
Qinghai-Tibet Plateau di Cina memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, termasuk tenaga air, angin, dan surya. Data dari survei pemerintah menunjukkan bahwa potensi tenaga air di Tibet setara dengan 178 gigawatt, tenaga angin lebih dari 100 gigawatt, dan tenaga surya mencapai 10.000 gigawatt, cukup besar untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh Cina.
Namun, kondisi geografis yang keras dan ekologi yang sangat sensitif membuat pengembangan sumber energi terbarukan di wilayah ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Lingkungan yang rapuh berisiko terganggu oleh pembangunan masif, sehingga perlu perencanaan yang matang agar energi bersih bisa diproduksi tanpa mengorbankan alam sekitar.
Saat ini, meski Cina telah mencapai terobosan dalam kapasitas tenaga surya yang terpasang lebih dari 1.000 gigawatt, masih ada tantangan dalam distribusi dan penyimpanan energi. Kebanyakan energi terbarukan terpusat di wilayah barat yang kaya sumber daya, sehingga diperlukan perluasan jaringan transmisi dan teknologi penyimpanan untuk mengiriman ke pusat kota yang membutuhkan.
Penelitian yang dilakukan oleh China Society for Hydropower Engineering dan Power Construction Corporation of China menegaskan bahwa potensi energi terbarukan di Tibet sangat besar secara teknis, tapi realisasi praktisnya harus memperhitungkan batasan-batasan teknis, geografis, dan lingkungan untuk menjaga keberlanjutan.
China sedang berupaya keras untuk mencapai target puncak emisi karbon pada 2030 dan netralitas karbon pada 2060. Potensi besar di Tibet dapat membantu memenuhi tujuan ini asalkan pembangunan infrastruktur dan perlindungan lingkungan berjalan seiring.