Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Pergeseran Kendali dan Kemunculan Alternatif Ekosistem TikTok

Share

Perubahan kepemilikan dan dinamika ekosistem seputar TikTok menjadi sorotan utama, dengan munculnya berita mengenai peralihan kepemilikan dari pihak China ke Amerika, dinamika kepemimpinan di platform e-commerce terkait, serta munculnya aplikasi pengganti TikTok yang mulai menarik perhatian pasar. Perubahan ini menandakan pergeseran penting dalam tata kelola media sosial global serta potensi dampaknya pada persaingan dan inovasi industri digital.

30 Jan 2026, 19.00 WIB

Pengguna TikTok Hapus Aplikasi, UpScrolled Jadi Media Sosial Baru Favorit

Pengguna TikTok Hapus Aplikasi, UpScrolled Jadi Media Sosial Baru Favorit
Perpindahan operasional TikTok ke entitas gabungan di Amerika Serikat yang dikaitkan dengan tokoh dekat pemerintahan Donald Trump telah menyebabkan kegelisahan di kalangan pengguna. Pengguna mulai meragukan kebijakan privasi baru TikTok yang dinilai berpotensi mengumpulkan data pribadi sensitif. Ketidakpercayaan ini mengakibatkan lonjakan pengguna yang menghapus aplikasi TikTok sampai 150% dalam waktu singkat. Berbagai isu terkait pengumpulan data seperti informasi ras, orientasi seksual, dan data keuangan menjadi sorotan media sosial. Di tengah situasi tersebut, muncul aplikasi media sosial baru bernama UpScrolled. Dalam waktu singkat, pengguna UpScrolled melonjak dari 150.000 menjadi lebih dari 1 juta, bahkan aplikasi ini menduduki peringkat pertama di Apple App Store untuk kategori aplikasi gratis. UpScrolled menawarkan pengalaman media sosial tanpa sensor dan pembatasan algoritma (shadowban), berbeda dengan TikTok, Meta, dan X yang dituduh melakukan pembungkaman konten kritis. Pendiri UpScrolled, Issam Hijazi, berasal dari latar belakang teknologi dan pernah bekerja di perusahaan besar seperti IBM dan Oracle. Pengembangan UpScrolled sebagai platform bebas agenda politik dan komersil juga merupakan respons terhadap maraknya disinformasi dan hilangnya konten bermakna di media sosial utama. Hal ini membuat UpScrolled menjadi alternatif populer di kalangan pengguna yang menginginkan kebebasan berekspresi.
30 Jan 2026, 15.35 WIB

Rencana Ganti Aplikasi Tokopedia dengan TikTok Shop Jadi Sorotan Pasar

Rencana Ganti Aplikasi Tokopedia dengan TikTok Shop Jadi Sorotan Pasar
Tokopedia yang selama ini menjadi salah satu platform ecommerce terbesar di Indonesia dikabarkan akan diganti dengan aplikasi khusus TikTok Shop yang terpisah dari aplikasi TikTok. Informasi ini berasal dari beberapa narasumber serta konfirmasi dari tim teknologi Tokopedia dan TikTok E-commerce Indonesia. ByteDance, induk usaha TikTok, telah mengambil alih mayoritas saham Tokopedia sejak Januari 2024 dan melakukan perubahan struktur organisasi yang cukup besar termasuk pengurangan karyawan hingga lebih dari 400 orang dalam setahun terakhir. Hal ini menandai perubahan besar di dalam perusahaan. Kabar penutupan aplikasi Tokopedia muncul bersamaan dengan penggeseran posisi CEO Melissa Siska Juminto menjadi komisaris, yang menunjukkan adanya perubahan kepemimpinan dan strategi baru dalam mengelola platform ecommerce di bawah ByteDance. TikTok sendiri memberi insentif iklan hingga 30% khusus untuk pedagang dari China di platform TikTok Shop, tetapi insentif tersebut tidak diberikan kepada pedagang Indonesia, yang memicu pro dan kontra di kalangan pelaku usaha lokal. Meskipun TikTok dikategorikan sebagai aplikasi media sosial, mereka berhasil mencatat nilai transaksi terbesar di Indonesia, mengungguli Tokopedia dan aplikasi retail lain, yang semakin memperkuat alasan mengintegrasikan Tokopedia ke dalam TikTok Shop sebagai bagian strategi yang lebih besar.
28 Jan 2026, 02.14 WIB

