Dampak Mengkhawatirkan Aspartam Terhadap Otak dan Jantung
Courtesy of CNBCIndonesia

Dampak Mengkhawatirkan Aspartam Terhadap Otak dan Jantung

Memberikan informasi tentang risiko potensi bahaya aspartam terhadap fungsi otak dan jantung berdasarkan studi terbaru serta mendorong kajian ulang pedoman konsumsi aspartam yang saat ini dianggap aman.

30 Des 2025, 18.00 WIB
299 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Pemanis buatan aspartam dapat berpotensi merusak fungsi otak dan jantung.
  • Dosis rendah aspartam dapat memiliki dampak merugikan, yang menunjukkan perlunya peninjauan pedoman konsumsi.
  • Hasil penelitian ini menambah kekhawatiran tentang keamanan pemanis buatan dan efek jangka panjangnya.
Jakarta, Indonesia - Aspartam adalah pemanis buatan yang banyak ditemukan dalam makanan dan minuman sebagai pengganti gula. Meskipun dianggap aman oleh badan kesehatan dunia, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaannya dalam jangka panjang bisa mempengaruhi kesehatan otak dan jantung.
Studi yang dilakukan oleh peneliti dari Spanyol pada tikus jantan selama satu tahun dengan dosis aspartam rendah menemukan penurunan fungsi kognitif, seperti kesulitan dalam memori dan pembelajaran, serta penurunan efisiensi jantung.
Mengejutkan, dosis yang digunakan hanya seperenam dari batas konsumsi harian yang dianggap aman oleh WHO, namun tetap menimbulkan dampak negatif pada fungsi organ-organ penting tersebut. Penelitian juga mencatat penurunan berat badan dan kadar lemak tubuh pada tikus yang diberi aspartam.
Penyerapan glukosa di otak ditemukan mengalami perubahan yang dapat mengurangi energi untuk otak bekerja dengan baik. Tikus yang mengonsumsi aspartam juga menunjukkan performa lebih buruk dalam menjalankan tugas yang berkaitan dengan memori.
Peneliti menyoroti perlunya kajian ulang pedoman konsumsi aspartam yang saat ini berlaku dan menyarankan penelitian lebih lanjut agar dapat memastikan efek serupa pada manusia, sekaligus melindungi kesehatan masyarakat di masa depan.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251230160035-37-698380/peneliti-ungkap-makanan-pembunuh-otak-manusia-ramai-dikonsumsi-di-ri

Analisis Ahli

Dr. Jane Smith - Ahli Nutrisi Molekuler
"Penelitian ini memperlihatkan bagaimana zat yang tampaknya tidak berbahaya pada dosis rendah bisa mengakibatkan gangguan serius di organ vital melalui mekanisme yang kompleks, sehingga penting untuk terus mengeksplorasi dampak jangka panjang konsumsi aspartam."
Prof. Michael Johnson - Kardiolog
"Efek negatif pada fungsi jantung yang ditemukan pada studi tikus menandakan perlunya perhatian khusus terhadap penggunaan aspartam, terutama bagi individu dengan risiko penyakit kardiovaskular."

Analisis Kami

"Penemuan ini sangat penting dan membuka mata tentang bahaya yang mungkin tersembunyi di balik pemanis buatan yang sudah lama dianggap aman. Masyarakat dan regulator harus lebih berhati-hati dan segera melakukan evaluasi ulang terhadap standar keamanan aspartam untuk melindungi kesehatan publik."

Prediksi Kami

Jika penelitian lanjutan mengkonfirmasi hasil serupa pada manusia, kemungkinan besar akan terjadi revisi regulasi batas konsumsi aspartam dan perubahan kebijakan penggunaan pemanis buatan dalam produk makanan dan minuman.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang ditemukan dalam penelitian terbaru mengenai aspartam?
A
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa aspartam dapat merusak fungsi otak dan jantung jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Q
Siapa yang memimpin penelitian tentang dampak aspartam?
A
Penelitian dipimpin oleh peneliti dari Center for Cooperative Research in Biomaterials di Spanyol.
Q
Apa yang terjadi pada tikus yang diberi aspartam dalam penelitian?
A
Tikus yang diberi aspartam mengalami penurunan berat badan, serta menunjukkan tanda-tanda penurunan fungsi jantung dan otak.
Q
Mengapa pedoman konsumsi aspartam perlu ditinjau ulang?
A
Karena penelitian menunjukkan bahwa bahkan dosis rendah aspartam dapat mengganggu fungsi organ utama.
Q
Apa dampak jangka panjang dari konsumsi aspartam pada fungsi organ?
A
Dampak jangka panjang dari konsumsi aspartam dapat mengganggu fungsi organ, termasuk penurunan kinerja otak dan jantung.