Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Teknologi

Strategi AI Meta Menghadapi Tantangan: Menghentikan Pengeluaran AI dan Kerjasama yang Tegang

Share

Meta Platforms sedang menghadapi tantangan dalam strategi AI mereka dengan melakukan penghentian pengeluaran AI dan mengalami ketegangan dalam kerjasama mereka, termasuk kemitraan dengan Scale AI. Langkah ini mempengaruhi arah perkembangan teknologi AI Meta dan implikasinya bagi investor.

30 Agt 2025, 16.30 WIB

Meta Berhenti Sementara Rekrut AI, Tapi Fokus Maksimalkan Talenta dan Infrastruktur

Meta Berhenti Sementara Rekrut AI, Tapi Fokus Maksimalkan Talenta dan Infrastruktur
Meta Platforms dikenal sebagai salah satu perusahaan yang paling agresif dalam berinvestasi di teknologi kecerdasan buatan (AI). Mereka mengeluarkan dana besar untuk menarik talenta AI terbaik dengan bonus-bonus yang sangat besar. Namun, belakangan ini mereka mengumumkan pemberhentian sementara dalam perekrutan talenta AI baru, yang sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Kenyataannya, jeda perekrutan tersebut bukan tanda berhenti berinvestasi di AI, melainkan upaya untuk menata ulang struktur dan membagi tim AI ke dalam proyek-proyek yang lebih terfokus dan terorganisir. Salah satu tim bahkan disebut sebagai 'TBD lab', yang menandakan bahwa perusahaan tengah menguji arah baru yang mungkin ditempuh. Meskipun menghentikan perekrutan talenta AI baru, Meta tetap berkomitmen pada pengembangan infrastruktur AI. Mereka memproyeksikan peningkatan pengeluaran yang signifikan pada 2025 dan 2026, terutama untuk infrastruktur yang mendukung teknologi AI agar dapat bekerja secara efektif dan mendukung produk mereka. Meta juga telah menunjukkan hasil positif dari investasi AI mereka, dengan peningkatan waktu penggunaan platform per pengguna serta peningkatan konversi iklan melalui fitur AI baru. Pendapatan perusahaan pun melonjak 22% pada kuartal kedua dan laba per saham naik 38%, yang menunjukkan bahwa strategi AI Meta mulai membuahkan hasil nyata. Meskipun harga saham Meta tergolong tinggi, perusahaan ini masih dianggap lebih murah dibandingkan raksasa teknologi lain. Dengan talenta AI top yang sudah ada dan fokus baru mereka pada proyek-proyek AI yang jelas, Meta diperkirakan akan terus tumbuh dan menjadi investasi menarik bagi para investor di masa depan.
30 Agt 2025, 08.34 WIB

Meta Hadapi Tantangan Besar Setelah Investasi 14,3 Miliar di Scale AI

Meta Hadapi Tantangan Besar Setelah Investasi 14,3 Miliar di Scale AI
Meta menginvestasikan 14,3 miliar dolar AS ke perusahaan data AI bernama Scale AI dan membawa CEO Scale, Alexandr Wang, bersama sejumlah eksekutifnya untuk memimpin laboratorium AI baru bernama Meta Superintelligence Labs atau MSL. Meski investasi besar, hubungan kedua perusahaan mulai bermasalah saat beberapa eksekutif Scale pergi dari Meta dalam waktu singkat. Salah satu eksekutif penting dari Scale, Ruben Mayer, meninggalkan Meta setelah hanya dua bulan bekerja. Mayer bertugas mengawasi tim operasi data AI tapi tidak terlibat langsung dengan unit inti pengembangan superintelligence yang disebut TBD Labs, yang justru lebih memilih menggunakan data dari pesaing Scale, seperti Mercor dan Surge. Para peneliti di TBD Labs menganggap kualitas data dari Scale AI kurang memuaskan dan lebih memilih vendor lain, meskipun Meta sudah menanamkan investasi besar. Sebelumnya, Scale AI mengandalkan tenaga kerja murah untuk anotasi data sederhana, tapi kini model ini tidak cukup karena AI memerlukan data berkualitas dari ahli bidang spesifik seperti dokter dan ilmuwan. Meta sendiri sedang mengalami masa sulit dalam merekrut dan mempertahankan talenta AI terbaik, dengan beberapa peneliti bergabung lalu meninggalkan perusahaan. CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga menunjukkan ketidaksabaran setelah kegagalan peluncuran Llama 4 dan berupaya keras merekrut peneliti top dari OpenAI dan Google, sekaligus membangun fasilitas data center besar untuk mendukung pengembangan AI. Situasi yang penuh tantangan ini menimbulkan pertanyaan apakah Meta mampu menstabilkan operasional AI-nya dan mewujudkan ambisinya menjadi pemimpin teknologi di bidang kecerdasan buatan. MSL dikabarkan sedang mengerjakan model AI generasi berikutnya yang direncanakan rilis akhir tahun ini.
30 Agt 2025, 08.34 WIB

