
Kepemimpinan saat ini sedang mengalami perubahan besar akibat keberadaan AI yang mengambil alih bagian pekerjaan eksekusi. Dengan tugas yang berjalan lebih cepat dan keputusan yang diambil dengan singkat, banyak pemimpin merasa ada ruang kosong yang muncul, namun mereka bingung bagaimana mengelolanya.
Insting banyak pemimpin adalah mengisi ruang kosong tersebut dengan lebih banyak aktivitas seperti rapat dan laporan, karena mereka mengukur nilai diri dari seberapa sibuk mereka. Hal ini justru berbahaya karena menghilangkan kesempatan untuk berpikir kreatif dan inovasi.
Seorang pelatih kepemimpinan, Sabina Nawaz, menyarankan agar pemimpin belajar untuk 'tidak melakukan apa-apa' sesekali, memberi diri mereka dan timnya ruang untuk berpikir tanpa tekanan harus langsung mengambil keputusan atau memberikan hasil.
Penting bagi pemimpin untuk mulai mengatur ulang jadwalnya sendiri dan melindungi waktu khusus tanpa gangguan agar dapat melakukan refleksi, belajar, dan eksperimen secara mendalam. Ini bukan waktu menganggur, melainkan ruang produktif yang mendukung penilaian dan inovasi manusia.
Di masa depan, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh produktivitas yang tinggi, tapi kemampuan pemimpinnya menciptakan kapasitas waktu berkualitas bagi manusia untuk mengembangkan pemikiran baru yang bisa menyesuaikan dengan perubahan lingkungan kerja yang cepat dan kompleks.