
Tesla mengalami penurunan produksi mobil sebesar 7 persen dan penurunan pengiriman hingga 9 persen pada tahun 2025, sebuah tantangan besar bagi perusahaan yang dikenal sebagai pelopor kendaraan listrik. Pendapatan tahunan Tesla tercatat sebesar Rp 1.58 quadriliun (US$94,8 miliar) , menurun 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, yang menjadi pertama kalinya pendapatan turun dalam sejarah perusahaan.
Meskipun penjualan menurun, pendapatan dan laba kotor Tesla pada kuartal terakhir tahun 2025 berhasil melampaui ekspektasi para analis, dengan pendapatan mencapai Rp 415.83 triliun (US$24,9 miliar) dan laba kotor sebesar Rp 83.50 triliun (US$5 miliar) . Hal ini menunjukkan ada potensi pemulihan dan efisiensi dalam operasi Tesla.
Persaingan ketat dari produsen mobil listrik asal China, seperti BYD, menjadi salah satu faktor utama yang menekan performa Tesla di pasar global. Selain itu, aktivitas politik CEO Elon Musk, termasuk hubungannya dengan mantan Presiden AS Donald Trump, juga diperkirakan berdampak negatif pada penjualan Tesla, khususnya di pasar Eropa.
Dalam upaya menghadapi tantangan ini, Tesla mengumumkan akan menghentikan produksi model mobil listrik unggulannya, Model S dan Model X, mulai kuartal berikutnya. Sebagai gantinya, pabrik Tesla di Fremont, California, akan dialihfungsikan menjadi fasilitas produksi robot humanoid bernama Optimus, yang merupakan proyek ambisius perusahaan.
Elon Musk menargetkan agar Tesla dapat memproduksi hingga 1 juta robot humanoid Optimus setiap tahunnya di masa depan. Musk juga menjanjikan pengenalan model terbaru dari robot tersebut, Optimus 3, dalam waktu dekat. Langkah ini menunjukkan perubahan fokus bisnis Tesla dari kendaraan listrik menuju robotika sebagai strategi jangka panjang.