Mengungkap Akar Psikologis di Balik Kebiasaan Memberi Berlebihan dalam Persahabatan
Courtesy of Forbes

Mengungkap Akar Psikologis di Balik Kebiasaan Memberi Berlebihan dalam Persahabatan

Memberikan pemahaman mendalam tentang penyebab dan dampak kebiasaan memberi secara kompulsif dalam hubungan sosial, serta menawarkan cara praktis agar kebaikan tidak mengorbankan kesejahteraan diri.

21 Jan 2026, 05.30 WIB
44 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Memberi dapat menjadi cara untuk mengatasi kecemasan, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran.
  • Hubungan yang sehat memerlukan keseimbangan dalam memberi dan menerima.
  • Penting untuk mengenali tanda-tanda bahwa kebiasaan memberi dapat menjadi berbahaya bagi diri sendiri dan hubungan.
Banyak orang mengenal teman atau kenalan yang selalu memberi secara berlebihan, seperti membayar tagihan tanpa ragu atau membiayai rencana kelompok agar tidak ada yang tertinggal. Meski terlihat murah hati, kebiasaan ini sering menjadi cara untuk mengatasi ketidaknyamanan batin dan luka masa kecil yang tersembunyi.
Penelitian menunjukkan bahwa memberi kepada orang lain bisa membuat kita merasa lebih bahagia dibandingkan membelanjakan uang untuk diri sendiri, tetapi hasil ini sangat bergantung pada alasan mengapa kita memberi. Memberi yang dipilih secara bebas berbeda efeknya dengan memberi yang dimotivasi oleh rasa takut atau kewajiban.
Orang yang selama masa kecil belajar bahwa cinta tergantung pada memberi atau berkorban sering membawa pola ini ke masa dewasa. Mereka merasa bernilai saat dapat menyediakan sesuatu untuk orang lain, yang kemudian terkadang membuat hubungan sosial menjadi timpang dan menimbulkan perasaan terutang atau tergantung.
Memberi secara terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan emosional, rasa marah yang tersembunyi, dan kehilangan jati diri. Secara finansial juga bisa menyebabkan kerugian seperti menipisnya tabungan dan ketidakmampuan menghadapi krisis mendadak, serta sulit meminta bantuan karena merasa bersalah.
Untuk menjaga kebaikan tanpa mengorbankan diri sendiri, penting mengenal tanda-tanda kebiasaan memberi yang sudah merusak dan menerapkan langkah praktis agar ikatan di dalam persahabatan tetap sehat, seimbang, dan saling menguatkan dengan cara yang autentik.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/traversmark/2026/01/20/1-major-reason-youre-a-compulsive-financial-giver-by-a-psychologist/

Analisis Ahli

Brene Brown
"Memberikan dengan niat tulus dan batasan yang sehat adalah kunci membangun hubungan autentik yang penuh kepercayaan dan saling menghargai."
John Bowlby
"Pengalaman masa kecil berperan besar dalam membentuk pola keterikatan yang memengaruhi bagaimana seseorang mencari rasa aman lewat pemberian dalam hubungan sosial."

Analisis Kami

"Kebiasaan memberi yang berlebihan sering disalahpahami sebagai kemurnian hati, padahal sebenarnya mencerminkan kebutuhan mendalam akan validasi dan keamanan emosional. Pendekatan kesehatan mental harus lebih diutamakan dalam mengatasi pola ini agar hubungan sosial benar-benar harmonis dan berkelanjutan."

Prediksi Kami

Komplikasi psikologis dan finansial dari kebiasaan memberi kompulsif akan meningkat jika tidak ada kesadaran dan intervensi yang tepat, sehingga hubungan sosial bisa menjadi tidak sehat dan pemberi bisa mengalami kelelahan berat.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang dimaksud dengan memberi secara kompulsif?
A
Memberi secara kompulsif adalah pola di mana seseorang merasa terdorong untuk memberikan uang atau barang kepada orang lain sebagai cara untuk mengatasi kecemasan atau ketidaknyamanan internal.
Q
Bagaimana cara memberi dapat mempengaruhi hubungan sosial?
A
Memberi dapat menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan, di mana satu pihak merasa berutang, dan ini dapat mengurangi kedalaman koneksi emosional.
Q
Apa penyebab psikologis di balik kebiasaan memberi yang berlebihan?
A
Penyebab psikologis di balik kebiasaan memberi yang berlebihan sering kali terkait dengan pengalaman masa kecil di mana cinta dan keselamatan dianggap tergantung pada kemampuan untuk memberi atau berkorban.
Q
Apa saja tanda-tanda bahwa memberi telah menjadi berbahaya?
A
Tanda-tanda bahwa memberi telah menjadi berbahaya termasuk merasa tidak terlihat kecuali saat memberikan, merasakan rasa malu saat merasa marah, dan mengalami kelelahan emosional.
Q
Mengapa penting untuk menjaga keseimbangan dalam memberikan?
A
Menjaga keseimbangan dalam memberikan penting untuk memastikan bahwa hubungan tetap sehat dan saling mendukung tanpa ketergantungan yang tidak sehat.