
Meta menginvestasikan 14,3 miliar dolar AS ke perusahaan data AI bernama Scale AI dan membawa CEO Scale, Alexandr Wang, bersama sejumlah eksekutifnya untuk memimpin laboratorium AI baru bernama Meta Superintelligence Labs atau MSL. Meski investasi besar, hubungan kedua perusahaan mulai bermasalah saat beberapa eksekutif Scale pergi dari Meta dalam waktu singkat.
Salah satu eksekutif penting dari Scale, Ruben Mayer, meninggalkan Meta setelah hanya dua bulan bekerja. Mayer bertugas mengawasi tim operasi data AI tapi tidak terlibat langsung dengan unit inti pengembangan superintelligence yang disebut TBD Labs, yang justru lebih memilih menggunakan data dari pesaing Scale, seperti Mercor dan Surge.
Para peneliti di TBD Labs menganggap kualitas data dari Scale AI kurang memuaskan dan lebih memilih vendor lain, meskipun Meta sudah menanamkan investasi besar. Sebelumnya, Scale AI mengandalkan tenaga kerja murah untuk anotasi data sederhana, tapi kini model ini tidak cukup karena AI memerlukan data berkualitas dari ahli bidang spesifik seperti dokter dan ilmuwan.
Meta sendiri sedang mengalami masa sulit dalam merekrut dan mempertahankan talenta AI terbaik, dengan beberapa peneliti bergabung lalu meninggalkan perusahaan. CEO Meta, Mark Zuckerberg, juga menunjukkan ketidaksabaran setelah kegagalan peluncuran Llama 4 dan berupaya keras merekrut peneliti top dari OpenAI dan Google, sekaligus membangun fasilitas data center besar untuk mendukung pengembangan AI.
Situasi yang penuh tantangan ini menimbulkan pertanyaan apakah Meta mampu menstabilkan operasional AI-nya dan mewujudkan ambisinya menjadi pemimpin teknologi di bidang kecerdasan buatan. MSL dikabarkan sedang mengerjakan model AI generasi berikutnya yang direncanakan rilis akhir tahun ini.