TikTok Amerika Baru: Gangguan Algoritma dan Kreator Mulai Beralih Platform

TikTok Amerika Baru: Gangguan Algoritma dan Kreator Mulai Beralih Platform
Pada tanggal 22 Januari 2026, TikTok resmi menjadi entitas mayoritas milik Amerika Serikat setelah diwajibkan melepaskan kepemilikan ByteDance. Langkah ini menyebabkan gangguan besar di platform, seperti tertundanya pembayaran dan kehilangan fungsi yang sebelumnya mendukung kreator dan merek di TikTok. Banyak pengguna melaporkan performa konten yang menurun drastis dengan jumlah tayangan sangat rendah, kadang di bawah 1.000, bahkan beberapa kreator menemukan video mereka tertahan dalam proses review selama berjam-jam tanpa hasil yang jelas. Masalah ini membuat kepercayaan para kreator menurun karena jangkauan adalah kunci untuk menjalin kemitraan dengan merek. Selain itu, metrik di platform menjadi tidak dapat diandalkan, ada situasi aneh dimana jumlah like melebihi jumlah view, yang secara teknis tidak mungkin. Beberapa kreator dan pengelola sosial media melaporkan kehilangan akses ke data analitik yang sangat penting dalam mengelola konten dan strategi pemasaran mereka. Melihat ketidakpastian ini, banyak kreator sudah mulai beralih atau mengembangkan konten mereka di platform lain seperti YouTube Shorts, Instagram, dan platform baru seperti UpScrolled yang menjanjikan kontrol lebih besar terhadap konten tanpa intervensi algoritmik yang berat. Ini menjadi strategi penting untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu platform. Agensi dan pelaku bisnis disarankan untuk mengadopsi strategi multi-platform agar terhindar dari dampak negatif yang mungkin timbul akibat kondisi TikTok yang sedang tidak stabil. Ke depan, platform dengan kontrol terpusat yang ketat akan semakin sulit diandalkan untuk koneksi jangka panjang antara merek dan konsumen.
28 Jan 2026, 02.14 WIB

Gangguan TikTok Pasca Kepemilikan AS: Kreator dan Merek Mulai Migrasi

Gangguan TikTok Pasca Kepemilikan AS: Kreator dan Merek Mulai Migrasi
Pada 22 Januari 2026, TikTok secara resmi berubah menjadi mayoritas dimiliki oleh entitas Amerika, memisahkan diri dari ByteDance. Perubahan ini menyebabkan gangguan besar pada platform, mempengaruhi kreator dan merek yang telah lama mengandalkan TikTok. Algoritma TikTok yang sebelumnya kuat tiba-tiba berubah, membuat banyak akun mengalami penurunan jangkauan yang tajam. Beberapa konten bahkan melihat views kurang dari seribu, meskipun mendapat banyak likes, menimbulkan kebingungan dan kekecewaan di kalangan kreator. Selain itu, data analitik seperti jumlah views dan performa konten tampak hilang atau tidak konsisten, seperti munculnya likes yang lebih banyak daripada views. Hal ini mengurangi kepercayaan pengguna terhadap keandalan platform TikTok. Sebagai respons, beberapa kreator mulai memindahkan fokus mereka ke platform alternatif seperti YouTube Shorts, Instagram, dan platform baru seperti UpScrolled yang dianggap lebih ramah kreator dan tidak terlalu ketat dalam pengawasan algoritma. Para ahli dan agen talent menyarankan agar merek dan kreator mengadopsi strategi multi-platform untuk menghindari risiko ketergantungan hanya pada satu platform yang sedang mengalami ketidakstabilan dan gangguan ini.
23 Jan 2026, 09.05 WIB

TikTok Bentuk Perusahaan Patungan Baru Demi Terus Eksis di Amerika Serikat

TikTok Bentuk Perusahaan Patungan Baru Demi Terus Eksis di Amerika Serikat
TikTok baru-baru ini mengumumkan pembentukan perusahaan patungan baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC di Amerika Serikat. Ini adalah langkah penting setelah undang-undang keamanan nasional AS mewajibkan entitas China untuk melepaskan kontrol atas operasi TikTok di negara tersebut. Dengan pembentukan ini, TikTok berharap dapat mempertahankan akses bagi 200 juta pengguna dan 7,5 juta bisnis di AS yang menggunakan platformnya. Perusahaan baru ini akan mengoperasikan TikTok di AS dengan mayoritas kepemilikan yang berasal dari warga Amerika Serikat. Shou Chew, CEO TikTok, akan berada sebagai salah satu anggota dewan direksi, sementara Adam Presser ditunjuk menjadi CEO TikTok USDS. Dewan direksi hampir seluruhnya diisi oleh warga negara AS dari berbagai perusahaan dan investor. ByteDance, perusahaan induk TikTok yang berbasis di China, masih memegang 19,9% saham di perusahaan patungan ini. TikTok menyatakan bahwa perusahaan baru ini akan beroperasi di bawah ketentuan yang menjamin keamanan nasional melalui perlindungan data yang komprehensif, pengamanan algoritma, moderasi konten, dan kepastian perangkat lunak untuk pengguna AS. Para direktur di TikTok USDS berasal dari berbagai latar belakang investor dan perusahaan besar seperti TPG Global, Susquehanna International Group, Silver Lake, DXC Technology, Oracle, dan MGX. Keputusan pembentukan entitas independen ini muncul sebagai upaya memenuhi peraturan keamanan di AS agar TikTok tidak diblokir oleh pemerintah AS. Langkah ini menandai sebuah inovasi penting dalam pengelolaan perusahaan teknologi lintas negara dan menunjukkan bagaimana perusahaan berbasis teknologi dapat menyesuaikan diri dengan regulasi yang ketat sambil menjaga bisnis tetap berjalan di pasar global yang strategis.
22 Jan 2026, 18.40 WIB

