulai menerapkan model freemium. Selain itu, produk Manus AI yang diakuisisi Meta juga akan terintegrasi, memberi pengguna alat penelitian dan kreativitas lebih luas. Instagram premium mungkin memberikan fitur seperti pembuatan daftar audiens tak terbatas, melihat siapa yang tidak mengikuti balik, dan melihat Story secara diam-diam. Sementara itu, detail fitur langganan untuk WhatsApp dan Facebook masih belum jelas. Meta berharap langganan premium ini bisa membantu mengembalikan investasi AI mereka dengan menawarkan fitur yang cukup berharga agar pengguna mau membayar. Namun, tantangannya adalah membuktikan nilai tambah teknologi AI itu bagi kebiasaan pengguna media sosial.
27 Jan 2026, 16.10 WIB

Meta Luncurkan Model Berlangganan Berbayar dengan Fitur AI Canggih di WhatsApp dan Instagram

Meta Platforms, perusahaan induk dari aplikasi populer seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook, berencana meluncurkan model berlangganan berbayar mulai beberapa bulan ke depan. Langkah ini bertujuan memberikan fitur tambahan khusus untuk pelanggan yang membayar, sehingga meningkatkan produktivitas dan kreativitas mereka. Salah satu alasan di balik model berlangganan tersebut adalah investasi besar Meta di bidang kecerdasan buatan atau AI. Terbaru, Meta mengakuisisi perusahaan Manus yang mengembangkan agen AI dengan nilai kesepakatan sebesar Rp 33.40 triliun (US$2 miliar) . Dengan tambahan teknologi ini, pelanggan berbayar akan mendapatkan akses fitur AI yang lebih luas. Fitur baru lain yang disiapkan sebagai bagian dari paket berlangganan adalah video pendek berbasis AI bernama Vibes. Meskipun sejak 2025 fitur dasar Vibes sudah gratis, dengan model berlangganan nanti pengguna akan bisa mendapatkan opsi fitur tambahan berbayar yang lebih lengkap untuk membuat dan mengedit video AI. Model berlangganan terbaru ini berbeda dengan produk berbayar Meta Verified yang diluncurkan pada 2023. Meta Verified menawarkan lencana terverifikasi dan berbagai layanan khusus untuk kreator konten dan bisnis. Di sisi lain, model berlangganan baru akan lebih fokus pada akses fitur teknologi AI dan pengalaman pengguna yang lebih kaya. Selama masa uji coba beberapa bulan ke depan, Meta berencana mendengarkan masukan pengguna untuk menyempurnakan model berlangganan ini. Tujuannya adalah agar layanan baru ini bisa diterima dengan baik oleh pengguna sekaligus membantu Meta meraih hasil lebih cepat dari investasi besarnya di sektor AI.
27 Jan 2026, 12.15 WIB

WhatsApp Jadi Platform 'Sangat Besar' UE, Wajib Perketat Pengawasan Konten

Komisi Eropa baru saja menetapkan WhatsApp, yang dimiliki oleh Meta, sebagai platform berukuran sangat besar menurut aturan Digital Services Act (DSA). Hal ini menandai bahwa WhatsApp harus lebih ketat dalam mengawasi konten ilegal dan berbahaya yang ada di aplikasinya, khususnya di fitur channels yang semakin populer. Penetapan ini didasarkan pada data pengguna fitur channels di WhatsApp, yang mencapai rata-rata 51,7 juta pengguna aktif bulanan di Uni Eropa, melampaui batas minimum 45 juta yang ditetapkan oleh DSA. Dengan angka ini, WhatsApp bergabung dengan platform besar lain seperti Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan LinkedIn yang sudah lebih dulu mendapat status serupa. Sebagai konsekuensi dari penetapan ini, Meta sebagai pemilik WhatsApp harus memastikan bahwa dalam waktu empat bulan sejak penetapan ini diumumkan, mereka telah memenuhi semua kewajiban tambahan dari DSA. Ini termasuk memperketat pengawasan terhadap konten yang berpotensi berbahaya dan ilegal di fitur channels tersebut. Penetapan status platform sangat besar ini memungkinkan DSA mewajibkan WhatsApp untuk menyediakan langkah-langkah pengamanan dan kontrol yang lebih ketat, yang juga bisa berdampak pada peningkatan biaya operasional dan menimbulkan masalah terkait privasi pengguna. Namun, WhatsApp berkomitmen untuk meningkatkan standar keamanan dan menjaga integritas platform sesuai dengan regulasi. Secara keseluruhan, langkah ini merupakan bagian dari upaya Uni Eropa mengatur lebih ketat platform digital agar lebih bertanggung jawab atas konten yang beredar di ruang digital serta memberikan perlindungan lebih bagi penggunanya di era digital yang semakin kompleks.
27 Jan 2026, 05.44 WIB

Kerentanan WhatsApp Terbesar 2025: Risiko Serangan Lewat Media Otomatis

Baru-baru ini, Google Project Zero menemukan kerentanan serius pada WhatsApp yang dapat memungkinkan serangan tanpa perlu interaksi pengguna, dikenal sebagai serangan zero-click. Masalah ini terjadi saat korban dan kontaknya dimasukkan ke dalam grup WhatsApp baru, lalu kontak tersebut diangkat jadi admin grup yang kemudian menerima media berbahaya. Media ini akan otomatis diunduh ke ponsel korban, membuka peluang masuknya serangan. Meta sendiri sudah melakukan perubahan pada server WhatsApp pada 11 November 2025 demi mengurangi risiko, tapi hingga kini perbaikan penuh masih belum selesai. Google menyarankan untuk menonaktifkan fitur pengunduhan otomatis media di WhatsApp atau menggunakan mode privasi tingkat lanjut agar file berbahaya tidak diunduh secara otomatis. Ini menjadi langkah penting untuk mencegah potensi serangan sebelum update resmi keluar. Meski serangan ini terkesan sulit karena harus melibatkan kontak korban dan pengaturan admin grup, Google menjelaskan bahwa teknik menebak kontak bisa dilakukan berkali-kali secara cepat sehingga membahayakan dalam kasus serangan terarah. Dengan demikian, ancamannya tidak bisa dianggap kecil, terutama untuk pengguna yang sering bergabung dalam banyak grup baru. Di sisi lain, pendiri Telegram Pavel Durov sempat mengeluarkan pernyataan keras di media sosial yang menyatakan WhatsApp tidak aman untuk tahun 2026, bahkan menyebut enkripsinya memiliki banyak celah. Pernyataan ini belum ada bukti kuat, sehingga lebih dipandang sebagai upaya kompetitif antara aplikasi pesan instan besar ini. Kesimpulannya, celah keamanan ini harus menjadi perhatian utama bagi pengguna WhatsApp. Selalu nonaktifkan pengunduhan media otomatis dan waspada terhadap file dari grup atau kontak baru sebelum menerima atau membuka file tersebut. Pengguna harus menunggu update resmi dari Meta dan tidak menganggap enteng imbauan Google untuk menjaga keamanan data dan perangkat mereka.

Baca Juga

  • Alibaba Mempercepat Inovasi AI dengan Qwen dan Kemajuan Chip

  • Penguatan Keamanan Siber untuk Infrastruktur Kritis

  • Penyusunan Ulang Rantai Pasokan Teknologi Global di Tengah Ketegangan Geopolitik

  • Generator Dunia AI Google Mengguncang Industri Video Game

  • Munculnya Ekosistem Robotik: Platform Terbuka Memacu Integrasi AI Praktis