Meta dan Scale AI: Investasi Besar, Tantangan Kualitas Data, dan Pergeseran Talenta AI

Meta dan Scale AI: Investasi Besar, Tantangan Kualitas Data, dan Pergeseran Talenta AI
Meta menginvestasikan 14,3 miliar dolar AS ke Scale AI pada bulan Juni untuk memperkuat pengembangan AI mereka dengan membawa CEO Scale AI, Alexandr Wang, serta beberapa eksekutif kunci lainnya ke dalam Meta Superintelligence Labs (MSL). Namun, kerjasama ini mulai bermasalah ketika beberapa eksekutif seperti Ruben Mayer keluar hanya dua bulan setelah bergabung karena tidak mendapatkan peran di tim inti AI superintelligence di Meta. Meta juga mulai menggunakan vendor data lain seperti Mercor dan Surge, yang merupakan pesaing Scale AI, karena staf di Meta menilai data dari Scale AI kurang berkualitas. Hal ini menjadi perhatian meski Meta sudah berinvestasi besar ke Scale AI karena biasanya investasi sebesar itu membuat sebuah perusahaan bergantung secara eksklusif pada vendor tersebut. Scale AI sendiri mengalami kesulitan setelah kehilangan klien besar seperti OpenAI dan Google yang berhenti bekerja sama. Ini memaksa Scale AI untuk melakukan pengurangan karyawan di bagian pelabelan data dan mengganti fokus ke sektor lain termasuk kontrak dengan pemerintah Amerika Serikat. Dinamika internal di Meta juga memunculkan kekacauan di unit AI mereka karena peneliti baru dari OpenAI dan Scale AI merasa frustasi dengan birokrasi perusahaan yang besar. Banyak peneliti dan eksekutif yang sebelumnya bekerja di tim GenAI Meta memilih untuk meninggalkan perusahaan, menimbulkan ketidakpastian masa depan proyek AI Meta. Meskipun Meta telah mengumumkan pembangunan pusat data besar-besaran dan menggandeng banyak talenta AI dari perusahaan besar lainnya, masih ada pertanyaan besar apakah strategi agresif ini bisa secara efektif mendukung pengembangan teknologi AI yang stabil dan kompetitif di masa depan.
30 Agt 2025, 07.03 WIB

