Meta Dikritik Setelah Rekrut Bocah Ajaib AI Alexander Wang Tanpa Pengalaman Riset
Courtesy of CNBCIndonesia

Meta Dikritik Setelah Rekrut Bocah Ajaib AI Alexander Wang Tanpa Pengalaman Riset

Menginformasikan kritik terhadap perekrutan Alexander Wang oleh Meta dalam konteks persaingan pengembangan AI dan dinamika internal perusahaan terkait kepercayaan tim AI.

07 Jan 2026, 14.50 WIB
170 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Perekrutan Alexander Wang oleh Meta mendapatkan kritik dari Yann Lecun terkait pengalaman penelitian.
  • Meta berusaha untuk mendapatkan posisi terdepan dalam pengembangan AI dengan merekrut banyak ahli.
  • ScaleAI yang didirikan oleh Wang menjadi bagian penting dari strategi Meta dalam pengembangan teknologi AI.
Jakarta, Indonesia - Meta baru-baru ini merekrut Alexander Wang, seorang pendiri muda Scale AI, sebagai Chief AI Officer. Wang, yang masih berusia 29 tahun dan memiliki kekayaan mencapai Rp 53.44 triliun (US$3,2 miliar) , dipercaya memimpin tim AI baru di Meta bernama Meta Superintelligence Labs.
Namun perekrutan ini memicu kritik dari Yann Lecun, mantan kepala ilmuwan AI Meta yang menyebut Wang kurang berpengalaman dalam riset AI. Lecun menilai Wang belum menguasai cara dan metodologi riset yang penting dalam pengembangan teknologi AI.
Lebih jauh, Lecun menyatakan bahwa CEO Meta, Mark Zuckerberg, kehilangan kepercayaan terhadap seluruh organisasi generasi AI Meta setelah perusahaan tersebut dituduh memanipulasi benchmark model AI Llama4. Hal ini memicu restrukturisasi besar dalam tim AI Meta.
Meta diketahui sangat agresif dalam berburu talenta AI, bahkan menawarkan bonus hingga Rp 1.67 triliun (US$100 juta) untuk merekrut ahli terbaik dari perusahaan seperti OpenAI. Scale AI sendiri sebelumnya telah dibeli Meta sebesar Rp 247.16 triliun (US$14,8 miliar) untuk memperkuat kapabilitas teknologi AI mereka.
Kini, Alexander Wang memimpin pengembangan teknologi AI dasar dan produk inovatif di Meta, namun kritik terhadap kurangnya pengalaman risetnya menjadi perhatian, sehingga keberhasilan langkah ini masih harus dilihat waktu ke depan.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260107120955-37-700300/bocah-ajaib-berharta-rp-53-triliun-jadi-bos-besar-dihujat-keras

Analisis Ahli

Yann Lecun
"Alexander Wang belajar cepat, tapi tidak memiliki pengalaman riset yang memadai, dan Zuckerberg telah kehilangan kepercayaan pada organisasi AI usai kasus manipulasi benchmark."

Analisis Kami

"Meski merekrut talenta muda seperti Alexander Wang menunjukkan ambisi besar Meta, kurangnya pengalaman riset mendalam bisa membatasi efektivitas inovasi di bidang AI yang kompleks dan cepat berubah. Keputusan ini mungkin lebih didorong oleh strategi bisnis dan akuisisi daripada keahlian teknis, yang bisa berisiko bagi kualitas riset dan produk AI Meta ke depan."

Prediksi Kami

Jika kritik dan masalah kepercayaan internal tidak diatasi, upaya Meta dalam mengembangkan AI bisa mendapatkan hambatan signifikan, berpotensi memperlambat kemajuan inovasi dan memperbesar peluang pesaing seperti OpenAI untuk memimpin pasar AI.

Pertanyaan Terkait

Q
Siapa Alexander Wang dan apa perannya di Meta?
A
Alexander Wang adalah pendiri Scale AI dan saat ini menjabat sebagai Chief AI Officer di Meta.
Q
Apa kritik yang disampaikan oleh Yann Lecun terhadap perekrutan Wang?
A
Yann Lecun mengkritik Wang karena kurangnya pengalaman dalam penelitian dan cara melakukan penelitian yang tepat.
Q
Mengapa Meta aktif merekrut ahli AI?
A
Meta aktif merekrut ahli AI untuk bersaing dalam pengembangan teknologi AI dan meningkatkan produk mereka.
Q
Apa itu ScaleAI dan bagaimana hubungannya dengan Meta?
A
ScaleAI adalah perusahaan yang didirikan oleh Alexander Wang yang baru saja diakuisisi oleh Meta.
Q
Apa tujuan dari Superintelligence Labs di Meta?
A
Superintelligence Labs di Meta bertujuan untuk mengembangkan teknologi AI dan melakukan penelitian terkait.