Fokus
Sains

Memperkuat Kesiapsiagaan Bencana Indonesia di Tengah Tantangan Cuaca Ekstrem

Share

Berita-berita ini menggarisbawahi berbagai tantangan multi-hazard di Indonesia—mulai dari sinkhole, pergeseran megathrust, hingga curah hujan ekstrem—serta mendiskusikan strategi peningkatan kesiapsiagaan dan respons oleh pemerintah dan lembaga terkait untuk menghadapi bencana alam.

31 Jan 2026, 21.15 WIB

Waspada Sinkhole di Indonesia: Penyebab, Deteksi, dan Cara Mitigasinya

Waspada Sinkhole di Indonesia: Penyebab, Deteksi, dan Cara Mitigasinya
Fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah sering muncul tiba-tiba di wilayah yang memiliki lapisan batugamping, seperti beberapa daerah di Indonesia. Sinkhole terbentuk karena larutnya batugamping di bawah tanah akibat air hujan yang mengandung karbon dioksida, sehingga menciptakan rongga dan akhirnya menyebabkan runtuhnya lapisan atas tanah. Fenomena ini terutama terjadi di wilayah dengan bentang alam karst seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Proses pembentukan rongga dan lubang ini berlangsung perlahan dan sulit dikenali secara langsung karena terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga masyarakat perlu lebih waspada terutama jika air permukaan tiba-tiba menghilang tanpa sebab jelas. Untuk mendeteksi keberadaan rongga yang berpotensi menyebabkan sinkhole, metode survei geofisika seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik bisa digunakan. Metode ini membantu memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga sehingga potensi bahaya dapat diantisipasi lebih awal sebelum terjadi runtuhan. Salah satu teknik mitigasi yang efektif ialah cement grouting, yaitu menginjeksi semen atau bahan kimia ke dalam rongga batugamping menggunakan pompa bertekanan. Metode ini bertujuan mengisi rongga agar lapisan batuan menjadi lebih stabil dan dapat menahan beban di atasnya dengan lebih baik, mencegah terjadinya lubang runtuhan. Masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah rawan sangat dianjurkan untuk memahami fenomena ini dan menggunakan kajian geologi serta survei geofisika sebagai dasar perencanaan wilayah dan mitigasi risiko bencana. Dengan peningkatan kewaspadaan serta penggunaan teknologi yang tepat, dampak buruk dari makin seringnya terjadi sinkhole di Indonesia dapat diminimalisasi.
31 Jan 2026, 12.45 WIB

Zona Megathrust Indonesia Menyimpan Energi Besar, Waspadai Gempa Dahsyat

Zona Megathrust Indonesia Menyimpan Energi Besar, Waspadai Gempa Dahsyat
Data terbaru dari pemutakhiran seismik nasional Indonesia mengungkap adanya akumulasi energi besar di zona megathrust yang sebelumnya kurang aktif. Studi ini melibatkan pakar kegempaan dari Jepang, termasuk Profesor Kosuke Heki yang berpendapat bahwa Indonesia mirip dengan zona Nankai Trough, kawasan gempa aktif di Jepang. Profesor Heki menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang terhadap deformasi kerak bumi menggunakan teknologi GNSS dan pengukuran geodesi dasar laut. Ia menyebut bahwa tegangan di sepanjang palung subduksi terus bertambah dan akan memicu gempa besar berikutnya. Fenomena slow slip event atau pergeseran lambat yang sering terjadi sebelum gempa besar juga menjadi perhatian karena dapat menjadi indikator awal gempa. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan sistem pemantauan serupa di banyak zona subduksi aktif seperti Sumatra, Jawa, Bali, dan Maluku. Peta terbaru menunjukkan bahwa zona Megathrust Aceh-Andaman punya potensi gempa terbesar dengan magnitudo 9,2, diikuti oleh Megathrust Jawa dengan potensi gempa hingga magnitudo 9,1. BMKG juga menyoroti dua zona megathrust lain yang masih belum melepaskan energi besar dan termasuk kondisi seismic gap. BMKG menjelaskan bahwa istilah 'menunggu waktu' mengacu pada akumulasi energi yang tersimpan lama, bukan prediksi pasti kapan gempa terjadi. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan pemerintah perlu memperkuat sistem pemantauan untuk mitigasi bencana yang lebih efektif.
29 Jan 2026, 11.00 WIB

BMKG Prediksi Curah Hujan dan Peralihan Musim di Indonesia Hingga 2026

BMKG Prediksi Curah Hujan dan Peralihan Musim di Indonesia Hingga 2026
Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah pada akhir Januari 2026. BMKG merilis prediksi akumulasi curah hujan untuk periode 29 Januari sampai 30 Januari pukul 07.00 WIB, dengan wilayah Banten, Jawa Barat, NTT, Kalteng, dan Sulsel diperkirakan hujan lebat. Musim hujan di kawasan selatan Indonesia seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan mulai berakhir sekitar Februari hingga Maret 2026. Setelah itu, wilayah tersebut akan memasuki musim kemarau sejak April hingga September 2026, sehingga perubahan cuaca harus diantisipasi oleh masyarakat terutama petani dan pelaku sektor luar ruangan. Wilayah Indonesia dekat garis ekuator, terutama Sumatra bagian utara, memiliki pola musim yang unik yaitu dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam setahun. Wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau kini mulai memasuki awal musim kemarau dengan kondisi yang tidak terlalu kering, namun tetap berpotensi terjadi kebakaran hutan dan lahan. BMKG juga mengantisipasi adanya hujan kembali di wilayah ekuator pada bulan April hingga Juni 2026 sebelum memasuki musim kemarau yang lebih panjang. Perbedaan pola musim ini membuat perlunya pendekatan wilayah yang berbeda dalam mitigasi bencana serta penyiapan infrastruktur dan sumber daya masyarakat. Musim hujan di kawasan selatan diperkirakan baru kembali dimulai pada Oktober 2026. Warga di seluruh Indonesia diharapkan tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan mengikuti informasi BMKG agar dapat meminimalisir dampak buruk dari musim hujan maupun kemarau.