
Satu dari empat orang dewasa terkena gangguan mental, sehingga DSM menjadi buku penting bagi para dokter dan psikiater. Namun, DSM-5 yang dibuat pada 2013 sering dikritik karena terlalu kaku dalam mengelompokkan penyakit mental dan kurang membahas penyebab-penyebab sosial dan biologisnya.
Baru-baru ini, American Psychiatric Association (APA) mengumumkan rencana untuk membuat versi baru DSM yang lebih ilmiah dan inklusif. Mereka ingin agar manual itu tidak hanya berguna untuk profesional, tapi juga bisa menjadi sumber edukasi dan alat kampanye bagi masyarakat luas.
Salah satu ide utama adalah mengubah DSM agar diagnosis gangguan mental lebih fleksibel dan bekerja berdasarkan skala atau dimensi, bukan hanya kategori tetap seperti sebelumnya. Hal ini diharapkan bisa membuat diagnosa lebih tepat dan sesuai kondisi tiap pasien.
Meski demikian, versi baru DSM diperkirakan belum akan memasukkan tes biomarker—seperti hasil scan otak atau data genetik—karena saat ini belum ada biomarker yang cukup andal untuk diagnosa gangguan mental. Namun, mereka sudah mulai merencanakan riset untuk mengembangkan tes biomarker di masa depan.
Selain aspek biologis, DSM baru juga akan lebih banyak memasukkan faktor budaya dan lingkungan yang mempengaruhi kondisi mental seseorang, serta menilai bagaimana penyakit itu mempengaruhi kualitas hidup pasien secara keseluruhan.