Fokus
Bisnis

PHK Massal di 2026: Menavigasi Disrupsi Tenaga Kerja di Sektor Teknologi

Share

Tren pemutusan hubungan kerja massal yang terjadi di tahun 2026, termasuk langkah besar seperti pemutusan 16.000 karyawan oleh Amazon, menggambarkan disrupsi dalam restrukturisasi bisnis digital dan teknologi. Diskursus ini mengajak perusahaan dan pekerja untuk bersama-sama mencari cara mengurangi dampak negatif dan menjaga stabilitas ekonomi serta kesejahteraan tenaga kerja.

29 Jan 2026, 14.15 WIB

Gelombang PHK 2026: Perusahaan Teknologi dan Industri Besar Pangkas Ribuan Pekerja

Gelombang PHK 2026: Perusahaan Teknologi dan Industri Besar Pangkas Ribuan Pekerja
Awal tahun 2026 disambut dengan kabar buruk bagi ribuan pekerja di Amerika Serikat, karena sejumlah perusahaan besar memutuskan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran. PHK ini terjadi terutama di sektor teknologi dan mulai terasa dampaknya di sektor lain seperti ritel dan jasa keuangan. Amazon menjadi yang paling terdampak dengan pemangkasan sebanyak 16.000 posisi kerja di berbagai negara. Sementara Meta memutuskan memecat 1,5 ribu karyawan di Reality Labs, menandai langkah mundur pada proyek Metaverse mereka yang dulu sangat ambisius. Pinterest mengurangi sekitar 780 pekerja untuk mendukung fokus mereka pada pengembangan kecerdasan buatan (AI). Autodesk juga melakukan efisiensi dengan memecat 1.000 orang, dan Angi menyusul dengan 350 pekerja yang dirumahkan karena integrasi AI dalam operasi mereka. Tidak hanya sektor teknologi yang terdampak, perusahaan besar lain seperti Nike juga melakukan PHK sebanyak 775 karyawan, terutama di pusat distribusi. Citigroup yang berencana mengurangi 20 ribu karyawan dalam dua tahun terakhir juga melaksanakan pengurangan sekitar 1.000 orang saat ini. Tren PHK ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam dunia kerja yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan kebutuhan efisiensi biaya. Para pekerja yang terdampak perlu mendapatkan perhatian khusus agar mampu beradaptasi dengan perubahan dan mendapatkan peluang baru ke depan.
28 Jan 2026, 20.24 WIB

Amazon PHK 16.000 Karyawan Korporat dan Gunakan AI Genertif untuk Efisiensi

Amazon PHK 16.000 Karyawan Korporat dan Gunakan AI Genertif untuk Efisiensi
Amazon baru saja mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 16.000 pekerja di divisi korporatnya. Ini merupakan putaran kedua dari PHK massal yang terjadi dalam tiga bulan terakhir. Meskipun perusahaan ini mencatat keuntungan yang besar, mereka tetap memutuskan melakukan pemangkasan tenaga kerja. Perusahaan mengatakan bahwa selama masa pandemi, jumlah karyawan justru bertambah, sehingga sekarang mereka berupaya untuk mengurangi lapisan organisasi dan birokrasi agar proses kerja lebih efisien. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah dengan memanfaatkan teknologi generative artificial intelligence (AI) untuk menggantikan beberapa posisi. Beth Galetti, salah satu senior vice-president Amazon, menyatakan bahwa karyawan yang terkena PHK akan diberikan waktu 90 hari untuk mencari peran baru di dalam perusahaan. Bagi mereka yang tidak berhasil mendapatkan posisi baru atau memilih tidak melanjutkan, akan diberikan paket pesangon, layanan bantu penempatan pekerjaan, dan asuransi kesehatan. Meskipun detail terkait unit bisnis mana yang terkena dampak dan daerah mana pemutusan kerja dilakukan tidak diumumkan secara rinci, langkah ini menunjukkan fokus Amazon pada adaptasi teknologi dan restrukturisasi organisasi agar tetap kompetitif di masa depan. Pemutusan hubungan kerja ini mengikuti putaran pertama yang dilakukan pada bulan Oktober 2023, saat Amazon memangkas 14.000 posisi. Perubahan organisasi ini masih berlangsung hingga sekarang dengan tujuan agar perusahaan bisa lebih ramping dan responsif terhadap kebutuhan pasar dan teknologi.