Meta Pertimbangkan Kerja Sama dengan Google dan OpenAI untuk Tingkatkan AI

Meta Pertimbangkan Kerja Sama dengan Google dan OpenAI untuk Tingkatkan AI
Meta Platforms sedang mengeksplorasi kemungkinan bermitra dengan Google atau OpenAI untuk meningkatkan kemampuan fitur kecerdasan buatan (AI) dalam aplikasi mereka. Ini adalah bagian dari upaya Meta untuk memperbaiki sistem chatbot mereka yang dikenal sebagai Meta AI. Tim khusus di Meta yang bernama Meta Superintelligence Labs kini sedang menguji bagaimana cara mengintegrasikan model AI bernama Gemini yang dikembangkan oleh Google. Model ini akan membantu chatbot Meta merespon pertanyaan dengan gaya percakapan yang lebih alami dan informatif. Langkah ini cukup menarik karena biasanya perusahaan teknologi besar seperti Meta dan Google bersaing ketat dalam bidang AI, tetapi kali ini mereka mempertimbangkan untuk bekerja sama demi menghasilkan teknologi yang lebih kuat. Meski laporan ini telah dipublikasikan oleh The Information, Reuters sendiri belum bisa memverifikasi kebenaran dari kabar tersebut secara langsung. Namun, langkah ini menunjukkan bahwa persaingan dalam dunia AI tidak selalu harus diwarnai kompetisi sengit saja, melainkan kolaborasi juga sangat mungkin terjadi. Apabila kerja sama ini terealisasi, maka pengguna aplikasi Meta bisa merasakan peningkatan besar dalam kemampuan asisten AI mereka dalam menjawab berbagai pertanyaan, sehingga pengalaman penggunaan aplikasi menjadi lebih baik dan efektif.
29 Agt 2025, 18.00 WIB

Meta Bergerak Cepat Bangun Lab AI Superintelligence, Namun Hadapi Tantangan Talenta

Meta Bergerak Cepat Bangun Lab AI Superintelligence, Namun Hadapi Tantangan Talenta
Pada bulan Juni, Mark Zuckerberg mengambil langkah besar dengan mendirikan Meta Superintelligence Labs usai mengakuisisi Scale AI senilai 14,3 miliar dolar. Langkah ini menjadi bagian dari persaingan sengit di dunia kecerdasan buatan, dengan Meta berusaha menggabungkan bakat-bakat ternama dari berbagai perusahaan AI besar di dunia. Meski berhasil merekrut banyak peneliti dan insinyur hebat, Meta menghadapi tantangan dalam mempertahankan mereka, terutama di tim khusus bernama TBD Lab. Beberapa staf yang dikabarkan keluar ternyata tidak pernah mulai bekerja di sana, dan hanya satu orang yang benar-benar meninggalkan tim ini kurang dari sebulan setelah bergabung. Baru-baru ini, Meta mengumumkan penghentian perekrutan sementara dengan pengecualian untuk posisi penting, sebagai bagian dari perencanaan anggaran dan restrukturisasi organisasi divisi superintelligence. Struktur divisi ini dipecah menjadi empat tim besar dengan fokus yang berbeda: TBD Lab, FAIR, Products & Applied Research, dan MSL Infra. Metode baru ini bertujuan untuk mengintegrasikan lebih baik riset-riset dari FAIR ke dalam project sulit seperti pengembangan model AI besar di TBD Lab, serta mendekatkan riset ke pengembangan produk melalui tim produk, dan mendukung infrastruktur teknologi yang kuat untuk percepatan riset dan produksi. Meskipun ada isu perekrutan dan perubahan organisasi, pimpinan Meta dan juru bicara menegaskan investasi mereka pada AI superintelligence tetap kuat dan berkelanjutan. Namun, banyak ahli dan pengamat industri menilai bahwa hanya dengan strategi terbaik juga diperlukan budaya kerja yang sejalan dengan nilai para talenta agar target ambisius ini berhasil.

Baca Juga

  • Strategi AI Meta Menghadapi Tantangan: Menghentikan Pengeluaran AI dan Kerjasama yang Tegang

  • Peningkatan Serangan Siber yang Didukung Negara Memacu Pertumbuhan Perusahaan Keamanan Siber

  • Robot Humanoid Canggih dari China Mengubah Industri dan Budaya

  • China Memperkenalkan Chip 6G Universal Pertama di Dunia dengan Kecepatan 100 Gbps

  • Peningkatan Serangan Siber yang Didukung Negara Mendorong Pertumbuhan Perusahaan Keamanan Siber