Melissa Siska Juminto Jadi Komisaris Tokopedia dan TikTok Usai PHK Besar-besaran

Tokopedia dan TikTok E-commerce baru-baru ini mengumumkan perubahan penting di jajaran pimpinan mereka. Melissa Siska Juminto, yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur, mengakhiri masa jabatannya untuk melanjutkan aspirasi pribadi dan kemudian diangkat sebagai komisaris perusahaan. Perubahan ini terjadi beberapa hari setelah pengumuman berakhirnya masa jabatan Melissa sebagai presiden direktur. Namun, belum ada informasi resmi mengenai siapa yang akan menggantikan posisinya di puncak pimpinan. Sejak akuisisi Tokopedia oleh TikTok, perusahaan menghadapi tantangan besar dalam mengintegrasi dua platform e-commerce besar di Indonesia ini. Untuk menghadapi persaingan ketat, mereka melakukan efisiensi, termasuk PHK sekitar 420 karyawan pada Agustus 2025, yang sebagian besar berasal dari divisi IT, customer care, hingga gudang. Manajemen menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan misi pemerataan ekonomi digital dan pemberdayaan UMKM dengan teknologi. Mereka berterima kasih atas kontribusi Melissa dalam memajukan perusahaan dan ekonomi digital di Indonesia. Langkah efisiensi dan perubahan kepemimpinan ini menandai fase penting dalam upaya Tokopedia dan TikTok E-commerce untuk menguatkan posisi mereka di pasar e-commerce Indonesia yang sangat kompetitif dan dinamis.
21 Jan 2026, 14.25 WIB

Reels Instagram Jadi Mesin Uang Baru Meta, Tapi Ada Tantangan Monetisasi

Meta Platforms, pemilik Instagram, kini mengandalkan fitur Reels sebagai sumber pendapatan baru yang sangat signifikan. Reels adalah video pendek dengan format vertikal yang sangat populer di kalangan pengguna, terutama di Amerika Serikat. Popularitas ini mendorong Meta mendapatkan sebagian besar iklan mereka dari format video ini pada tahun-tahun mendatang. Menurut data dari Sensor Tower, iklan yang ditayangkan melalui Reels diperkirakan akan mewakili lebih dari 50% dari total iklan di Instagram pada tahun 2025, meningkat drastis dari 35% pada tahun 2024. Hal ini juga tercermin dari durasi waktu yang dihabiskan oleh pengguna untuk menonton Reels yang terus meningkat tiap tahunnya. Meski Reels mendapatkan perhatian besar, CEO Meta Mark Zuckerberg mengakui bahwa monetisasi video ini masih lebih rendah dibandingkan dengan feed utama Instagram. Hal ini disebabkan karena meskipun Reels meningkatkan keterlibatan, waktu yang dialokasikan pengguna untuk feed berkurang sehingga berdampak pada pendapatan secara keseluruhan. Teknologi Artificial Intelligence (AI) memberikan peran utama dalam sistem rekomendasi Reels yang dapat menghadirkan konten secara personal, membuat pengguna betah menonton lebih lama. Ini membantu pengiklan mendapatkan hasil lebih baik dari tayangan iklan yang relevan dengan preferensi masing-masing pengguna. Peningkatan pengguna aktif harian Instagram sebesar 2% juga didorong oleh pertumbuhan Reels. Dengan tren ini, Meta harus terus mengembangkan strategi untuk meningkatkan monetisasi agar bisa memanfaatkan potensi besar dari video vertikal yang semakin digemari masyarakat.

Baca Juga

  • Konsolidasi Strategis Perusahaan Elon Musk dan Pengaruh Globalnya

  • Balapan Penerbangan China: Meningkatkan Pesawat Dalam Negeri dan Meninjau Peran Pilot

  • Kreator Mengkritisi Paradigma Baru TikTok

  • Pergantian Kepemimpinan di Arena E-Commerce Indonesia

  • Revolusi Legal Tech Berbasis AI: Transformasi Inteligensi Kontrak